SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pembersihan radiasi nuklir jenis Cesium-137 (Cs-137) di wilayah Cikande dan Kibin, Kabupaten Serang, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengungkap bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menuntaskan proses remediasi akibat luasnya area paparan dan keterbatasan tenaga manusia.
Tak main-main, ada 7 hingga 8 titik yang telah teridentifikasi mengandung radioaktif. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru, apakah zat berbahaya ini bisa menyebar lebih jauh sebelum dibersihkan?
“Nggak berhenti sampai penyegelan, tetapi sampai pembersihan dan remediasi. Karena tetap ada bahaya,” kata Abdul Qohhar, Pranata Humas Ahli Madya Bapeten, Senin 8 September 2025.
Namun ironisnya, upaya pembersihan itu tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh Bapeten sendiri. Jumlah personel yang terbatas dan prosedur keselamatan radiasi yang ketat membuat pekerjaan ini sangat kompleks dan berisiko tinggi.
“Enggak mungkin teman-teman di Bapeten yang kerja sendiri membersihkan itu. Pasti kan perlu pengarahan sumber daya manusia. Dan itu bukan kewenangan Bapeten,” lanjut Qohhar.
Zat radioaktif Cs-137 memiliki kemampuan memancarkan radiasi berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan manusia, bahkan dalam dosis kecil. Lebih parahnya, kata Qohhar, paparan bagi petugas pembersih pun harus dihitung dengan cermat agar tak melewati batas aman, yakni 1.000 mikrosievert per tahun.
“Kalau misal dalam 1 jam berada di situ itu seseorang itu menerima dosis 150 mikrosievert berarti kita harus ngitung waktu aman setiap petugas,” tegasnya.
Bayangkan, untuk membersihkan satu titik saja, diperlukan rotasi personel yang sangat ketat. Belum lagi faktor cuaca seperti hujan, yang bisa menyebarkan partikel Cs-137 ke wilayah lain jika tak segera ditangani.
Editor : Merwanda












