Angin sepoi-sepoi bertiup di pinggir pantai Bojonegara, Kabupaten Serang. Di antara ayunan ombak yang landai, Emeri (26) dan Prasaja (26), keduanya nama samaran, duduk di antara karang-karang batu di pinggir pantai. Senja itu menjadi saksi kesedihan hati pasangan yang telah bermadu kasih selama setahun. Jodoh tidak berpihak kepada mereka, lantaran Emeri akan menikah dengan Alex (30), nama samaran calon suami Emeri.
Pertemuan saat itu diniatkan untuk terakhir kali. Mereka ingin berpisah baik-baik, tapi malah tersandung batu. Lantaran terbawa suasana melow, sebuah kecupan menghiasi drama perpisahan mereka. Persoalannya, Alex tanpa sengaja melihat sejoli ini ketika sedang berciuman mesra, ow ow ow.
Takdirlah yang membuat Emeri dan Prasaja kepergok ciuman. Apalagi Alex tidak sedang memata-matai mereka. Saat adegan romantis itu terjadi, Alex sedang berjalan menuju perahu miliknya di pinggir pantai Bojonegara. Namun sebelum ia melihat perahu, Alex lebih dulu melihat bibir calon istrinya menyentuh bibir laki-laki lain. Wah wah wah, jelas panas dong hati Alex.
Sontak Alex jadi marah besar dan illfeel kepada Emeri. Celakanya lagi, kejadian ini berlangsung satu hari sebelum pernikahan mereka. Gara-gara itu, Alex naik ke panggung resepsi dengan hati dongkol. Mukanya merengut seperti kelapa baru diparut. Rasa kesalnya tidak tertahankan selama resepsi berlangsung.
Usai resepsi, amarah Alex tetap tidak mereda. Ia mengepak barang-barang lalu pergi dari rumah Emeri. Jelas saja orangtua Emeri melongo melihat sikap mantunya. Lah, bukannya siap-siap belah duren eh malah pergi.
Itu terjadi sembilan tahun lalu, kenangan ini dibagi Emeri ke Pengadilan Agama. Ia melayangkan gugatan cerai terhadap Alex dengan alasan tidak disentuh selama sembilan tahun. “Status boleh saja sudah menikah. Tapi jujur, saya belum pernah disentuh,” kata Emeri.
What, tidak disentuh sembilan tahun, lama sekali itu. Menurut Emeri, Alex tidak pernah mendatanginya lagi usai resepsi berakhir. Bahkan ketika keluarga besar mencoba untuk mendamaikan Alex, itu tidak mempan. Alex benar-benar sakit hati setelah melihat adegan ciuman mesra Emeri dan Prasaja, dengan mata kepala sendiri. “Katanya, dia tidak bisa menerima kejadian itu. Katanya, selingkuh sehari sebelum pernikahan itu yang membuatnya sangat tersinggung,” ujarnya.
Sejak hari pernikahan, baik Alex dan Emeri tidak tinggal satu rumah. Alex memilih berada di rumah orangtuanya, begitu juga Emeri. Alex tidak pernah memberikan nafkah yang menjadi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Ia pun tidak menggauli Emeri, sehingga pernikahan mereka tidak pernah menghasilkan anak. “Mau bikin anak gimana, tidur aja pisah rumah,” tegas Emeri.
Di luar dugaan, persoalan kepergok ciuman berbuntut panjang. Aksi purikan Alex membuat rumah tangga Emeri jadi tidak jelas. Lambat laun, Emeri merajut hubungan kasih kembali dengan Prasaja.
Namun kisah cinta mereka menjadi tidak sebebas sebelumnya. Status Emeri sebagai istri sah Alex membuat Emeri dan Prasaja harus pacaran sembunyi-sembunyi. “Kami jarang bertemu, kalau pun ngobrol cuma lewat SMS saja. Sekali bertemu, para tetangga langsung memperhatikan kami,” katanya.
Situasi semakin semrawut ketika Alex buka mulut tentang alasan mengapa dia tidak ingin tinggal bersama Emeri. Masyarakat pun jadi mencibir Emeri dan Prasaja, mereka jadi sensitif terhadap kedekatan mereka berdua. “Cuma berpapasan saja, tetangga langsung memperhatikan. Ibu saya juga jadi sedih, sebab tetangga membicarakan saya seolah-olah perempuan gampangan,” terangnya.
Cinta Emeri dan Prasaja sebenarnya besar. Bahkan Prasaja berkali-kali menyampaikan niatannya untuk menikah Emeri. Sayangnya, Alex menjadi penghalang terbesar niatan itu. Terlebih Alex menolak bercerai dengan Emeri, dengan alasan nyeleneh. “Waktu saya minta cerai dengan Alex, dia bilang tidak perlu cerai. Sebab dia merasa belum pernah menikah dengan saya. Jadinya status saya menggantung,” ujarnya.
Pada akhirnya, kisah cinta Emeri dan Prasaja berakhir. Tekanan dan hukuman sosial dari tetangga sekitar membuat Emeri dan Prasaja hidup dalam ketidaknyamanan. Prasaja kemudian menemukan wanita lain. Ia kemudian menikahi perempuan itu. “Prasaja sudah menikah, Alex juga sudah menikah lagi. Tapi dia tetap tidak mau menceraikan saya. Saya akhirnya terkatung-katung selama sembilan tahun terakhir ini,” jelasnya.
Sampai akhirnya Emeri mendapat pencerahan tentang berbagai hal seputar perceraian. Ia mendapat penjelasan jika dalam gugatan perceraian dapat dilakukan secara verstek atau tanpa kehadiran tergugat. “Karena itu saya langsung ajukan gugatan cerai. Walau pun Alex tidak mau memenuhi undangan pengadilan agama, tapi tidak akan menghalangi gugatan saya di Pengadilan Agama,” ujarnya.
Malahan, ketidakhadiran Alex membuat gugatan Emeri menjadi lebih lancar. Karena itu, Emeri akhirnya terbebas dari belenggu status istri Alex. “Sekarang saya berstatus janda. Tapi janda tidak tersentuh alias janda kembang,” katanya. (Sigit/Radar Banten)







