MALUKU UTARA – Jajaran TNI dalam hal ini Korem 152 Babullah mulai mengintensifkan pengawasan guna mengantisipasi kemungkinan masuknya kelompok teroris dari Filipina ke Indonesia melalui Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara (Malut).
Komandan Korem (Danrem) 152 Babullah, Kolonel (Inf) Sachono mengatakan, sejauh ini pihaknya terus melakukan pengawasan di Malut terkait dugaan kelompok teroris yang masuk ke Malut.
Menurutnya, antisipasi masuknya teroris ke Malut tersebut, pihaknya lebih fokus pada kabupaten Halmahera Utara (Halut).
“Pengawasan ini terus dilakukan oleh Lanal, baik Lanal Ternate maupun Morotai. Karena Kota Marawi yang telah diserang oleh pemerintah Filiphina, jarak ke Sangir Talaud, Sulawesi Utara hanya 5 jam dan dari sana ke Tobelo Halut juga 5 jam. Jadi, total 10 jam dari Marawi ke Halut. Antisipasi ini lebih fokus ke Tobelo Halut,” ungkap Sachono saat dikonfirmasi, Selasa (30/5).
Sachono mengaku, hingga kini pihaknya belum menemukan indikasi keberadaan warga asing yang mencurigakan di Malut.
Ia menuturkan, dalam antisipasi itu, pihaknya telah melakukan rapat koordinasi dengan melibatkan Kepala Bandara, Syahbandar, Pemprov, Bea Cukai, Imigrasi, Kementerian Ketenagakerjaan, BIN, Polda dan Lanal untuk membahas sinergitas dan kerjasama demi menangkal para teroris dari Filipina yang masuk ke Malut.
Selain itu, antisipasi itu juga melibatkan tokoh agama, tokoh adat , tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk menangkal aliran radikal masuk di daerah, khususnya Halut agar tidak digunakan sebagai basis dari teroris maupun paham radikal.
“Peran semua pihak dan kerja sama tiga pilar, Babinsa, Kades, Babinkamtibmas agar tingkatkan early warning sistim dan pelaporan warga bila ada tamu atau orang asing selama 1 x 24 jam, sehingga setiap orang yang masuk ke wilayah dapat termonitor. Kita juga mengajak ustad untuk meramaikan tausiyah ke masjid-masjid dengan memberikan pemahaman agama Islam yang benar untuk menangkal radikalisme merambah kepada umat yang akan direkrut oleh pihak teroris atau radikalisme,” ujarnya sebagimana dilansir dari Malut Post (Jawa Pos Group).
Kapolda Malut Brigjen (Pol) Tugas Dwi Apriyanto mengatakan, sejak peristiwa di Marawi, dirinya langsung memerintahkan para kapolres untuk terus melakukan razia setiap kapal yang masuk di semua pelabuhan di Malut.
“Saya juga sudah koordinasi dengan Danrem, Kabinda, Kakanwil Kumham (imigrasi) untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemantauan keluar masuknya WNI atau WNA ke Malut, khususnya yang datang maupun pergi ke Filipina,” terangnya.
Menurutnya, hal itu juga dibahas dalam rapat koordinasi bersama Intelijen, Imigrasi di Korem 152 Babullah, Selasa pagi kemarin untuk antisipasi hal tersebut. “Peran serta masyarakat juga tidak kalah pentingnya untuk deteksi dan cegah dini,” tutupnya. (tr-04/jfr/sad/JPG)









