MEMBICARAKAN persoalan rumah tangga tidak akan ada habisnya. Ada yang berakhir bahagia, ada pula yang terus-terusan mengalami penderitaan. Biasanya, persoalan datang dari kaum laki-laki yang kerap diisukan dengan adanya pihak ketiga. Seperti pengakuan Fahmi (36), nama samaran, walaupun sudah mempunyai istri secantik Susi (33), juga nama samaran, tak menyurutkan pegawai ASN salah satu instansi pemerintahan di Serang ini tergoda lagi terhadap wanita lain.
“Banyak yang bilang, kalau saya tuh lelaki paling beruntung karena punya istri cantik. Tapi, jujur ya, perasaan saya sekarang biasa saja tuh. Kenapa ya? Apa faktor bosan?” akunya. Dasar hidung belang, banyak dalihnya.
Fahmi tidak menyangkal dirinya kerap melakukan perselingkuhan. Bahkan, gosip perselingkuhannya itu sampai terdengar ke telinga Susi, sang istri. Namun, situasi yang seharusnya membuat waswas oleh lelaki kebanyakan, tak meruntuhkan niat Fahmi untuk terus maju mencari selingkuhan baru. Fahmi tak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada di depan mata. Apalagi terhadap seorang wanita.
Ibarat kata ‘lelaki itu semakin kaya semakin nakal’, sama halnya dengan Fahmi. Penggemar olahraga bulu tangkis itu mulai menjalani kehidupan laki-laki bertipikal buaya darat setelah kehidupan rumah tangganya sejahtera. Setiap ada wanita yang menaruh empati, entah karena suka atau melihat harta, pasti langsung Fahmi layani. Pelan-pelan sang wanita diajak jalan hingga berujung perselingkuhan.
“Yang penting kan enggak dikawin. Kalau dikawin, saya bisa kena penalti (maksudnya dipecat sebagai pegawai ASN-red) nantinya,” ujarnya. Astaga Fahmi, iya dikawin tidak, tapi dosa iya.
Padahal, secara fisik, sosok Fahmi tidak ada yang bisa dibanggakan. Wajah Fahmi sepintas atau tidak sepintas pun terlihat pas-pasan, kulitnya hitam, penampilannya juga tak sedikit pun menunjukkan figur orang kalangan berada.
Modal Fahmi dari sejak masih bujangan hanya percaya diri. Fahmi tak menampik jika kesejahteraan yang didapatnya tak lepas dari peran istri. Susi, istri Fahmi, meski berstatus honorer, ternyata anak dari pensiunan pejabat ASN. Kedua orangtua Susi pensiunan pejabat ASN. Maka tak heran, Susi dari awal memang mencari sosok pegawai ASN untuk dijadikan pasangan hidupnya kelak.
Pasca diangkat jadi pegawai negeri, bertemulah Fahmi dengan Susi yang saat itu masih berstatus guru honorer. Tentu saja, dengan status Fahmi yang sudah pure pegawai pemerintahan, tak butuh lama untuk melakukan pendekatan kepada Susi. Tentu saja, hasrat Fahmi ingin menjadikan Susi sebagai pendamping karena kecantikannya. Lain dengan Susi, yang sepertinya mengejar status istri pegawai ASN. Meskipun, sampai saat ini kenyataan itu tak pernah diakui Susi.
“Mengakunya sih, saya itu masuk kriteria cowok yang dia cari. Tapi, hati orang kan siapa yang tahu. Saya sadar kok, punya muka pas-pasan. Lain dengan Susi yang memang sudah banyak penggemar dari sebelum menikah,” ungkapnya. Kok jadi minder begitu sih Kang? “Bukan minder, tapi sadar diri. Modal saya kan cuma percaya diri doang,” sanggahnya. Setuju Kang, mending percaya diri daripada minder.
Diakui Fahmi, dia dan Susi hidup bertetangga. Jadi, satu sama lain sudah saling kenal tanpa harus dikenalkan lagi, termasuk keluarganya. Fahmi pun sadar kalau Susi termasuk kriteria perempuan yang salama ini dia cari.
Selain cantik, kulitnya putih mulus, keluarga Susi pun termasuk orang terpandang di daerahnya. Fahmi yang memang naksir dari sejak masih SMP, mulai berani mengungkapkan perasaannya setelah diangkat menjadi pegawai ASN pasca lulus sarjana. Fahmi tak menyangka, Susi yang tadinya cuek, tak melirik sedikit pun atau sekadar menyapa selama bertetangga, bakal menerima cintanya begitu saja.
Singkat cerita, mereka berpacaran. Mendapatkan dukungan dari kedua belah pihak keluarga, selang sebulan kemudian Fahmi langsung melamar Susi. Betapa beruntungnya Fahmi karena menikah dengan Susi disertai hadirnya kado istimewa. Yakni, Susi difasilitasi orangtuanya dengan dibangunkan rumah lengkap dengan perabotan rumah tangga untuk mengawali rumah tangga.
Kondisi itu membuat Fahmi semakin jemawa. Tentu saja, situasi dan kondisi itu membuat keduanya memancarkan rona kebahagiaan mengawali mahligai rumah tangga. Setahun kemudian, kebahagiaan Fahmi bertambah. Keduanya dikaruniai anak laki-laki yang lucu.
“Tadinya saya setia loh. Enggak kayak sekarang,” akunya. Enggak kayak sekarang bagaimana maksud Akang? “Ya, bisa dibilang lelaki brengseklah. Tiap ada kesempatan, terus si ceweknya mau dijadikan selingkuhan, pasti saya sikat,” akunya bangga. Lantai disikat Kang, biar bersih.
“Tapi, bagaimana lagi, namanya juga laki-laki,” ujarnya. Iya, laki-laki buaya. “Padahal, sama Susi enggak pernah ada masalah, termasuk urusan ranjang,” tambahnya. Urusan ranjang dibawa-bawa.
Namun, Fahmi ibarat peribahasa ‘sepandai-pandainya tupai melompat’. Peribahasanya cukup sampai di situ saja ya, belum bisa dilanjutkan, soalnya sampai hari ini, kemarin (2/5), Fahmi masih pandai menutupi aksi bejatnya itu di hadapan sang istri. Kasihan ya Susi? Kalau pun mendengar isu perselingkuhan Fahmi, baik dari tetangga atau teman dekatnya yang memang kebetulan pernah melihat Fahmi jalan bareng perempuan lain, tak pernah digubris Susi. Situasi itu semakin membuat Fahmi beringas di luar jam kerjanya.
Apalagi, kini Fahmi ditopang dengan kendaraan roda empat serta rumah baru yang didapatnya dari warisan orangtua. Belum lagi, kondisi itu membuat kehidupan rumah tangga Fahmi dan Susi semakin sejahtera. Namun, seiring peningkatan kesejahteraan itu, bukannya merasa bersyukur, tingkah Fahmi malah semakin tak bisa dibanggakan. Fahmi tak henti-hentinya menjalankan aksi perselingkuhan, baik dengan rekan kerja maupun teman medsos yang belum lama ia kenal. Perselingkuhannya bahkan sampai adegan ranjang.
“Sebetulnya, saya sudah punya sifat ini (buaya-red) dari sejak bujangan. Cuma, pas awal-awal menikah takut kehilangan Susi saja makanya enggak banyak tingkah, belajar jadi suami setia saja,” ungkapnya. Kenapa enggak dipertahankan Kang? “Maunya sih begitu, tapi kenapa ya akhir-akhir ini kalau lihat perempuan manis nan seksi itu suka enggak tahan,” celotehnya. Eaaa, sama dong.
“Keluarga juga sudah tahu kelakuan saya di luar. Malah saya sering kepergok teman pas lagi jalan sama cewek lain. Bahkan, sama temannya Susi juga pernah bentrok,” akunya. Terus-terus? “Ya, cuek saja. Pura-pura enggak kenal saja,” ucapnya. Ampun deh.
Niatan tobat sudah terlintas di benak Fahmi, khawatir suatu saat aksi tak sewajarnya itu lama-lama bakal ketahuan istri. Namanya bangkai, suatu saat pasti tercium juga. Hanya saja, Fahmi menganggap hingga kemarin itu masih belum saatnya saja. “Punya istri cantik tuh enggak menjamin. Karena, ternyata masih banyak yang lebih cantik daripada istri di rumah,” tukasnya. Ow ow ow. Kalau kita terus mencari yang terbaik, tidak akan ada habisnya Kang.
“Iya sih, mestinya saya tuh bersyukur. Tapi, bagaimana lagi, sudah terlanjur mendarah daging. Kita lihat nantilah. Mudah-mudahan, kalau nanti ketahuan, Susi bisa mengerti posisi saya ini,” harapnya. Mana bisa mengerti, yang ada juga benci. Yasalam. (Nizar S/Radar Banten)








