SERANG – Ribua masyarskat Baduy baik Baduy Luar dan Baduy Dalam hari menjalani ritual Seba Baduy bersama Penprov Banten di halaman museum nasional Banten Sabtu malam (29/4).
Dalam kesempatan tersebut masyarakat adat yang tinggal di Desa Kanekes,  Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak tersebut meminta kepada Pemprov Banten dan pemerintah kabupaten kota untuk menjaga kelestarian alam.
Mewakili masyarskat Baduy,  Jaro Saija mengungkapkan, permintaan tersebut karena kekhawatiran masyarakat atas keberlangsungan kelestarian alam di Provinsi Banten. “Kerusakan itu ada aja,  ada yang dirusak ada yang rusak (secara alami),” ujar Jaro Saija.
Tak disebutkan seberapa luas kerusakan hutan yang terjadi. Saat dimintai keterangan seusai ritual,  Jaro Saija mengaku tidak mempunyai data luasan kerusakan tersebut.
Sesuai petuah masyarakat adat Baduy,  gunung ulah dilebur lebak ulah dirusak,  masyarakat khawatir jika petuah tersebut dilanggar akan mengakibatkan rangkaian bencana alam seperti longsor,  gempa bumi,  dan bencana lainnya.
Selain alam di lingkungan masyarakat Baduy, pemerintah pun diharapkan menjaga kelestarian disejumlah daerah yang disebut oleh masyarakat Baduy sebagai titipan dari leluhur.  “Titipan ada Gunung Karang, Pulosari, Ujung Kulon,  Sahianh Sirah,  Gunung Kembang, dan Gunung Madu,” ujarnya Jaro Saija.
Dalam kesempatan yang sama, Penjabat Gubernur Banten Nata Irawan mengungkapkan,  Pemprov Banten akan menyikapi pesan dari masyarakat adat tersebut.  “Masyarakat Baduy sudah memberikan contoh pada kita tentang pentingnya menjaga alam,  karena itu,  mari kita pun melakukan hal yang sama,” paparnya.
Menurut Nata,  tradisi Seba Baduy ini bukan hanya menarik dari sisi budaya dan wisata namun ada amanat terkait pelestarian alam. “Kita tahu masyarakat Baduy sudah terbiasa hidup ramah dengan alamnya. Banyak hal yang bisa mita tiru dari masyarakat Baduy, seperti petuah Lojor te menang dipotong,  pondok te menang disambung dimana artinya yang panjang tidak boleh dipotong dan yang pendek tidak boleh disambung,” papar Nata.
Untuk diketahui,  ritual Seba Baduy sudah dimulai sejak kemarin,  Jumat (28/4) dengan melakukan perjalanan dari Desa Kanekes menuju Pemkab Lebak di Rangkasbitung.  Ritual dilanjutkan hari ini dengan melanjutkan perjalan dari Rangkasbitung ke Kota Serang.
Tiba di Kota Serang sekira pukul 11:00, 1658 masyarakat Baduy tiba di Gor Maulana Yusuf Ciceri,  Kota Serang,  untuk beristirahat. Barulah,  pada pukul 15:00 perjalanan dilakukan dengan jalan kaki menuju museum nasional Banten atau eks Pendopo Gubernur Banten.
Setibanya di gedung yang juga merupakan salah satu peninggalan masa kolonial Belanda tersebut,  masyarakat Baduy istirahat dan dihibur dengan pertunjukan topeng dari Cisoka,  Kabupaten Tangerang hingga magrib.
Puncak Seba Baduy,  yaitu pertemuan bersama abah gede,  dalam hal ini Pj Gubernur Banten Nata Irawan dilakukan kurang lebih pada pukul 20:30 hingga pukul 21:45. Dalam pertemuan itulah masyarakat Baduy meminta agar pemerintah daerah menjaga kelestarian alam dan menyerahkan hasil bumi.
Setelah acara puncak tersebut,  hingga pagi nanti,  masyarakat Baduy akan dihibur oleh pertunjukan wayang golek yang telah disiapkan panitia.  (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)