TANGERANG – Muhammad Isnur punya visi membela kaum tertindas. Dia pun memilih menjadi pengacara publik. Baginya, menolong orang dalam kesulitan menjadi berkah tersendiri.
Memulai karier menjadi pengacara publik di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sejak tahun 2006, Isnur memilih membela persoalan hukum bagi wong cilik. Mulai dari kasus si miskin yang digusur, di-PHK, dan tak mendapat hak-haknya.
Meski demikian, sejumlah kasus besar tak luput dari perhatiannya. Isnur pernah menjadi kuasa hukum Novel Basweddan, Abraham Samad dan Bambang Widjoyanto.
Ada juga, Serikat Pekerja PT. Angkasa Pura yang menuntut kebijakan perusahaan dan dimenangkan oleh Pengadilan Hubungan Industrial dan MA. Atau pendampingan masyarakat petani Kendeng menolak pabrik semen di Pegunungan Kendeng (Pati, Rembang, Blora) dan menang di Mahkamah Agung, sehingga pabrik semen tak beroperasi. Dan kasus terbaru, adalah pendampingan nelayan Jakarta Utara yang menggugat izin reklamasi Teluk Jakarta.
Pria yang menjabat Ketua Bidang Advokasi, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ini mengaku menjadi pengacara publik menjadi pilihannya. Baginya, menolong sesama menjadi kebanggaan yang luar biasa.
”Memang kalau menjadi pengacara publik, untuk materi (uang-red) tidak ada. Namun, kebanggaannya dapat menerapkan ilmu untuk menolong orang lain, menjadi hadiah yang tak terhingga,” terangnya.
”Ucapan terima kasih dan tangis kebahagiaan klien-klien orang miskin dan tertindas itu sudah benar-benar cukup, sebagai balasan,” terangnya.
”Karena Saya tidak mau terima imbalan apapun, akhirnya Saya, malah didoain sama kiai. Itu terjadi saat Saya mengadvokasi warga yang menolak pabrik air minum mineral di Padarincang-Serang tahun 2008.
Menjadi pengacara publik, lanjut Isnur, tak lepas dari sang idolanya yakni Yap Thiam Hien. Sosok pengacara Indonesia keturunan Tionghoa yang mengabdikan hidupnya demi menegakkan keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM).
”Saya benar-benar terinspirasi dengan keteguhan dan tekadnya, dalam melawan penindasan dan tindakan diskriminatif,” kata Isnur.
”Kata-kata dia (Yap Thiam Hien-red), menginspirasi saya. Kalau kamu mau menang, jangan datang ke Saya. Namun, apabila kamu mencari kebenaran, maka Saya akan datang. Akhirnya menjadikan Saya untuk terus menjadi pengacara publik,” ucap Isnur yang berdomisili di Pamulang, Kota Tangsel.
Pria lulusan Fakultas Syari’ah dan Hukum di UIN Syarief Hidayatullah Ciputat ini juga aktif membuat tulisan baik makalah, jurnal hingga buku. Ada sekitar 27 karya yang telah dipublikasikan sejak tahun 2010.
Pria kelahiran 1984 tersebut mengatakan, saat ini tengah konsen membela nasib para nelayan Jakarta Utara yang terkena dampak proyek reklamasi. Ia berharap pemerintah tidak melanjutkan proyek tersebut, karena akan menggusur masyarakat kecil.
”Saya melihatnya, reklamasi itu hanya kepentingan pengembang. Rakyat (nelayan-red) ditumbalkan,” tukasnya. (Wahyu/RBG)










