SERANG – Amat miris kondisi yang dialami sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathlaul Anwar di Desa Susukan Sampang, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Demi memperbaiki ruang kelas yang alami kerusakan pada plafon, bangku, meja, jendela, lemari dan atap, pihak sekolah harus rela hutang hingga mencapai Rp 20 juta.
Langkah berhutang terpaksa diambil oleh pihak pengelola sekolah karena ketiadaan biaya dan kondisi yang sangat mendesak serta demi keselamatan para murid yang belajar di sekolah tersebut.
“Kami sudah berinisiatif memperbaiki atap yang bocor dengan merenovasi seadanya saat libur sekitar bulan juni. Demi anak didik, sekolah kami terpaksa meminjam uang untuk membeli beberapa material seperti asbes, kayu, paku, kaso dan material lainnya. Uang yang kami pinjam sejumlah Rp 20 juta rupiah,” ungkap Kepala Sekolah MI Mathlaul Anwar Marlinah pada Radar Banten Online, Selasa (25/7).
Marlinah bercerita, beberapa kelas seperti kelas 3, 4 dan 5 alami kebocoran dan banjir bila sedang musim hujan. Lagi-lagi dengan alasan masalah biaya, siswa pun tetap harus belajar dengan kondisi tersebut.
Untuk memperbaiki sekolah tersebut, menurut Marlinah biaya yang diperlukan bukan Rp 20 juta, namun lebih. Pinjam dilakukan karena biaya yang terkumpul dari hasil sumbangan guru dan wali murid tidak cukup untuk perbaikan, meskipun alakadarnya.
“Kalau nggak dibenerin, kasihan anak didik kami sudah mulai tahun ajaran baru. Bahkan ada siswa yang bilang, Bu mau diingkat ya. Boro-boro ditingkat, ngebenerin atap yang pada bocor juga belum kesampean semuanya. Dari hasil sumbangan, terkumpul 50 wali murid cuma dapet Rp 5 juga. Sisanya kami pinjam. Keinginannya mah pengen sekolah ini bisa layak. Bangku-bangku mudah rusak karena anak-anak disini memang aktif, jadi begitulah namanya anak-anak,” paparnya.
Meski sudah bersusah payah dan melakukan pinjaman, kondisi sekolah masih belum layak. Kerusakan masih terlihat pada plafon, bangku, meja, jendela, lemari dan atap. Namun karena bantuan dari pemerintah tak kunjung ada, pihak sekolah mengaku hanya bisa pasrah.
Soal dana pinjaman, Marlinah mengatakan, dana pinjaman itu harus dibayar Agustus mendatang, bila tak terpenuhi, dermawan yang mau meminjamkan uang terpaksa tidak lagi percaya memberikan pinjaman.
Sekolah yang berdiri sejak 1971 ini, terdapat RA, MI dan MTs mengalami kerusakan di beberapa lokal kelas sejak dua tahun lalu. Sekolah RA kekurangan kelas sehingga terpaksa harus dicampur dua kelas.
“Saya harap sih sekolah ini lebih baik, sederhana tapi indah biar anak-anak belajar makin semangat,” pungkasnya. (Anton Sitompul/antonsutompul1504@gmail.com).











