Cerita kali ini mungkin bisa kita sebut sebagai pengakuan dosa seorang lelaki, sebut saja namanya Panjul (32) nama samaran, yang beberapa hari lalu menceritakan kisah rumah tangganya bersama sang istri, sebut saja Mona (28). Rumah tangga yang membuahkan satu anak itu sempat tergores luka karena tingkah Panjul. Aih, kenapa sih, Kang?
“Kejadiannya tuh tiga tahun lalu saat saya usia 29 tahun dan istri 25 tahun. Waktu itu saya khilaf selingkuhin dia,” kata Panjul kepada Radar Banten.
Suatu hari lantaran usia yang semakin dewasa, sang ayah memperkenalkan Panjul dengan anak rekan sekerja di kantor, sebut saja Mona. Perempuan cantik berkulit putih dan berambut lurus itu bak kembang yang sedang ranum. Senyum manis disertai lesung pipinya, membuat lelaki terkagum-kagum.
Panjul sebenarnya lelaki mapan. Hidup dengan harta tercukupi dari orangtua, ia menjalani hari layaknya anak raja, apa yang diminta, pasti terlaksana. Tapi anehnya, mungkin karena tampangnya yang biasa dan sifatnya yang manja, ia sulit mendapatkan wanita. Oalah. Kok begitu sih, Kang?
“Ya, sebenarnya mah banyak yang mau, tapi kan kadang yang suka dekat sama saya tuh cuma ngarep duitnya doang. Intinya saya tuh lelaki yang suka pilih-pilih kalau urusan wanita,” aku Panjul kepada Radar Banten.
Seperti diceritakan Panjul, dulu sebenarnya Mona tidak mau dinikahkan dengannya. Katanya sih, banyak orang dibilang, Mona dan Panjul bagai langit dan bumi. Jauh perbedaannya. Panjul biasa saja, tak tampan dan terkesan wajah kampungan, sedangkan Mona cantik luar biasa.
Ketika pertama melihat, Panjul jatuh cinta. Ia pun mengutarakan keinginan kepada sang ayah. Jadilah urusan cinta mereka diatur kedua orangtua. Kabarnya, waktu itu Mona sempat menangis lantaran tak mau dijodohkan dengan Panjul. Tapi karena desakan ayahnya, Mona terpaksa bersedia memakai kebaya untuk melangsungkan acara pertunangan. Astaga. Pemaksaan ini namanya, Kang.
“Saat itu saya enggak tahu kalau dia enggak setuju. Di depan saya mah diam saja, mungkin takut dimarahi ayahnya,” terang Panjul.
Sebulan kemudian, mereka melangsungkan pernikahan. Mona terlihat cantik di pelaminan, bersanding dengan Panjul yang mengenakan gaun pengantin mewah. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri dan bersiap membangun bahtera rumah tangga.
Di awal pernikahan, Mona mencoba menerima Panjul apa adanya. Melayani semua keperluan suami, membuat Mona menjadi istri idaman lelaki. Sang suami pun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sang istri. Mulai dari membeli rumah, sampai kendaraan pribadi, semua hanya untuk sang istri. Pokoknya, apa pun yang Mona minta, pasti dikabulkan oleh Panjul.
Yang namanya pengantin baru, wajar jika banyak diserang pertanyaan dari orangtua terkait kehamilan. Dan yang terjadi, Mona tak kunjung mendapat kabar gembira itu. Berkali-kali mencoba tapi sia-sia, mereka sering datang ke klinik dan dokter kehamilan untuk konsultasi agar segera diberi momongan.
Tapi apalah daya, mungkin Tuhan masih belum mengabulkan, Mona dan Panjul masih belum dikaruniai keturunan. Sejak saat itulah keduanya bersikap cuek dan tak romantis lagi. Padahal, baru berjalan dua tahun pernikahan, bukannya bersabar dan terus berusaha. Mungkin karena masih belum bisa bersikap dewasa, mereka mudah terpancing amarah.
Meski begitu, seperti kata pepatah habis gelap terbitlah terang, doa setiap malam dan usaha yang dilakukan Mona tak sia-sia. Impiannya sebagai wanita mulai terwujud saat ia dinyatakan hamil. Sembilan bulan mengandung, hadirlah bayi mungil buah hati keduanya.
Sejak saat itu hubungan Mona dan Panjul perlahan membaik. Sikap perhatian yang penuh kasih sayang, amat sangat dirasakan Mona. Panjul sendiri mengaku, waktu itu sangat bahagia. Mendapat anak dari istri tercinta, ia seperti lelaki yang paling sempurna di dunia.
“Ya, pas ada anak tuh rasanya beda. Pokoknya mau kerja secapek apa pun kalau sudah lihat anak, semua lelah jadi hilang,” kata Panjul.
Namun, apa mau dikata, kebahagiaan nyatanya tak selaras dengan keabadian. Setahun setelah kehadiran sang buah hati, Panjul malah tergoda wanita lain. Sontak hal itu membuat keharmonisan yang tercipta memudar begitu saja. Mona hanya bisa menitikkan air mata.
“Awalnya saya cuma main-main cari sensasi ke perempuan kenalan teman. Enggak tahunya dia merespons balik, ya sudah deh jadi kebablasan,” aku Panjul. Aih, kebablasan bagaimana maksudnya, Kang?
“Cuma panggil sayang-sayangan dan jalan berdua doang kok, enggak lebih,” terangnya. Memang waktu itu ketahuannya bagaimana, Kang?
Panjul menarik napas panjang, pandangan matanya jauh melayang ke masa lalu, masa di mana ia terjerumus ke dunia kelam perselingkuhan. Hari itu Panjul memang sudah membuat janji dengan wanita simpanannya untuk makan di salah satu restoran ternama di Tangerang.
Sesampainya di lokasi, ia dan sang wanita tampak bahagia. Makan menu mewah ala orang kaya, keduanya saling menebar cinta terlarang. Tak lama kemudian, datang seorang wanita mendekati. Sambil berbicara dengan nada kesal, wanita itu pergi sambil mengancam akan melaporkan kepada Mona. Aih.
“Ternyata dia sahabat baik istri saya. Beberapa kali pernah ketemu, waktu itu dia kelihatan marah banget,” aku Panjul.
Keesokan harinya, seperti apa yang sudah dibayangkan, Panjul dan Mona mengalami keributan panjang. Kecewa, marah, kesal semua bercampur di hati Mona. Seharian mereka saling beradu mulut, Panjul pun bertanya tentang masa depan rumah tangga. Tak disangka, Mona membuat Panjul terenyuh.
“Dia bilang, terserah mau selingkuh atau pergi dari rumah asal kita jangan pisah. Nasib dan masa depan anak kita harus jadi yang utama,” kata Panjul mengikuti ucapan istrinya.
Sadar akan apa yang dilakukannya sudah melewati batas kewajaran, Panjul minta maaf. Ia pun segera berlutut mencium tangan Mona. Meski awalnya Mona menolak dan mengaku sudah terlanjur sakit hati, seminggu kemudian hubungan keduanya mulai membaik.
Panjul dan Mona pun kembali melanjutkan bahtera rumah tangga. Mereka saling mengintrospeksi diri masing-masing. Hebatnya, tak lama setelah kejadian itu, Mona dinyatakan positif hamil lagi, kini mereka mempunyai dua anak yang lucu. Rumah tangga pun berjalan penuh kebahagiaan.
Selamat ya, Kang Panjul dan Teh Mona. Semoga ini jadi pelajaran berharga bagi Kang Panjul agar tidak mengulangi kesalahan lagi. (daru-zetizen/zee/dwi)








