KOSAMBI – Harap waspada, di Tangerang beredar beras beracun di pasaran. Sinyalemen itu bukan mengada-ada, setelah Polda Metro Jaya berhasil membongkar jaringan beras oplosan di sebuah gudang di area Pergudangan Pantai Indah Dadap, Blok BM No. 20, Jalan Raya Dadap Prancis Kosambi Timur, Kabupaten Tangerang. Di sana menjadi tempat produksi beras beracun tersebut.
Di gudang itu lah, AM sang pemilik gudang mengoplos beras Vietnam yang sudah tidak layak konsumsi dengan beras menir (lokal) rojolele yang selanjutnya dicampur dengan bahan kimia pemutih. Zat kimia tersebut diduga mengandung racun yang dapat menyebabkan kanker.
Pantauan wartawan, selain AM, belasan anggota Subdit Indag Polda Metro Jaya berhasil meringkus mandor serta karyawan yakni Inang, Anin dan Deddy. Ketiganya membantu AM memasarkan dan mendistribusikan beras tersebut ke sejumlah grosir dan eceran di wilayah Tangerang bahkan Jabodetabek.
Dir Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombespol Mujiono mengatakan pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat yang resah adanya beras oplosan. Berbekal informasi itu, kemudian Anggota Sub Direktorat Perindustrian Perdagangan (Subdit Indag) Polda Metro Jaya Aiptu Mangolo Siregar melakukan penyelidikan melalui uji kimia.
Saat ditelusuri distributornya, polisi langsung menggeledah, AM dan ketiga anak buahnya kepergok tengah mengoplos beras tersebut. ”Tanpa perlawanan, akhirnya keempat tersangka digiring ke kantor polisi,” ujarnya saat ekspos 900 karung beras oplosan di TKP, Selasa (26/4/2016), seperti dilansir Harian Radar Banten.
Modus operandi yang dilakukan AM adalah mengoplos tiga merek beras lokal dengan beras berkutu asal Vietnam. Ditambahkan Mujiono bahwa penggerebekan ini berkat adanya laporan yang mengatakan kalau beras yang dijual berkutu dan berbau. Tak tanggung-tanggung, dalam memuluskan aksinya, AM memberikan label Bulog di setiap karung yang dijualnya. ”Pemakaian label Bulog agar masyarakat percaya bahwa itu beras dari pemerintah,” kata Mujiono.
Kepada Harian Radar Banten, Mujiono menerangkan pabrik tersebut telah beroperasi sejak tahun 2015 lalu. Setiap bulannya mereka memproduksi hampir 30 ton lebih. Setiap karungnya dijual dengan kemasan 15 Kg. Daerah yang menjadi cakupannya adalah DKI Jakarta, Bekasi dan Tangerang. ”Ada hampir dua ribu ton lebih beras milik AM sudah berkeliaran di luar sana,” kata dia.
Dari pantauan Harian Radar Banten, AM juga meletakkan stok beras berdasarkan letaknya masing-masing. Dari kasat mata, beras yang dioplos tak berbeda jauh dengan yang lain. Namun, saat dicium bau pemutih dan karbol sedikit tercium dan berwarna putih janggal.
Sementara Kasudit Indag I Polda Metro Jaya AKBP Agung Marlianto B mengatakan beras yang tercampur bahan kimia akan berakibat fatal terhadap kesehatan. Selain masalah pencernaan, siapapun yang mengonsumsi beras ini akan menderita kanker hingga kematian langsung. ”Zat yang ada di dalam beras oplosan tidak bisa dicerna oleh tubuh hingga merusak alat pencernaan kita,” pungkasnya. (Togar Harahap/Radar Banten)









