RANGKASBITUNG – Sebanyak 1.317 orang warga adat Baduy mengikuti tradisi tahunan Seba Baduy ke Pendopo Bupati Lebak. Dari 1.317 orang, sebanyak 1.301 berasal dari Baduy Luar, sedangkan 16 orang merupakan warga adat Baduy Dalam yang masih memegang tradisi para leluhur.
Pantauan Harian Radar Banten di Pendopo Bupati Lebak, ribuan warga Baduy Luar berdatangan ke kantor Iti Octavia Jayabaya. Mereka kemudian duduk santai di taman dan sekitar Alun-alun Rangkasbitung. Kehadiran warga Baduy mengundang perhatian masyarakat. Bahkan, sejumlah wisatawan mancanegara ikut menyaksikan tradisi tahunan masyarakat adat Baduy tersebut.
Asisten Daerah (Asda) IV Setda Lebak Tajudin Yamin menyatakan, rombongan Baduy Dalam dipimpin Ayah Mursyid dan Baduy Luar dipimpin Jaro Saija. Masyarakat Baduy Dalam berpakaian putih dan jalan kaki dari Ciboleger sampai ke Rangakasbitung. Sementara itu, Warga Baduy Luar berpakaian hitam-hitam. Mereka diangkut menggunakan mobil dari Ciboleger sampai ke Rangkasbitung. “Baduy Dalam berangkat dari Ciboleger pukul lima (05.00 WIB-kemarin). Mereka jalan kaki menyusuri Jalan Ciboleger-Leuwidamar serta Jalan Raya Leuwidamar,” kata Tajudin kepada wartawan, Jumat (13/5).
Dijelaskannya, Seba Baduy merupakan tradisi masyarakat adat yang telah dilaksanakan secara turun-temurun. Mereka tiap tahun membawa hasil bumi untuk diserahkan kepada pemimpin di Lebak dan Banten. Tradisi tersebut merupakan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Lebak. Untuk itu, pelaksanaan Seba Baduy akan dikemas dengan baik sehingga bisa mengundang wisatawan lokal maupun mancanegara. “Kita ingin, Seba Baduy menjadi wisata budaya yang bisa menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri,” harapnya.
Setelah menggelar seba di Pendopo Bupati Lebak, masyarakat adat Baduy akan menyerahkan hasil bumi kepada Gubernur Banten. Mereka akan diantarkan menggunakan angkutan umum, sedangkan warga adat Baduy Dalam akan kembali jalan kaki ke Kota Serang. “Masyarakat adat Baduy memiliki tradisi unik. Mereka mempertahankan tradisi tersebut dengan cukup baik sampai sekarang,” terangnya.
Saija, Jaro Kanekes menyatakan jika ada tiga permintaan yang diutarakan warga adat kepada pemerintah. Yaitu, warga Baduy berharap kolom agama di KTP tidak dikosongkan. Mereka ingin, kolom agama diisi dengan agama orang Baduy yaitu sunda wiwitan. Kedua, kata Saija, warga Baduy meminta kepada Pemkab Lebak dan pihak keamanan untuk dilibatkan menjaga kelestarian alam di Taman Nasional Gunung Halimun. “Ketiga warga Baduy juga meminta kepada Pemkab untuk diberikan bantuan lahan seluas enam hektare untuk pertanian, karena lahan yang ada sekarang sudah sempit,” ungkap Saija.
Menanggapi permintaan warga Baduy, Bupati Iti Octavia Jayabaya menyatakan, perjuangan agar kolom agama dan kepercayaannya sudah dilakukan pemerintah sejak bupati sebelumnya. “Namun, Pemkab tidak berdaya karena keputusan mencantumkan agama sunda wiwitan bukan kewenangan pemerintah daerah, tetapi kewenangan pemerintah pusat,” katanya.
Namun demikian, lanjut Iti, Pemkab berjanji akan terus memperjuangkan aspirasi warga Baduy tersebut sehingga ke depan kolom agama di KTP masyarakat adat terisi. Terkait dengan pelibatan masyarakat adat dalam pengamanan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Iti berkomitmen akan melibatkan masyarakat Baduy. “Karena selama ini kelestarian alam kawasan taman nasional sudah dijaga dengan baik oleh masyarakat adat. Jika tidak maka kondisi lingkungan di hulu Sungai Ciujung bakal rusak, dan akhirnya berdampak terhadap lingkungan di wilayah hilir Sungai Ciujung,” jelasnya. (Mastur/Radar Banten)










