SERANG – Partai Golkar menilai, hingga saat ini belum ada satu pun partai politik (parpol) atau gabungan parpol yang menyatakan dukungan terhadap pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur. Oleh karena itu, koalisi parpol untuk Pilgub Banten 2017 masih dinamis.
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Banten Ratu Tatu Chasanah mengatakan, pertemuan pimpinan lima parpol tingkat Banten, yakni Golkar, PKS, Gerindra, PKB, dan Hanura punya pandangan sama tentang pembangunan Banten ke depan. “Tentu pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi. Kami punya visi sama membangun Banten lima tahun ke depan,” ujarnya kepada Radar Banten, Senin (25/7).
Sekadar diketahui, lima petinggi parpol melakukan pertemuan di sebuah tempat di Jakarta, Minggu (24/7) malam. Dalam pertemuan tersebut, digagas pasangan dua anggota DPR RI, yakni Wahidin Halim-Andika Hazrumy yang akan diusung sebagai bakal calon gubernur/wakil gubernur di Pilgub Banten 2017.
Mereka yang menggelar pertemuan adalah Ketua DPD Partai Golkar Banten Ratu Tatu Chasanah didampingi Ketua Harian Suparman dan anggota DPRD Banten dari Fraksi Golkar Hasan Maksudi, Ketua DPW PKS Banten Miptahuddin, Ketua DPD Hanura Banten Eli Mulyadi, fungsionaris DPD Gerindra Banten Ali Zamroni, dan Ketua DPW PKB Banten Rahmat Abdul Gani.
Pada pertemuan tersebut, Tatu menyatakan, ada beberapa pimpinan parpol yang menghendaki kandidat dari Partai Golkar, yakni Andika Hazrumy untuk dipasangkan dengan Wahidin Halim. “Kami tentu mengapresiasi aspirasi tersebut. Apalagi, Andika diterima parpol lain. Komunikasi kami dengan Pak Wahidin pun cair,” ujarnya.
Terkait kepastian koalisi dan pasangan calon menuju Pilgub Banten, Tatu mengaku masih menunggu instruksi terakhir dari DPP Partai Golkar. “Masih dinamis, tetapi memang harus segera. Kita tunggu keputusan resmi Agustus nanti,” ujarnya.
Terpisah, Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Banten Masrori mengaku belum menentukan arah dukungan dalam Pilgub Banten. Meski Rano Karno, Wahidin Halim, maupun Andika Hazrumy kini sibuk mencari pendamping maupun koalisi partai, PAN belum menentukan dukungan. “Di partai kami ada dua konsep terkait Pilgub Banten. Pertama koalisi berdasarkan calon, lalu koalisi berdasarkan hasil kesepahaman antar parpol. Soal keputusan, kita serahkan ke DPP,” kata Masrori, kemarin.
Menurut Masrori, DPW PAN Banten saat ini sedang menggodok konsep tersebut untuk kemudian diserahkan ke DPP PAN. Nantinya, kata dia, DPP akan mengeluarkan rekomendasi berdasarkan usulan tersebut. Sejumlah nama yang direkomendasi ke DPW, yakni Wahidin Halim, Ahmad Taufik Nuriman, Haerul Jaman, Eden, dan Andika Hazrumy. “Insya Allah, awal Agustus kita sampaikan rekomendasinya dan September sudah keluar rekomendasi dari DPP,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Sekjen DPP Partai NasDem Dedi Ramanta mengaku masih membaca peta di pilgub. Belum ada kesepahaman mau dibawa ke mana arah koalisi. Yang pasti dalam pengambilan keputusan ini NasDem membaca dengan hati-hati. Tidak buru-buru menentukan sikap untuk mendukung calon yang diusung. “Masih melihat-lihat petanya seperti apa. Tidak asal dukung. Harus dilihat dulu,” imbuhnya.
Meski begitu, Dedi mengaku di tingkatan elite Ketua Umum NasDem Surya Paloh rajin berkomunikasi dengan Ketum Golkar Setya Novanto dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Komunikasi tersebut salah satunya membicarakan arah koalisi di Pilgub Banten. “Namun, hanya sebatas penjajakan. Masih belum solid,” katanya.
Pengamat politik dari Untirta Suwaib Amiruddin menilai, ada beberapa faktor yang membuat nama WH disandingkan dengan Andika. WH dinilai lebih pengalaman karena pernah menjabat sebagai Walikota Tangerang sekaligus pernah ikut bertarung pada Pilgub sebelumnya.
Namun, kata dia, Partai Golkar sebagai partai besar yang memiliki 15 kursi di DPRD, semestinya lebih percaya diri dalam mendorong kadernya sebagai kandidat calon gubernur. Partai Golkar juga merupakan partai politik yang mampu menempatkan sebagian kadernya sebagai pemimpin daerah di Banten. “Harusnya jangan dibalik karena ini kesempatan bagi Golkar untuk mendorong kadernya sendiri sebagai calon gubernur,” katanya.
Selain itu, kata Suwaib, Andika memiliki basis masa yang cukup kuat. Baik dari Andika atau keluarganya yang masih memiliki jaringan yang tersebar di sejumlah daerah di Banten. “Termasuk kekuatan kapital dan jaringan yang dimiliki Andika,” kata penasihat Suwaib Amiruddin Fondation (SAF) ini.
Menurutnya, jika Partai Golkar berubah haluan mengusung kadernya sebagai calon wakil gubernur, bisa berakibat pada kekecewaan simpatisan yang selama ini mendukung. “Saya khawatir banyak masyarakat yang sakit hati karena berkeinginan Golkar punya calon gubernur, tapi kemudian berubah,” kata Suwaib. (Amrin Nur-Hendra S-Firdaus R-Supriyono/Radar Banten)







