CILEGON- Abdulah (60), seorang pengawas bongkar muat menjadi korban peluru nyasar di Pelabuhan Krakatau Bandar Samudera (KBS), Jumat (13/5) malam sekira pukul 19.45. Warga Lingkungan Serang Hilir, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, tersungkur dan dibawa ke RS Krakatau Medika (RSKM) untuk menjalani perawatan.
Informasinya, saat kejadian Abdulah sedang mengawasi bongkar muat di salah satu dermaga di Pelabuhan KBS. Tiba-tiba ia mendengar letupan senjata api sebanyak sembilan kali dari arah PT Krakatau Posco. Nahas pada bunyi ledakan ke sembilan peluru tersebut mengenai bagian belakang leher Abdullah.
Awalnya, ia tak menyadari bahwa dirinya menjadi korban peluru nyasar. Setelah ia memegang leher belakang, ternyata mengeluarkan darah. Abdullah pun berteriak meminta tolong ke teman-temannya yang sedang bekerja di pelabuhan tersebut. “Saya minta teman-teman memanggil ambulans, setelah diperiksa di RSKM baru tahu kalau ada peluru bersarang di leher saya,” kata Abdullah saat ditemui di RSKM, Sabtu (14/5).
Abdulah tidak mengetahui secara jelas dari mana asal muasal peluru nyasar yang mengenai leher belakangnya. Namun, ia sempat mendengar kalau peluru nyasar itu dari salah satu petugas keamanan yang bertugas di Krakatau Posco. “Saya enggak tahu jelas sih tapi kata teman saya peluru itu berasal dari aparat pengamanan yang ada di Posco,” ujarnya.
Dikonfirmasi melalui telepon, Kapolres Cilegon AKBP Anwar Sunarjo mengakui adanya insiden tersebut. Namun, ia enggan memberi keterangan lantaran kasus tersebut ditangani Brimob Polda Banten. “Saya saya sudah terima informasi itu, tapi kasusnya sekarang ditangani oleh Brimob,” ujarnya singkat.
Kasus peluru nyasar itu, kata Kapolres, sebelumnya sempat ditangani oleh Kepolisian Sektor Keamanan Pelabuhan Banten (KSKP) Banten. Setelah insiden itu, KSKP langsung mengamankan Bhada W, petugas keamanan PT Krakatau Posco, yang pelaku peluru nyasar. “Setelah diamankan proses hukum selanjutnya ke Brimob Polda Banten,” katanya.
Terpisah, Corporate Sekretary PT Krakatau Posco Tony Harso mengakui insiden peluru nyasar itu berasal dari pistol salah satu anggota yang mengamankan Krakatau Posco. Namun ia enggan menjelaskan kronologis kejadiannya secara detail.
“Yang bersangkutan baru mengamankan Krakatau Posco selama sekira satu bulan. Sekarang kasus itu sedang diselidiki di Brimob Polda Banten, jadi tidak ada kewenangan saya menjelaskan kejadiannya,” ungkapnya.
Sedangkan, Kepala KSKP Banten AKP David Candra Bebega tidak dapat dikonfirmasi melalui telpon. Saat dikonfirmasi melalui SMS pun tidak ada jawaban. Demikian juga Wakil Kepala Satuan Brimob Polda Banten AKBP Agus Rasyid tidak dapat dikonfirmasi melalui telepon. Begitu pun saat di SMS, hingga tadi malam belum ada jawaban. (Alwan/Radar Banten)








