CILEGON – Pemerintah Kota Cilegon melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) mencium adanya benih-benih konflik antar umat beragama yang kini bermunculan. Mengantisipasi timbulnya gejolak itu, Badan Kesbanglinmas Cilegon menggelar sosialisasi pembinaan peningkatan kerukunan dalam kehidupan beragama.
“Ini momennya melihat hiruk pikuk persoalan SARA yang ada di DKI yang merambah ke daerah-daerah yang lain. Untuk itu kami di Cilegon mencoba membuat langkah-langkah yang strategis dengan mengundang perwakilan kelurahan dan Rt/Rw karena imbas yang ada di DKI suka atau tidak suka sudah mulai terlihat,” ujar Bayu Panatagama, Kabis Kesatuan Bangsa pada Badan Kesbanglinmas Cilegon, Senin (17/10/2016).
Lebih lanjut Bayu mengatakan, sosialisasi yang rutin dilakukan di setiap tahunnya ini mengundang para leading sektor di antaranya FKUB, Kementerian Agama, dan Polres Cilegon untuk mengatasi jika adanya persoalan konflik serta defini berdirinya tempat peribadatan. “Ketika lepas dari aturan itulah namanya konflik. Masalah agama ini sangat sensitif. Kita akan mendorong dan melaksanakan sosialisasi seperti ini,” katanya.
Diuangkapkan Bayu, 2016 umat islam di Kota Cilegon masih sebagai mayoritas di antara umat beragama lainnya. Walaupun secara persentase jumlahnya menurun. “Perbaindangannya Islam itu hampir masuk pada 85 persen, selebihnya adalah umat diluar Islam. Kita ingin menciptakan Mayoritas ditambah minoritas menjadi kondusif dan menciptakan kesejahteraan,” katanya.
Dijelaskannya, benih konflik yang ada di Kota Cilegon antar umat beragama bermunculan dengan semakin berkembangnya jumlah masyarakat. “Dulu umat Islam di Cilegon jumlahnya 95 persen kini menurun karena banyaknya para pendatang yang juga mempunyai keyakinannya masing-masing. Cilegon bukan tidak memperbolehkan rumah peribatan berdiri. Tapi karena memang aturannya belum ada,” tuturnya. (Riko)








