SUNGAI Cisadane terasa menenangkan. Hembusan angin semilir membuat sejuk udara di siang hari. Beberapa orang terlihat mendatangi beberapa stan yang terjejer rapi di Jalan Benteng Jaya, Kecamatan Tangerang, Senin (24/7) sekira pukul 10.00 WIB. Mereka ada yang sekadar melihat-lihat produk yang ditawarkan pada stan itu. Ada juga yang membeli barang terlihat menarik.
Aktivitas ini sudah berlangsung dua hari sejak Festival Cisadane dibuka Walikota Tangerang Arief R Wismansyah. Di tengah hiruk pikuk gelaran festival, ada seseorang berambut gondrong diikat rapi lihai memainkan kuas di atas kanvas.
Tangannya begitu mahir mencorat-coret. Warna hitam, hijau, hingga merah mendominasi di kanvas itu. Sesekali ia mengisap rokok begitu dalam. Tumpukan buku soal seni rupa berjejer rapi tidak jauh dari coretan di kanvas itu.
Ya, lelaki berusia 45 tahun itu bukan sembarang pelukis. Namanya Jaya Budi Santoso. Ia sudah ikut pameran baik skala nasional ataupun internasional. Ia mengaku karyanya sudah sampai Inggris, Amerika, Kanada hingga Jepang.
Dengan mimik serius, ia mengayunkan kuas dengan sesekali terdiam. Lukisannya belum sepenuhnya selesai. Namun sudah melihat kerangka yang cukup menarik. Tergambar coretan berbentuk kembang-kembang. Jaya menamakannya itu karya lukis surealis atau yang bisa disebut sebagai menggambarkan di bawah alam sadar yang tertuang dalam bentuk coretan.
Di tengah keseriusannya melukis, Jaya berkisah tentang puluhan tahun ia menekuni seni ini. Baginya lukisan bukan hanya sebuah gambar. Ia bermakna ribuan kata yang tergambar dalam sebuah kanvas. Hari itu ia melukis se- buah teratai yang seperti kembang-kembang bunga. Baginya teratai itu bukan sebuah gambar tapi melambangkan tentang kesucian, putih, dan olah rasa.
Makanya terlihat seperti bunga-bunga dari berbagai warna dan ornamen. ”Saya terinspirasi dari sebuah kesucian, ketentraman yang tergambar dalam sebuah teratai,” katanya, membuka obrolan.
Jaya mengaku, menekuni lukisan su-dah sejak masih berusia remaja. Tidak terhitung berapa karya yang sudah dihasilkan.
Namun rentetan karya tersebut bukan membuat ia puas. Sebab baginya sebuah karya tidak bisa disandingkan dengan berapa banyak penghargaan yang diraih, berapa mahal harga dari sebuah lukisan.
Meskipun, kata Jaya, karyanya bisa dihargai hingga ratusan juta rupiah. Tergantung kolektor lukis yang menyukainya. Namun, dari benaknya bukan itu yang dikejar. Kepuasan tidak bisa dilihat dari banyak uang yang dihasilkan. Jika kepuasan batin sudah bisa dirasakan, sebuah lukisan akan menjadi bernilai.
“Jadi walaupun karya saya sudah ba- nyak dibawa ke luar negeri. Itu bukan jaminan saya puas. Tidak. Kadang bagi yang melihatnya bagus, bagi saya biasa saja. Begitupun sebaliknya,” ungkapnya.
Ayah tiga anak ini mengaku belajar lukis dari pengalaman hidup. Dari kegetiran hidup dan dari cinta. Semua itu bisa termanifestasikan dalam sebuah kanvas. Ini yang menjadikannya bisa terus berkarya tanpa ada sebuah kendala apapun.
”Ini yang saya tularkan kepada anak-anak. Alhamdulillah anak saya ada yang menjadi pelukis. Bahkan ada yang sekolah seni rupa ke Cina,” katanya.
Disinggung berapa lama membuat lukisan, Jaya mengaku tidak bisa memprediksi. Semua tergantung suasana hati. Bila rasa ini senang, tentu akan mudah mengekspresikan dalam sebuah kanvas.
Seperti lukisan teratai yang sekarang dikerjakan. Ia berkhayal tentang sebuah kesucian, sebuah drama, sebuah kehidupan. Itu yang tergambarkan dalam kanvas. Bagi yang melihatnya mungkin biasa-biasa saja. Ia hanya sebuah karya biasa. Tapi yang menggeluti karya seni, ia bisa jadi luar biasa.
Di tengah pembicaraan, suara ponsel Jaya berdering. Dari gagang telepon, calon pembeli yang memesan karyanya akan datang. Ia pun diminta untuk merapikan lukisannya. ”Sebentar Mas, saya mau cek lukisan yang sudah jadi. Dilihatnya lukisan tersebut. Ini sudah selesai dan mau diambil pembeli, ” katanya.
Berapa harganya, ia tidak mau mengemukakannya. Kata dia, rahasia karena pembeli mewanti-wanti untuk tidak memberitahukan kepada siapapun. (Firdaus Rahmadi)










