SERANG – Ketua Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar (MA) Provinsi Banten M Babay Sujawandi mengatakan, MA di Banten memiliki sekira 500 madrasah dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari ibtidaiyah hingga madrasah aliyah atau SMA dan SMK. Dari bangunan yang bagus sampai dengan yang berasal dari bambu.
“Mathla’ul Anwar siap bersinergi dengan Pemprov Banten, terutama dalam bidang pendidikan,” kata Babay saat pembukaan Rapat Kerja Wilayah II PW MA Banten dan Milad ke-101 Mathla’ul Anwar di Hotel Le Dian, Jumat (4/9).
Pembukaan dihadiri Ketua Umum PB MA Sadeli Karim, Staf Ahli Gubernur Banten Enong Suhaeti, Ketua Umum MUI Banten AM Romly, dan undangan lainnya.
Raker sendiri dihadiri pengurus wilayah, pengurus daerah, dan perwakilan perguruan.
“MA akan terus melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas lembaga-lembaga pendidikan dan juga mendirikan lembaga pendidikan baru. Salah satu semangat yang dikembangkan MA melalui pendidikan adalah karakter kemandirian dan ikhlas,” ungkap Babay.
Menurutnya, MA di Banten menjadi ormas terbesar. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan yang tersebar di pelosok Banten. Memiliki tanggung jawab dan kepedulian terhadap dunia pendidikan. “Saya yakin di Banten MA menjadi ormas terbesar,” katanya.
Selain itu, Babay mengatakan, secara organisasi MA adalah salah satu ormas keagamaan tertua yang telah ada di Indonesia sejak tahun 1916. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah Islam. “Sebelum Indonesia merdeka MA sudah berdiri,” katanya.
Untuk itu MA mengajak Pemprov Banten di bawah kepemimpinan Wahidin Halim dan Andika Hazrumy untuk bersama-sama memperhatikan kualitas pendidikan.
Pada kesempatan itu, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) MA Syadeli Karim menyatakan, kondisi saat ini minat masyarakat terhadap sekolah pendidikan agama khususnya MA sangat luar biasa. Untuk yang setingkat Madrasah ada beberapa daerah yang lebih banyak menyekolahkan ke MA dibandingkan ke Negeri. “Di Banten saya yakin, lebih banyak sekolah MA ketimbang sekolah milik perintah,” ujarnya.
Saat ini kata dia, kondisi sekolah di beberapa wilayah pelosok masih membutuhkan perhatian dan bantuan dalam pembangunan. Di sekolah MA setelah melakukan kunjungan beberapa waktu lalu, masih ada sekolah yang menggunakan bahan dari bambu. “Banyak sekolah ambruk yang membutuhkan bantuan,” katanya. (Fauzan/RBG)









