CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita. Namun, tidak semua mampu mewujudkannya karena berhenti pada sebatas angan-angan (âmâl), bukan tekad kuat (‘azm) yang melahirkan rencana nyata.
Islam memandang bahwa untuk meraih keberhasilan, dibutuhkan manajemen waktu yang baik. Tidak hanya keinginan besar.
Hal itu disampaikan Dr Wardani dalam tulisannya yang dimuat di laman resmi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya persoalan kecerdasan, tetapi juga kemampuan mengatur waktu secara bijak dan sesuai tuntunan syariat.
“Yang membedakan antara sekadar bermimpi dan benar-benar menuju cita-cita adalah adanya tekad yang kuat, serta rencana yang tersusun baik. Setelah itu, pelaksanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan evaluasi menjadi kunci berikutnya,” tulis Dr Wardani.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: Inna al-shalât kânat ‘alâ al-mu`minîn kitâban mawqûtan (QS. An-Nisa: 103)
“Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Artinya, salat yang dilakukan di luar waktu tidak lah sah, kecuali dengan alasan yang dibenarkan seperti di-qadhâ’.
Begitu pula ibadah haji yang dilakukan di luar musimnya, menjadi tidak sah.
Hal itu menunjukkan betapa pentingnya disiplin waktu dalam menjalankan ajaran agama Islam.
Dr Wardani juga menekankan pentingnya memahami fiqh al-awlawiyyah atau skala prioritas.
Dalam kehidupan, umat Islam harus mampu membedakan mana kewajiban yang harus segera dilaksanakan dan mana yang bisa ditunda
Menariknya, Nabi Muhammad SAW memberikan teladan tentang pembagian waktu yang ideal dalam sehari semalam.
Rasulullah membagi waktu 24 jam menjadi tiga bagian, masing-masing delapan jam.
Delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk beribadah, dan delapan jam untuk istirahat.
Dr Wardani menjelaskan, pembagian ini tidak bersifat kaku, tetapi memberi gambaran betapa pentingnya keseimbangan dalam menjalani hidup.
Bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 merupakan waktu yang proporsional.
Istirahat sejak pukul 21.00 hingga subuh memberi tubuh kesempatan untuk pulih.
Sisanya, digunakan untuk ibadah yang tidak semata ritual, tapi juga aktivitas yang dilandasi niat ibadah.
“Sering kali kita abai bahwa ibadah bukan hanya shalat, zikir, atau puasa. Bekerja yang diniatkan karena Allah pun termasuk ibadah. Maka dari itu, niat menjadi fondasi penting dalam manajemen waktu islami,” paparnya.
Editor: Agus Priwandono










