Oleh: Firman Gumilar Sudayat Praktisi Mining, Smelter, Manufacturing & Industrial Supply Chain
RADARBANTEN.CO.ID – Ketika Indonesia berbicara mengenai hilirisasi, pembicaraan hampir selalu mengarah kepada satu kata: nikel. Kita berbicara mengenai cadangan nikel, pembangunan smelter, investasi, baterai kendaraan listrik dan ambisi Indonesia menjadi bagian penting dari rantai pasok industri global.
Namun ada satu pertanyaan yang menurut saya belum mendapatkan perhatian yang sebanding:Jika Indonesia ingin menjadi pusat pengolahan nikel dunia, apakah kita sudah memiliki ketahanan pasokan bahan kimia yang dibutuhkan untuk mengolahnya?
Salah satu jawabannya adalah asam sulfat atau Sulfuric Acid (H₂SO₄).Bagi masyarakat umum, asam sulfat mungkin lebih dikenal sebagai bahan kimia yang sangat korosif. Tetapi bagi industri, asam sulfat adalah salah satu bahan kimia dasar yang sangat penting.Dan dalam perkembangan industri nikel Indonesia, perannya menjadi semakin strategis.
Hilirisasi tidak hanya membutuhkan bijih
Indonesia memiliki sumber daya nikel yang besar. Namun bijih yang berada di dalam tanah tidak otomatis berubah menjadi produk bernilai tinggi. Diperlukan teknologi, energi, air, reagent, tenaga kerja, infrastruktur dan berbagai bahan pendukung.
Salah satu teknologi yang berkembang untuk pengolahan nikel laterit adalah High Pressure Acid Leach (HPAL). Sesuai namanya, proses tersebut menggunakan asam untuk membantu mengekstraksi kandungan logam dari material yang diolah. Artinya, semakin banyak fasilitas HPAL yang dibangun dan beroperasi, semakin penting pula keberadaan pasokan asam.
CRU mencatat kebutuhan acid yang berkaitan dengan industri nikel Indonesia meningkat sangat cepat, dari sekitar 3,5 juta ton per tahun pada 2021 menjadi sekitar 16 juta ton per tahun pada 2025. Pada saat yang sama, kebutuhan Indonesia terhadap sulfuric acid telah mendorong impor sekitar 1 juta ton pada 2025. Angka tersebut seharusnya membuat kita melihat hilirisasi dari sudut pandang yang sedikit berbeda.Selama ini kita menghitung kapasitas smelter.
Kita menghitung produksi nikel. Kita menghitung investasi. Tetapi kita juga perlu menghitung:berapa banyak bahan kimia yang diperlukan untuk membuat seluruh mesin hilirisasi tersebut tetap berjalan?
Asam sulfat sebagai bagian dari supply chain strategis
Sebuah smelter tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan rantai pasok. Ada bahan baku. Ada energi. Ada air. Ada reagent. Ada spare part. Ada transportasi. Ada pelabuhan. Dan ada bahan kimia.
Ketika salah satu komponen tersebut terganggu, persoalannya dapat merambat ke proses produksi.Inilah alasan mengapa asam sulfat seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sebuah komoditas.
Untuk industri tertentu, ia merupakan critical input.Harga tentu penting. Tetapi ketersediaan jauh lebih penting ketika sebuah fasilitas membutuhkan pasokan secara kontinu.
Bahan yang murah tetapi tidak tersedia pada saat dibutuhkan dapat menjadi jauh lebih mahal daripada bahan yang harganya sedikit lebih tinggi tetapi tersedia secara konsisten.
Indonesia semakin terhubung dengan pasar global
Kebutuhan asam sulfat Indonesia juga menunjukkan bahwa perkembangan industri domestik semakin terhubung dengan pasar bahan baku dunia. Produksi asam sulfat tidak terlepas dari ketersediaan sulfur. Dan Indonesia sendiri semakin aktif di pasar sulfur global.
Argus mencatat impor sulfur Indonesia mencapai sekitar 5,35 juta ton pada 2025, meningkat 48 persen dibandingkan 2024. Pada tahun yang sama, impor sulfuric acid Indonesia sekitar 1,09 juta ton.Artinya, kita tidak hanya berbicara tentang nikel.
Kita berbicara tentang sebuah rantai industri yang menghubungkan:sulfur → sulfuric acid → smelter → produk nikel → industri hilir.Ketika satu bagian dari rantai tersebut terganggu, dampaknya dapat terasa pada bagian lainnya.
Jadi, apakah Indonesia kekurangan asam sulfat?Jawabannya tidak sesederhana “cukup” atau “tidak cukup”. Indonesia telah meningkatkan kapasitas produksi domestik, termasuk melalui fasilitas yang terintegrasi dengan operasi industri.
Namun pertumbuhan kebutuhan, khususnya yang berkaitan dengan nikel dan HPAL, membuat impor tetap menjadi bagian penting dari supply mix Indonesia. CRU mencatat pasokan domestik meningkat, tetapi kebutuhan acid masih tumbuh lebih cepat.
Menurut saya, persoalan yang lebih tepat untuk dibahas bukan apakah Indonesia harus berhenti mengimpor.Pertanyaannya adalah:Apakah Indonesia memiliki supply chain yang cukup kuat untuk memastikan kebutuhan tersebut selalu tersedia?Itulah tantangan sebenarnya.
Hilirisasi membutuhkan ekosistemIndonesia tidak cukup hanya membangun smelter.Kita juga perlu membangun ekosistem yang menopangnya. Produksi bahan kimia, storage, terminal, tanker, logistik, engineering, maintenance dan tentu saja jaringan supplier yang mampu menjaga kontinuitas.
Jika kita ingin menjadi pusat industri nikel dunia, maka kita juga harus mampu menjadi pusat supply chain industri yang kuat.Karena pada akhirnya:Hilirisasi bukan hanya tentang apa yang kita tambang. Hilirisasi juga tentang kemampuan kita menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengolah hasil tambang tersebut. Dan salah satu bagian yang semakin penting dari ekosistem tersebut adalah:asam sulfat.
Tentang Penulis
Firman Gumilar Sudayat merupakan praktisi industri dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di sektor pertambangan, manufaktur dan smelter, dengan pengalaman di bidang operasional, supply chain, procurement dan kebutuhan industri.Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan industri dan supply chain bahan kimia di Indonesia.












