PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang mengungkap, digitalisasi di sektor pariwisata daerah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam hal sistem reservasi online.
Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata pada Disparbud Pandeglang, Rosy Sukmawaty, mengatakan tingkat penggunaan reservasi digital di destinasi wisata baru mencapai kisaran 10 hingga 20 persen.
“Angka ini masih jauh dari harapan. Padahal sistem reservasi online bisa membantu pencatatan kunjungan, hitungan anggaran masuk, sampai pencegahan praktik kecurangan,” kata Rosy Sukmawaty, Minggu, 20 Juli 2025.
Menurut Rosy, penggunaan sistem digital juga memungkinkan pencatatan biaya secara real-time serta membantu pengaturan kunjungan di destinasi yang ramai. Dengan begitu, manajemen pengunjung bisa lebih tertib dan efisien.
Ia menyebutkan bahwa sejak Desa Wisata Sukarame ditetapkan sebagai Desa Wisata Digital pada 2021, Disparbud Pandeglang terus mendorong pelaku wisata lainnya untuk mengikuti langkah tersebut.
Namun, hingga kini adopsi digitalisasi masih terbatas.
“Hotel dan homestay sudah mulai pakai sistem online. Tapi untuk destinasi mass tourism, transaksi masih dominan tunai,” ucapnya.
Kendala utama dalam pengembangan digitalisasi, kata Rosy, adalah belum meratanya infrastruktur internet di lokasi wisata, khususnya yang berada di wilayah pelosok.
“Jaringan internet belum stabil di semua lokasi. Solusinya bisa pakai Starlink, tapi itu biayanya cukup mahal,” jelasnya.
Tak hanya itu, menurut Rosy, ada juga pelaku wisata yang belum siap membuka transparansi harga tiket dan pendapatan, padahal sistem digital justru meningkatkan kepercayaan pengunjung.
Untuk mendorong percepatan, Disparbud Pandeglang menggelar pelatihan dan sosialisasi kepada pengelola wisata melalui forum-forum peningkatan kapasitas SDM.
“Kita selalu tekankan pentingnya digitalisasi dalam setiap pelatihan. Narasumber pun kita pilih yang fokus pada pemasaran digital,” katanya.
Selain sistem reservasi, pihaknya juga mendorong penggunaan QRIS untuk transaksi. Hal ini dinilai dapat mempermudah pengelolaan keuangan pelaku usaha wisata.
Disparbud Pandeglang menargetkan, pada 2026 setidaknya 50 persen destinasi wisata di Pandeglang telah menerapkan sistem reservasi digital.
“Kami optimistis ini bisa tercapai jika infrastruktur terus ditingkatkan,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











