SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Serang segera melakukan uji coba Program Liga Desa Fiskal. Program itu diharapkan akan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah di tingkat desa.
Uji coba Program Liga Desa Fiskal akan menyasar 29 desa dari 29 kecamatan. Artinya, setiap kecamatan wajib menunjuk desa perwakilan tiap kecamatan.
Kepala Bapenda Kabupaten Serang, Lalu Farhan Nugraha, mengungkapkan bahwa pihaknya telah membuat sistem untuk Liga Desa Fiskal, sehingga tinggal melakukan uji coba.
Namun, pihaknya akan melihat dahulu trend retribusi pajak di triwulan kedua.
“Komponen apa yang mau kita masukkan sebagai dasar daripada desa itu bisa menggali potensinya, karena setiap desa punya kekuatan yang berbeda. Jadi kita petakan dulu ke mana fokusnya, kalau misalnya ke BHPRD berarti seluruh objek pajak yang kemudian dikenakan pajaknya untuk peningkatan pendapatan desa,” katanya, Jumat, 5 Juni 2026.
Farhan mengatakan, inovasi Liga Desa Fiskal bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, serta menggerakkan seluruh desa untuk bisa memperdayakan potensinya masing-masing.
Apabila potensi pajak di desa bisa dikembangkan dengan baik, tentunya akan melahirkan potensi desanya, bisa menjadi tempat wisata, maupun tempat usaha lainnya, yang dapat juga mendatangkan para investor agar bisa menanamkan modalnya di desa.
“Kita melihat bahwa saat ini pembangunan daerah dimulainya dari desa, maka ini berbanding lurus dengan apa yang menjadi keinginan pemerintah daerah. Dengan begitu, BHPRD-nya pasti akan meningkat dan ketika BHPRD meningkat, desa pasti akan sejahtera,” ujarnya.
Farhan mengungkapkan, uji coba Liga Desa Fiskal bisa berjalan cukup baik jika melibatkan seluruh desa.
“Kita akan uji coba dulu satu kecamatan satu desa, berarti ada 29 desa, ini bagian dari mengatasi rendahnya penyaluran pajak di desa. Jadi biar desa bergerak semua, pemuda desa semuanya bergerak melihat potensi, dan kepala desanya itu berinovasi, bertransformasi untuk memudahkan proses pembayaran dengan sistem digitalisasi,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono








