TANGERANG – Derasnya arus kader Partai Golkar dan PDI Perjuangan untuk menyandingkan Andika Hazrumy dengan petahana Rano Karno tak menyurutkan langkah Wahidin Halim untuk melanjutkan perjuangan merebut Banten satu. Berbagai strategi pun disiapkan untuk merebut posisi bergengsi di tanah Jawara ini. Salah satunya, menyelaraskan keseimbangan potensi suara dari Tangerang Raya dan Banten barat.
Alih-alih mengantongi restu SBY, dengan Partai Demokratnya, WH—sapaan akrab mantan Walikota Tangerang itu, kini mulai gesit melakukan lobi-lobi untuk menyatukan Partai Gerindra dan PKS dalam wadah koalisi. Tak hanya sekadar mengikat koalisi tiga parpol tersebut sebagai kendaraan politiknya, WH pun makin intens dalam mencari pasangannya. Tidak hanya tokoh politik, mantan birokrat bahkan pengusaha pun jadi buruannya.
Sinyal ini, tentu bukan pepesan kosong. Gerakan WH, bersama tim pemenangnya makin solid. Dan ini akan menjadi lawan tangguh jika benar Rano-Andika bersanding sebagai cagub-cawagub. Peluang WH bersanding dengan Ahmad Taufik Nuriman mantan Bupati Serang, atau dengan Ketua DPD Partai Gerindra Banten Budi Heriyadi sangat terbuka lebar. Bahkan peluang berjuang bersama mantan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono kemungkinan itu masih bisa. Apalagi, sebelumnya PKS paling doyan menyosialisasikan pria kelahiran Serang, 5 Oktober 1959 itu untuk maju dalam pusaran Pilgub Banten yang bakal dihelat 2017.
Juru bicara WH, Jazuli Abdillah mengatakan sejumlah kriteria khusus siapa yang bakal mendampingi politisi Demokrat tersebut syaratnya sederhana. Salah satunya, harus berasal dari Banten Barat (Cilegon, Serang, Pandegelang, Lebak). Alasan yang paling dominan adalah menyelaraskan keseimbangan suara antara potensi suara dari Tangerang Raya yang elektabilitasnya menjurus ke WH. ”Bisa kita lihat lah, wilayah Banten utara dan Tangerang Raya diklaim sudah cukup atas kepopuleran dirinya,” ujar Jazuli.
Meskipun dari berbagai survei terus naik turun, sambung dia, pihaknya tengah melakukan inventarisasi terhadap sosok yang cocok sebagai pendamping nanti. ”Pokoknya dari wilayah barat, kalau Andika masuk, siapa saja bisa berpotensi,” katanya kepada Radar Banten, Senin (1/8).
Disinggung mengenai latar belakang calon, Jazuli menjawab diplomatis. Menurutnya, siapa pun mereka baik dari birokrat, politisi hingga pengusaha akan dilihat melalui inventarisasi calon. Alasannya, WH bisa masuk kemana saja melihat pengalamannya selama ini. ”Untuk birokrat, beliau sudah 10 tahun menjadi Walikota Tangerang, sebagai politisi beliau sudah masuk menjadi anggota DPR. Di kalangan pengusaha, rekan dan koleganya juga pengusaha. Nah dari manapun bisa masuk kan?” jelas Jazuli.
Disinggung mengenai progres koalisi ke Partai Golkar, Jazuli memastikan WH terus melakukan komunikasi dengan partai lain. Apalagi kursi Demokrat diakui belum memenuhi persyaratan untuk mencalonkan sendiri pada Pilgub nanti. ”Ya, itu pastilah, kami tetap melakukan pendekatan, tunggu tanggal mainnya saja,” ujarnya.
Setali tiga uang, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Tangerang melihat potensi suara Tangerang Raya yang hampir 60 persen Pilgub harus dikelola dengan baik oleh Wahidin Halim. Dengan total jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) hampir lima juta jiwa, popularitas calon dari Tangerang saat ini masih di atas angin. ”Orang lebih kenal siapa di Tangerang, itu harus jadi pertimbangan,” kata dia.
Selain itu, calon dari Tangerang harus memiliki deretan program populis yang menyentuh warga urban dan pedesaan. Salah satunya mendobrak solusi pekerjaan rumah petahana saat ini. ”Harus pakai penelitian apa saja yang kurang saat ini, itu bisa menjadi loncatan strategis,” paparnya.
Sementara Akademisi UIN Syarifhidayatullah Jakarta Andi Syafrani menyarankan WH untuk mengambil pendamping yang berasal dari wilayah Serang, dan sekitarnya. Saran ini untuk menguatkan posisi WH dalam pertarungan di pilgub Banten. Mengingat selama ini WH identik sebagai tokoh Tangerang Raya. ”Ada banyak tokoh dari Serang Raya yang bisa diambil. Mulai Ahmad Taufik Nuriman hingga Andika Hazrumy,” katanya.
Andi mengungkapkan, kombinasi berdasarkan wilayah penting dilakukan agar persebaran suara merata. Jangan sampai WH hanya unggul di Tangerang Raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel). Sementara di Serang Raya suaranya keok. Untuk mengamankan itu, calon pendamping harus tokoh di luar Tangerang Raya.
Ia yakin dengan kombinasi berdasarkan primordial (kedaerahan) akan mampu mengangkat suara pasangan calon. ”Ini juga untuk calon lain yang mau tampil. Kombinasi antar wilayah penting dalam setiap pertarungan pilkada,” imbuhnya.
Menurutnya sentimen kedaerahan amat kental dalam pilgub. Apalagi jika berkaca dalam pesta demokrasi sebelumnya. Jika WH bisa memilih calon dengan barometer tersebut (Tangerang Raya-non Tangerang Raya) kans untuk menang bisa lebih besar. Ia mantan walikota Tangerang yang bisa dipersonifikasi adalah orang Tangerang Raya. Bahkan ia jadi anggota DPR-RI dari dapil Banten III. ”Kalau acuannya pileg, WH memang representasi wilayah Tangerang Raya. Orang mengenal ia sebagai bekas Walikota Tangerang dan sekarang jabatannya wakil rakyat dari Banten III,” ujarnya. (Togar Harahap/Radar Banten)









