Tanggal 2 Juni 2026 ini, Radar Banten genap berusia 26 tahun.
Bukan usia yang pendek.
Kalau diibaratkan manusia, sudah bukan anak-anak lagi. Sudah melewati masa remaja. Sudah cukup umur untuk memahami bahwa perjalanan panjang tidak pernah dilewati tanpa luka, tanpa keringat, tanpa rasa lelah.
Bagi saya yang ikut mengalami perjalanan itu, angka 26 bukan sekadar angka.
Di dalamnya ada banyak cerita.
Ada kerja keras.
Ada optimisme.
Ada masa-masa sulit.
Ada masa-masa ketika semuanya terasa ringan.
Ada juga masa ketika rasanya berat sekali.
Ketika Radar Banten pertama kali terbit pada 2 Juni 2000, suasana Serang masih jauh berbeda dibanding sekarang.
Saat itu masih Kabupaten Serang. Banten juga masih menjadi bagian dari Jawa Barat.
Jalannya masih lengang.
Belum banyak kendaraan.
Belum ada deretan kafe seperti sekarang.
Belum ada suara knalpot yang bersahutan hampir setiap malam.
Belum ada keramaian yang hari ini kita anggap biasa.
Di tengah suasana itulah Radar Banten lahir.
Membawa keyakinan sederhana bahwa orang Banten membutuhkan medianya sendiri.
Media yang berbicara tentang Banten.
Menulis tentang Banten.
Dan mendengar suara orang Banten.
Karena saat itu informasi tentang Banten masih sangat terbatas.
Kalau pun ada, sering kali hanya menjadi berita kecil di media yang terbit dari luar daerah.
Saya masih sering mendengar cerita dari para tokoh yang mengalami masa itu.
Mereka bersyukur ketika Radar Banten hadir.
Salah satu kalimat yang paling sering saya dengar begini:
“Dulu mah berita Banten paling cuma sebesar kotak korek.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup menggambarkan keadaan saat itu.
Radar Banten ikut mengakhiri masa paceklik informasi tentang Banten.
Pada waktu yang hampir bersamaan, semangat pembentukan Provinsi Banten juga sedang menguat.
Diskusi ada di mana-mana.
Aspirasi berkembang.
Demonstrasi digelar.
Lobi politik dilakukan.
Para tokoh bergerak.
Ada yang berada di garis depan.
Ada yang bekerja di belakang layar.
Ada yang bergerak lewat jalur politik.
Ada yang lewat jalur organisasi.
Ada yang lewat jalur keagamaan.
Hari ini banyak di antara mereka yang sudah wafat mendahului kita.
Uwes Qorni.
Triyana Syam’un.
Irsad Djuweli.
Muchtar Mandala.
Tb Chasan Sochib.
Tb Aat Ayafaat.
Eky Syahrudin.
HMA Tihami.
Tb Ismetullah Al-Abbas.
Aceng Ishak.
Jajat Mujahidin.
Iwa Tuskana.
Ada juga yang masih aktif dan sehat hingga hari ini. KH Embay Mulya Syarif. Ali Yahya. Udin Safarudin. Mulyadi Jayabaya.
Tentu masih banyak nama lain.
Jauh lebih banyak daripada yang saya tulis di sini.
Kalau ada yang tidak disebut, bukan karena jasanya lebih kecil.
Semata-mata karena saya sedang menulis berdasarkan apa yang terlintas dalam ingatan saat saya menulis ini.
Lagi pula saya tidak sedang menulis sejarah lahirnya Provinsi Banten.
Saya hanya sedang mengingat sebagian orang yang pernah saya temui, saya wawancarai, dan saya saksikan menjadi bagian dari perjalanan itu.
Yang pasti, jejak mereka tetap menjadi bagian dari sejarah lahirnya Provinsi Banten.
Dan Radar Banten hadir di saat yang memang dibutuhkan.
Merekamnya.
Menuliskannya.
Mengabarkannya kepada masyarakat.
Dua puluh enam tahun kemudian, Banten berubah sangat jauh.
Jalan bertambah panjang. Jalan rusak makin sedikit.
Kota bertambah ramai.
Industri tumbuh.
Investasi terus berdatangan.
Perguruan tinggi berkembang.
Untirta yang dulu swasta berubah menjadi perguruan tinggi negeri.
Anak-anak yang lahir saat Radar Banten pertama kali terbit, hari ini sudah banyak yang bekerja. Bahkan ada yang sudah berkeluarga.
Banten terus bergerak.
Dan Radar Banten ikut menyaksikan proses itu dari dekat.
Tetapi seperti Banten yang terus berubah, dunia media juga berubah.
Bahkan mungkin lebih cepat.
Kalau dulu tantangan terbesar adalah mengajak orang membeli dan membaca koran, sekarang tantangannya jauh lebih rumit.
Teknologi berubah.
Cara orang membaca berubah.
Cara orang mendapatkan informasi berubah.
Model bisnis media juga berubah.
Semuanya datang hampir bersamaan.
Kami pun cepat menjawab perubahan itu. Adaptif dengan keadaan. Koran tetap terbit. Pembacanya masih banyak. Tingkat kepercayaan masih tinggi. Media online diperkuat. Media sosial terus dikembangkan.
Kalau dulu cukup mengemudikan perahu kecil, sekarang harus mengendalikan kapal yang jauh lebih besar.
Awaknya lebih banyak.
Tanggung jawabnya lebih besar.
Risikonya juga lebih besar.
Karena media bukan hanya soal perusahaan.
Di dalamnya ada manusia.
Ada keluarga.
Ada wartawan.
Ada editor.
Ada bagian pemasaran.
Ada percetakan.
Ada distribusi.
Ada administrasi.
Ada bagian keuangan.
Ada petugas keamanan.
Ada petugas kebersihan.
Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sana.
Karena itu, ketika berbicara tentang keberlangsungan media, sesungguhnya yang dibicarakan bukan hanya soal bisnis.
Tetapi juga soal lapangan kerja.
Soal penghidupan banyak orang.
Soal menjaga agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap informasi yang dapat dipercaya.
Karena itu pula media sebaiknya tidak dilihat terlalu sempit.
Media bukan sekadar tempat memasang iklan.
Bukan sekadar tempat publikasi kegiatan.
Media adalah bagian dari ekosistem pembangunan.
Media membantu menyampaikan informasi kebijakan.
Media membantu membangun optimisme investasi.
Media membantu menjembatani pemerintah dan masyarakat.
Media juga ikut mengawasi agar roda pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya.
Kami percaya pemerintah memiliki niat baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
MBG misalnya.
Program yang menelan anggaran sangat besar itu tidak hanya dirancang untuk urusan makan bergizi.
Di dalamnya ada banyak tujuan lain.
Meningkatkan kesehatan.
Membuka lapangan kerja.
Menggerakkan ekonomi rakyat.
Meningkatkan pendapatan masyarakat.
Satu program untuk menjawab banyak persoalan sekaligus.
Menurut saya, media juga perlu dilihat dengan cara seperti itu.
Karena di balik satu perusahaan media, ada banyak dapur yang harus tetap mengepul.
Ada banyak keluarga yang harus dijaga.
Ada banyak pekerja yang berharap roda usaha tetap berputar.
Dan ada masyarakat yang membutuhkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Sejak awal berdiri sampai hari ini, Radar Banten selalu berusaha menempatkan diri sebagai mitra pembangunan.
Mitra yang ikut tumbuh bersama Banten.
Mitra yang ikut menyampaikan kabar baik ketika ada kemajuan, dan ikut mengingatkan ketika ada yang perlu diperbaiki.
Mitra yang ikut mengawal perjalanan daerah ini sejak sebelum Provinsi Banten lahir sampai hari ini.
Kalau Radar Banten masih berdiri sampai hari ini, itu bukan karena kami berjalan sendirian. Ada banyak orang baik yang ikut menjaga, membantu, mengingatkan, dan memberi kepercayaan. Untuk semuanya, terima kasih.
Perjalanan 26 tahun tentu belum sempurna. Masih banyak kekurangan.
Masih banyak yang harus diperbaiki.
Tetapi ada satu hal yang tidak berubah sejak pertama kali terbit pada 2 Juni 2000.
Radar Banten akan terus berusaha menjadi bagian dari perjalanan Banten.
Karena sejak awal, Radar Banten memang tumbuh bersama Banten.
Selamat ulang tahun ke-26, Radar Banten. Kuat. Kompak. Bertumbuh.
Perjalanan masih panjang.
Dan layar masih terus terkembang. (*)











