SUDAH jatuh tertimpa tangga, mungkin peribahasa itu bisa menggambarkan perjalanan pahit Nindi (35), nama samaran. Wanita asal Pandeglang itu telah dua kali salah kaprah membangun bahtera rumah tangga. Kisah Nindi dalam mencari pasangan hidup terbilang pelik. Pertama, rumah tangga Nindi kandas gara-gara berbeda prinsip dengan Nandang (34), juga nama samaran, pria asal Tangerang yang usianya lebih muda. Situasi itu memaksa Nandang mencontek sikap Bang Toyib, gak pernah pulang-pulang hingga berujung perceraian.
Merajut asa yang kedua, nasib Nindi lebih sial lagi. Ia terperdaya penampilan perlente Diding (36), nama samaran, asal Bandung. Terlebih, kesan pertama begitu menggoda. Penampilan Diding yang berlaga bak pengusaha lengkap dengan rayuan pelet jepang si kuda besi merk ternama, berhasil menghipnotis Nindi yang bodinya aduhai dan wajahnya mempesona. Widih…cewek matre juga. Wajar lah, namanya juga cewek, biar tidak madesu (masa depan suram).
Pertemuan Nindi dan Nandang seperti sudah direncanakan. Nindi, seorang primadona yang saat itu baru lulus sarjana di universitas ternama di Bandung, diminta orangtuanya pulang kampung. Ternyata, kepulangan Nindi ke kampung hendak dijodohkan dengan pemuda pilihan orangtuanya. Pemuda itu pengusaha yang punya hubungan bisnis dengan ibunya.
Padahal, waktu itu Nindi berencana memperkenalkan pacar yang akan dijadikan calon suaminya kelak. Orangnya ganteng dan tajir. Sebut saja Doni, yang tak lain teman kampusnya dari Bandung. Wak waw, musnah deh mimpi Nindi dapat orang ganteng dan tajir. Apa daya, desakan dari orangtua membuat Nindi tak ingin membalas air susu dengan air tuba.
Nindi yang berparas cantik nan molek, berkulit putih mulus, dan rambut hitam panjang terurai, dan mampu membuat semua pria hidung belang jelalatan, akhirnya mau dijodokan orangtuanya. Betapa kaget Nindi ketika pertama kali melihat calon suaminya yang berperawakan tinggi, besar, hitam, dan berkumis tebal layaknya penjahat di film India. Tuan Takur kali. Nindi awalnya sempat menolak, namun akhirnya terpaksa menuruti petuah orangtua ‘tak kenal maka tak sayang’. Nindi pun mencoba mengenal lebih dekat sosok Nandang. Berbeda dengan Nandang, sejak pandangan pertama sudah ngebet ingin meminang Nindi.
Mereka pun akhirnya menjalin hubungan serius. Selama pacaran, tak jarang Nindi menuai kritikan dari rekan-rekannya. Karena, jalan dengan Nandang seperti melihat film beauty and the beast (si cantik dan si buruk rupa). Namun, cercaan itu kerap tak dihiraukan Nindi, yang terpikir di benaknya hanya ingin membalas jasa orangtua. “Kadang dibilang ‘jalan sama Om-Om lah’ padahal lebih muda, ‘gak salah pilih nih’, ada juga yang bilang ‘cantik-cantik mubazir’. Saya paling hanya bisa senyum,” ujar Nindi sambil meringis.
Awalnya illfeel, tapi melihat pengorbanan Nandang selama setahun berhubungan, Nindi jadi iba dan akhirnya luluh juga. Namun, seiring waktu, perjodohan Nindi dan Nandang yang tadinya didukung penuh, justru berbalik ditentang orangtua Nindi setelah diketahui usaha Nandang mulai pailit. Eeeaaaa… ini apa lagi, orangtua ikut-ikutan matre. Kelaut aja deh.
Nindi yang tak ingin disebut dengan istilah cewek ‘ada uang abang disayang, enggak ada uang abang ditendang’ akhirnya berbalik menentang orangtua dan melanjutkan perjodohannya hingga ke pelaminan. Namun, doa restu orangtua manjur, rumah tangga Nindi dan Nandang pun tak pernah akur. Padahal, secara ekonomi berkecukupan. Nindi diterima kerja di industri di Tangerang, sebaliknya Nandang diterima menjadi pengawas perusahaan kontraktor di Tangerang setelah gagal jadi pengusaha.
Sampai akhirnya mereka dikaruniai dua anak, buah dari pernikahan. Namun, perbedaan prinsip membuat intensitas bertemu dan komunikasi semakin jarang, ditambah kesibukan masing-masing. Keinginan Nandang pindah ke Tangerang ditolak Nindi dengan alasan tidak mau jauh dari orangtua. Situasi itu, membuat kesal Nandang. Nandang yang merasa tak dihargai istri, membalasnya dengan tidak pernah lagi memberikan lagi nafkah lahir batin kepada Nindi dan anak-anaknya.
Merasa diterlantarkan, Nindi akhirnya melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Namun, selama sidang perceraian, Nandang tidak pernah hadir dan mulai lost contact.
Sejalan dengan itu, Nindi yang memang ‘jablai’ (jarang dibelai) kebetulan bertemu dengan Diding yang sudah mengincarnya sejak lama. Mengaku sebagai supervisor, tingkah Diding berhasil mengelabui Nindi. Terlebih penampilan Diding yang meyakinkan, rambut kelimis lengkap dengan tunggangan mobil, meski wajah pas-pasan tak kalah hitam dari Nandang. Malang benar nasib Nindi, apa tidak ada yang lebih jelek lagi nih Nin? Mungkin selera ya!
Namun kondisi fisik Diding yang tak lebih baik dari Nandang tak dihiraukan Nindi, yang dipikirkan Nindi saat itu anak-anaknya masih bisa makan dan sekolah. Ya masih matrealisitis juga. Ibarat kata ‘buah jatuh takan jauh dari pohonnya’. “Tadinya, saya berpikir lumayan buat antar jemput kerja. Belum lagi dia suka transfer uang tiap bulan. Yang penting dia orang berada, soal wajah nomor dua,” kata Nindi yang berpikir masa depannya mulai cerah.
Akhirnya, Nindi setuju menjadikan Diding yang mengaku duda sebagai pendamping hidupnya, meski status Nindi belum jelas dengan Nandang karena proses perceraian belum kelar. Sial bagi Nindi yang baru mengetahui bahwa Diding ternyata masih berstatus suami orang. Nindi tertipu muslihat Diding yang telah dikaruniai dua anak. Belum lagi, jabatan Diding ternyata bukan supervisor, melainkan hanya buruh serabutan. Mobil yang sering ia bawa untuk antar jemput juga, hasil pinjaman dari majikannya. Kena deh! Makanya, don’t judge a book by its cover alias jangan lihat orang dari penampilannya.
Nasi sudah menjadi bubur. Nindi terlanjur cinta sama Diding yang sudah membuatnya berbadan ganda. Karena selama pacaran, sama denga kisah Ussy dan Uki kemarin, buka dikit joss! Wah wah wah, udah enggak tahan ya, tobat Nin. Kondisi itu memaksa keduanya melangsungkan pernikahan secara sederhana tanpa pesta dengan mas kawin alakadarnya. Nindi rela cintanya dibagi karena jadi yang kedua, hingga dikarunia anak ketiga dan hidup seadanya. Malah sekarang giliran Nindi yang sering dikuras habis penghasilannya di pabrik. Nasib-nasib.
“Sudah terlanjur, mau gimana lagi Mas. Mungkin ini ujian,” mending ujian matematika Nin, daripada dua kali kena tipu. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)









