CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Di balik medali emas yang diraihnya pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Banten 2026, tersimpan perjuangan panjang dan penuh pengorbanan dari seorang atlet muda asal Kota Cilegon, Dzaka Faiq Ramadan.
Remaja berusia 15 tahun yang kini duduk di bangku kelas X SMAIT Raudhatul Jannah itu sukses meraih medali emas pada cabang olahraga gulat kelas 48 kilogram setelah memenangkan pertandingan final yang digelar pada Selasa, 16 Juni 2026.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian membanggakan bagi kontingen Kota Cilegon. Namun, keberhasilan itu tidak diraih dengan mudah. Selama tiga bulan masa persiapan, Dzaka harus menjalani latihan fisik intensif sekaligus menjaga berat badan agar tetap berada di kelas yang dipertandingkan.
Untuk mempertahankan berat badan di kelas 48 kilogram, Dzaka menerapkan metode Intermittent Fasting (IF) secara ketat. Ia hanya makan satu kali dalam sehari, sementara intensitas latihannya mencapai dua kali sehari.
“Tantangan terbesarnya adalah konsisten menurunkan berat badan dengan cara makan satu kali sehari dan latihan dua kali sehari,” ungkap Dzaka.
Dalam jendela makan yang terbatas, ia hanya mengonsumsi tiga hingga lima butir telur rebus dan satu buah ubi kukus. Selama masa persiapan, ia menghindari makanan yang mengandung gula, tepung, minyak, serta berbagai sumber karbohidrat lainnya.
Bahkan, dua pekan menjelang pertandingan, Dzaka mulai mengurangi konsumsi air minum untuk menjaga kestabilan berat badannya. Pola makan yang sangat ketat tersebut sempat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaannya.
Tantangan yang dihadapi Dzaka tidak berhenti di situ. Masa persiapan menuju POPDA Banten 2026 juga bertepatan dengan pelaksanaan Sumatif Akhir Tahun (SAT) di sekolahnya. Di tengah kelelahan akibat latihan yang berlangsung setiap hari dari pukul 16.00 hingga 20.30 WIB, ia tetap harus membagi waktu untuk belajar dan menghadapi ujian akademik.
Di balik keberhasilannya, terdapat dukungan besar dari sang ibu. Tidak hanya memberikan motivasi, ibunya juga berperan penting dalam menyusun pola makan serta memastikan kebutuhan nutrisi Dzaka tetap terpenuhi selama menjalani program penurunan berat badan.
Karena itu, setelah wasit memastikan kemenangan dalam laga final yang berlangsung sengit melawan atlet asal Kabupaten Serang, sosok pertama yang ingin ia peluk adalah sang ibu.
Meski baru saja meraih prestasi di tingkat daerah, Dzaka belum berambisi terlalu jauh untuk langsung menargetkan ajang yang lebih tinggi. Atlet muda yang mulai tertarik pada olahraga gulat karena kegemarannya membaca komik aksi, menonton film, dan bermain gim ini memilih untuk tetap fokus menyeimbangkan prestasi olahraga dan pendidikan.
Ia pun membagikan pesan motivasi bagi para atlet muda yang tengah berjuang mengejar impian.
“Menjadi juara bukan tentang siapa yang paling berbakat, tetapi siapa yang mampu bertahan ketika proses terasa paling berat. Rasa sakit karena berjuang hanya sementara, sedangkan rasa sakit karena penyesalan bisa bertahan seumur hidup,” pungkas Dzaka.
Editor: Mastur Huda











