SERANG – Mathla’ul Anwar sebagai organisasi Islam yang lahir pada tahun 1916 di Menes, Kabupaten Pandeglang namanya perlahan lahan semakin tenggelam dan dilupakan publik karena jarang disebutkan, diucapkan atau diperkenalkan oleh warga Mathla’ul Anwar sendiri di berbagai kesempatan.
Bahkan warga Mathla’ul Anwar yang menempati posisi penting di berbagai organisasi lain tidak bangga menyebutkan Mathla’ul Anwar sebagai organisasi asalnya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Majelis Amanah Pengurus Besar Mathla’ul Anwar Irsjad Djuwaeli saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Wilayah II Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar Provinsi Banten di Hotel Le Dian, Kota Serang, Minggu (5/8).
Irsjad yang juga mantan Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar ini mengungkapkan fenomena demikian karena berdasarkan pengamatannya pada konstelasi gerakan ormas Islam di tingkat nasional, nama Mathla’ul Anwar jarang disebut. Orang lebih banyak mengenal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Padahal organisasi yang didirikan oleh KH Mas Abdurrahman ini usianya lebih tua dibandingkan Nahdlatul Ulama (1926) atau lahir setelah Muhammadiyah didirikan tahun 1912.
“Saya sedih kalau Mathla’ul Anwar di Banten saja tidak dikenal,” ungkap Irsjad.
Karena itu, ia menekankan kepada pengurus wilayah dan perwakilan pengurus perguruan Mathla’ul Anwar yang hadir pada kesempatan itu untuk bangga terhadap organisasinya dan mau menyebutkannya.
“Caranya, Mathla’ul Anwar itu ya harus disebutkan namanya,” ungkap Irsjad.
Ia pun meminta kepada pengurus di Banten agar melakukan branding Mathla’ul Anwar di tempat-tempat strategis. “Bendera Mathla’ul Anwar yang dipasang di jalan (Jalan Jend. Sudirman, Kota Serang-red), jangan dicopot semua. Biarkan dua atau tiga bendera berkibar-kibar terus. Pasanglah plang nama yang terbaca banyak orang,” ungkap Irsjad.
Ketua Majelis Fatwa Mathla’ul Anwar KH Wahid Sahari juga menyadari nama Mathla’ul Anwar kurang populer lagi. Bahkan dirinya pernah mendapatkan pertanyaan apakah Mathla’ul Anwar itu Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah.
Menurutnya, Mathla’ul Anwar memiliki khittohnya sendiri. Namun demikian, di Mathla’ul Anwar juga ada orang berpaham Muhammadiyah, berpaham Nahdlatul Ulama juga banyak. Juga ada yang berpaham Persis. Tapi tidak ada yang berpaham Syiah.
“Mathla’ul Anwar itu organisasi yang memiliki khittohnya sendiri yang bergaris pada paham Ahli Sunnah Wal Jama’ah,” jelas Sahari.
Warga Mathla’ul Anwar, lanjut dia, konsisten dengan ajaran dan pemahaman agamanya. (Aas Arbi).









