SERANG – Setiap Muharam, Warga Carita memberikan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah. Mereka rutin mengadakan ritual ruwatan laut. Tradisi turun temurun dari leluhur ini dijaga baik.
Dalam tradisi adat Carita, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang ini, ada banyak tradisi. Ruwatan laut misalnya, pagi sekali, warga akan melakukan pemanasan. Jalan pagi, berkeliling di sekitar pantai hingga menjelang ruwatan.
Ruwatan laut kali ini, sesepuh menetapkan pukul 11:00 sebagai waktu baik sebuah ritual. Seluruh warga pada jam tersebut akan berkumpul ke dermaga. Mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan tradisi ruwatan.
100 lebih kapal dan spead boat dikerahkan untuk menampung warga yang akan melaksanakan ritual ruwatan. Ratusan warga saling arak-arakan membawa satu kepala ekor kerbau beserta tulang-tulangnya yang sudah mati, buah-buahan, seperti apel, salak, jeruk. Mereka pun membawa tumpeng dan bunga tujuh rupa. Tak cuma itu, segala macam perabotan dapur akan dibawa ke laut.
Mula-mula, dipesisir Pantai Carita, satu wayang golek akan diikutkan menuju laut. Konon, di belakangnya ada mahluk ghaib mengikuti ritual ruwatan tersebut. Tak kasat mata. Warga percaya.
Sukba misalnya, warga Carita ini, yakin ada mahluk ghaib ikut mendampingi ritual ini. Ia sangat menjunjung tinggi tradisi leluhurnya. Ia khatam betul bagaimana ritual ini berlangsung.
Kata Sukba, berprofesi sebagai nelayan ini, ada pantangan bila ikut ritual ruwatan. Selama ritual, dilarang berkata jorok dan kotor.
“Namanya tradisi, mesti dijaga,” kata dia saat dijumpai Radar Banten Online, Senin (16/10).
Berbekal sesajen, seperti kepala kerbau dan lainnya. Sontak warga ramai-ramai menuju tengah laut. Kapal meluncur secara berkelompok.
Sebelum kepala kerbau itu, dibuang. Sesepuh membaca ritual doa-doa. Kemudian, gamelan pun dilantunkan, bersamaan dengan tabur bunga. Kepala kerbau itu pun dibuang di karang dalem (karang besar di dalam lautan-red).
Usai kerbau dibuang di lautan. Panci, dang-dang, bakul, dan lainnya juga dibuang, warga akan berebut mengambil air lautan itu. Ada yang langsung dibasuh ke wajah, ada yang sengaja membawa derijen untuk dibawa pulang air tersebut.
Kata Sukba, buat pengobatan, meminta harapan dan keinginan. “Yang jelas, itu perantara, kami tetap meminta pada yang kuasa (Allah-red),” tuturnya.
Pantauan Radar Banten Online, suasana riuh, kental mistis itu sangat terasa. Angin berhembus bersama ombak yang lumayan kencang itu, seolah lautan sedang berinteraksi dengan warga. Warga sangat senang bisa melakukan ritual tahunan itu. Karena, segala hasil laut diberikan atas kekuasaan Tuhan.
“Kami berucap syukur pada yang maha kuasa, dalam arti nelayan tidak memelihara ikan, tapi dia (nelayan-red) bisa setiap hari diambil dan dirasakan manfaatnya,” ungkap Pembina Nelayan Sukari Sardi, Senin (16/10).
Rasa syukur itu, dikatakan olehnya, masyarakat lantas memberikan secuil hasil bumi berupa kepala kerbau, tumpeng, buah-buahan dan lainnya ke lautan.
Rumornya, persembahan itu juga sengaja diberikan pada penjaga lautan. Yakni Nyi Roro Kidul, dan leluhur mereka.
Tradisi ini, acap kali menuai kontroversi. Namun, Sukari Sardi tekankan bahwa ritual ini satu perantara memuji syukur pada yang kuasa. “Kami juga menjaga tradisi leluhur,” paparnya.
Siang itu, warga membludak. Sengaja mereka datang merayakan tradisi ruwatan laut. Apalagi, mayoritas profesi masyarakat Carita adalah Nelayan. Ritual semacam ini dijaga baik untuk dikenalkan pada anak-cucu mereka.
“Nanti mereka yang melestarikan tradisi ini,” kata Sardi lagi.
Ternyata, ritual ini memberi dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Terlebih, kata Sardi, ruwatan ini bisa menarik jumlah wisatawan. Gelaran ritual puncaknya hari ini. Tetapi masih ada kegiatan hiburan lainnya, seperti wayang golek. Nanti malam pun akan dihelat ruwatan bumi. Lama kegiatan ini dari 12 sampai 18 Oktober 2017. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).










