SERANG – Sering mendengar peribahasa “Sedia Payung Sebelum Hujan”? sebuah peribahasa bahasa Indonesia yang bertujuan untuk mengingatkan seseorang tentang berbagai kemungkinan yang akan datang dan membuat pilihan sebelum bertindak.
Dalam konteks kehidupan seseorang, berbagai kemungkinan sangat mungkin terjadi. Semuanya secara misterius menunggu di hadapan seseorang. Menunggu hingga waktunya kemungkinan tersebut terjadi tanpa sebelumnya diketahui oleh orang tersebut.
Salah satu kemungkinan yang pasti terjadi dan dihadapi seseorang tanpa disadari dan diketahui waktu tibanya adalah sakit. Dan salah satu hal yang perlu disiapkan oleh seseorang untuk menghadapi kemungkinan tersebut tiba adalah biaya.
“Sedia JKN-KIS Sebelum Sakit” rasanya tidak menjadi ungkapan yang berlebihan. Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan bisa menjadi solusi untuk menghadapi masa sakit tiba. Dengan menjadi peserta program pemerintah tersebut, seseorang tidak perlu dipusingkan oleh biaya pengobatan yang kerap menjadi masalah besar mayoritas masyarakat saat sakit, khususnya masyarakat yang kurang mampu.
Teti Mulyati atau yang kerap disapa Kemuning telah membuktikan pernyataan tersebut. Perempuan yang telah satu tahun lebih menjadi Kader JKN tersebut telah melihat bukti dari pentingnya terdaftar sebagai peserta JKN-KIS sebelum jatuh sakit.
Penyakit apapun yang dialami peserta JKN-KIS, untuk proses pengobatan tidak akan mengalami kesulitan akibat biaya yang tinggi. Apapun penyakitnya, seberapa besar pun biayanya pengobatannya, semua ditanggung oleh program JKN-KIS selama mengikuti indikasi dokter.
Kemuning bercerita, selama menjadi Kader JKN, masalah utama yang sering dihadapi masyarakat saat sakit adalah biaya pengobatan. Masyarakat banyak yang takut tidak mampu membiayai pengobatan dan perawatan di rumah sakit.
Kasus terbaru yang ditemui Kemuning yaitu seorang ibu hamil di Pulau Tunda, Kabupaten Serang. Bayang-bayang biaya persalinan yang sangat besar membuat ibu hamil tersebut takut untuk melakukan persalinan di rumah sakit meski telah mengalami pendarahan.
Kemuning menyadari, ibu hamil tersebut perlu segera mendapatkan penanganan, karena itu, Kemuning berusaha untuk meyakinkan ibu hamil tersebut untuk mau di bawa ke rumah sakit. Usaha pun berhasil, ibu beserta bayi berhasil diselamatkan dengan biaya sepenuhnya ditanggung program JKN-KIS.
“Mereka pun akhirnya bilang kalau enggak ada BPJS (Kesehatan-red) bagaimana kami, karena sekali operasi bisa sampai Rp 15 juta,” kata Kemuning di sela-sela sosialisasi program JKN-KIS di Kampung Ranjakamurang, Desa Mekarbaru, Kecamatan Petir, Kamis (19/10).
Menyadari pentingnya program JKN-KIS, Kemuning bersama Kader JKN lainnya mengaku terus aktif mensosialisasikan JKN-KIS kepada masyarakat, terutama ibu-ibu. Karena, menurutnya, keterdaftaran masyarakat sebagai peserta JKN membuat masyarakat siap menghadapi kemungkinan saat menderita sakit atau akan melahirkan.
Jalan Kemuning beserta Kader JKN yang lain dalam mensosialisasikan dan mengajak masyarakat untuk mendaftar sebagai peserta JKN-KIS tidak selalu mulus. Kenyataannya, meski penting, masih banyak masyarakat yang menolak untuk ikut mendaftar sebagai peserta JKN dan ragu terhadap kemudahan yang bisa diterima setelah terdaftar sebagai peserta JKN.
Penolakan serta keragu-raguan tersebut bukan tanpa sebab. Menurut Kemuning, penyebabnya adalah masyarakat masih suka menelan mentah-mentah isu yang berkembang terkait pelayanan fasilitas kesehatan yang kurang optimal saat berobat menggunakan JKN-KIS.
“Makanya kita terus berusaha menjelaskan kepada masyarakat, bahwa pelayanan itu berada pada wilayah fasilitas kesehatan, bukan BPJS Kesehatan. Sedangkan BPJS Kesehatan pada wilayah pemberian jaminan dan pembiayaan pengobatan,” kata Kemuning.
Saat mengingat kembali banyaknya masyarakat yang telah membuktikan pentingnya terdaftar di program JKN-KIS sebelum sakit, menurut Kemuning, adanya penolakan dan keragu-raguan tersebut bukan menjadi penghalang dan menyurutkan semangat para Kader, justru sebaliknya, membuat para Kader lebih semangat.
Asep Rupawan, salah satu peserta BPJS Kesehatan sepakat dengan segala hal yang dijelaskan oleh Kemuning. Meski secara pribadi belum menggunakan layanan JKN-KIS, namun Asep sudah melihat anggota keluarganya yang sangat terbantu oleh program tersebut.
“Saya memang belum pernah berobat pakai JKN-KIS meski saya sudah terdaftar, tapi saudara saya pernah harus dioperasi, sakit parah. Syukurnya sudah terdaftar di BPJS jadi biayanya ditanggung,” kata Asep.
Asep mengaku tidak merasa rugi meski selama ini terus membayar iuran. Asep menyadari iurannya selama ini untuk membantu orang lain yang sangat membutuhkan. “Saya anggap saja sedekah, lagian kalau nanti saya sakit kan tetap ditanggung biayanya,” ujarnya. (ADVERTORIAL/BPJS KESEHATAN)









