LEBAK,RADARBANTEN.CO.ID-Keterampilan tangan dan ketekunan seorang perajin tradisional asal Kampung Pulokempis, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, membuahkan hasil membanggakan.
Ansori, perajin golok dan pisau yang telah menekuni kerajinan ini selama puluhan tahun, kini berhasil menembus pasar nasional. Produk buatannya banyak diminati pelanggan dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.
Golok buatan Ansori terkenal akan kualitas dan ketajamannya, sekaligus memiliki nilai estetika tinggi. Tak hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari di pedesaan, kini golok produksinya juga dikoleksi oleh para pecinta senjata tradisional dan dijadikan cendera mata eksklusif.
“Alhamdulillah, pesanan datang dari berbagai daerah. Ada yang beli untuk dipakai kerja, ada juga yang buat koleksi. Rata-rata mereka suka karena hasil buatan tangan dan bilahnya kuat,” ujar Amsori saat ditemui di bengkel kerajinannya, Senin 26 Mei 2025.
Menurut Ansori, bahan baku golok dan pisau ia peroleh dari baja bekas kendaraan dan per daun per mobil. Baja tersebut diproses melalui teknik tempa tradisional, sehingga menghasilkan bilah yang tajam, kuat, dan tahan lama.
“Yang paling penting itu ketekunan dan detail. Mulai dari menempa, membentuk, sampai ke pegangan, semua saya kerjakan sendiri. Pegangannya juga pakai kayu pilihan seperti kayu bungur dan sonokeling, biar kelihatan klasik dan awet,” jelasnya.
Ansori mengaku sudah menjalankan usaha ini sejak usia belasan tahun, meneruskan keterampilan turun-temurun dari keluarganya. Awalnya, golok hasil buatannya hanya dijual di pasar-pasar lokal dan kepada warga sekitar. Namun, berkat media sosial dan promosi dari mulut ke mulut, jangkauan pasarnya kini makin luas.
“Dulu jualnya di pasar saja. Tapi sekarang banyak yang pesan lewat online. Bahkan ada pelanggan dari luar Jawa yang minta dikirimin. Pernah juga dikirim ke Bali dan Kalimantan,” katanya dengan bangga.
Keunikan golok buatan Amsori terletak pada ukiran dan bentuk bilah yang khas, mencerminkan identitas budaya Banten. Beberapa pelanggannya bahkan memesan secara khusus dengan desain tertentu, seperti motif kujang atau kombinasi golok modern dengan gagang tradisional.
Selain golok, Amsori juga membuat berbagai jenis pisau dapur dan pisau serbaguna yang banyak digunakan oleh ibu rumah tangga dan pedagang kuliner. Ia menyebut bahwa produk pisau juga mulai mendapatkan tempat di hati pelanggan karena harganya terjangkau namun tetap berkualitas.
Harga golok dan pisau buatan Amsori bervariasi, mulai dari Rp150.000 hingga jutaan rupiah tergantung jenis, ukuran, dan tingkat kerumitan. Ia mengaku tak hanya mengejar keuntungan, tapi juga ingin menjaga warisan budaya agar tetap lestari.
“Bagi saya, ini bukan cuma soal bisnis. Tapi juga melestarikan budaya golok Banten yang sudah dikenal sejak dulu. Saya ingin anak-anak muda juga tertarik belajar, supaya kerajinan ini tidak punah,” ucapnya.
Ansori berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk mendukung dan mempromosikan hasil karya perajin lokal seperti dirinya. Ia yakin, jika diberi pelatihan, alat modern, dan akses pasar yang lebih luas, para perajin di Lebak bisa bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
“Kalau ada pelatihan, bisa tambah ilmu. Kalau alatnya bagus, hasilnya bisa lebih banyak. Kami butuh dukungan juga supaya usaha kecil seperti ini bisa berkembang,” tuturnya.
Kini, bengkel sederhana Ansori di Kampung Pulokempis menjadi saksi perjalanan seorang perajin tradisional yang berhasil membawa nama Lebak melalui bilah golok dan pisau yang tajam, kuat, dan sarat nilai budaya.
Reporter : Nurandi
Editor: AGung S Pambudi











