SERANG – Dua warga asal Kecamatan Pabuaran berstatus janda yang diketahui bernama Eti Suhaeti dan Rokhayati menjadi korban perdagangan orang (human trafficking) di Kalimantan Tengah. Keduanya selamat setelah berhasil kabur dari kafe yang melayani jasa seksual para hidung belang, tempat mereka bekerja.
Eti diketahui sebagai warga Kampung Ciwaluran, Desa Pabuaran. Sementara Rokhayati warga Kampung Kadubamban, Desa Pasanggrahan. Awalnya Eti dan Rokhayati mendapat tawaran pekerjaan dari orang tak dikenal melalui sambungan telepon seluler satu pekan lalu. Keduanya dijanjikan bakal bekerja di sebuah kafe dengan iming-iming gaji menggiurkan. Kedua korban pun menerima tawaran pelaku. Tanpa sepengetahuan orangtua, keduanya meminta dijemput pelaku di kediamannya untuk diberangkatkan ke Kalimantan Tengah.
Setibanya di kafe yang dijanjikan pelaku, keduanya malah dipaksa melayani hasrat para lelaki hidung belang. Keduanya berontak dan langsung melarikan diri keluar dari kafe. Di perjalanan, Eti dan Rokhayati bertemu dengan seorang purnawirawan TNI yang tinggal tak jauh dari kafe yang dijadikan tempat prostitusi itu. Purnawirawan TNI kemudian membantu Eti dan Rokhayati dengan membelikan tiket hingga mengantar mereka ke bandara untuk kembali pulang ke kampung halaman.
Mendapat laporan itu, jajaran Pemkab beserta unsur kepolisian dan TNI langsung menjemput Eti dan Rokhayati di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (27/1). Eti dan Rokhayati sempat dibawa ke RSUD dr Dradjat Prawiranegara Serang untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Serang Oyon Suryono membenarkan, dua warga Kabupaten Serang yang berdomisili di Kecamatan Pabuaran menjadi korban perdagangan orang. Atas perintah Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, pihaknya langsung menjemput kedua korban di bandara dan menyerahkannya kepada orangtua masing-masing. Kedua korban, kata Oyon, merupakan wanita dewasa berstatus janda.
“Sabtu malam langsung kita antar ke rumahnya dalam keadaan selamat,” ungkap Oyon yang dikonfirmasi Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Minggu (28/1).
Berdasarkan kronologi yang diceritakan korban, kata Oyon, korban dijemput pelaku di kediamannya untuk berangkat ke Kalimantan Tengah pada tengah malam pekan lalu. Jumat (26/1), kedua korban melarikan diri dari tempat mereka bekerja.
“Korban berontak dan lari karena dipaksa pelaku untuk melayani pria hidung belang. Belum sempat melakukan (melayani pria hidung belang-red) karena langsung melarikan diri,” terangnya.
Oyon mengaku, menyerahkan kasus perdagangan manusia yang nyaris menjerat warganya itu kepada pihak kepolisian dan berharap dapat ditindaklanjuti. “Supaya tidak ada lagi kasus yang sama menimpa warga kita,” harapnya.
Oyon mengimbau warga lebih berhati-hati menerima tawaran kerja dari seseorang atau lembaga yang keabsahannya belum jelas. Khawatir, kasus dengan modus serupa dialami warga lainnya.
“Kalau yang mengajak kerja belum jelas legalitasnya, jangan mau. Harus dicari tahu dulu kebenarannya,” imbaunya.
Sementara itu, Kabid Pelayanan pada RSUD dr Dradjat Prawiranegara Serang Neneng Nurhasanah yang juga menerima kedua korban saat menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap kedua korban di ruangan instalasi gawat darurat (IGD). Neneng memastikan, kedua korban dalam kondisi sehat.
“Trauma juga tidak ada. Kita berikan obat saja karena kelelahan di perjalanan,” ucapnya. (Rozak/RBG)










