SERANG – Kepala Stasiun Geofisika BMKG Kelas 1 Tangerang Teguh Rahayu meminta masyarakat Banten untuk tidak termakan berita bohong atau hoax terkait ancaman gempa dan tsunami.
Menurut Rahayu, masyarakat Banten wajar merasa khawatir pascaterjadi gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, sebab sebelumnya gempa juga terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Tapi, kekhawatiran itu jangan berlebihan. Kita harus tetap waspada, tapi juga harus tetap tenang. Jangan sampai termakan hoax,” kata Rahuyu kepada Radar Banten melalui sambungan telepon, Jumat (5/10).
Ia menambahkan, untuk mengetahui sebuah informasi sebagai berita benar atau bohong, masyarakat bisa mengecek institusi atau lembaga yang bertanggung jawab dalam informasi tersebut. “Apakah ada nomor kontaknya atau tidak. Kalau enggak ada, itu jelas hoax,” ungkap Rahayu.
“Masyarakat juga harus berhati-hati karena bisa jadi setelah menerima berita bohong di media sosial lalu ikut menyebarkan. Harusnya masyarakat jadi pemutus penyebaran rantai berita bohong. Namun, tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang muncul dalam penanganan sebuah bencana,” tambahnya.
Ia melanjutkan, akhir-akhir ini banyak research yang muncul di tengah-tengah masyarakat yang dilakukan oleh para peneliti terkait potensi gempa di suatu wilayah. Pada prinsipnya, semakin banyak research yang dilakukan semakin banyak pengetahuan yang didapatkan. Pentingnya upaya pengurangan risiko terhadap bencana gempa bumi merupakan salah satu hal penting yang dapat dilakukan masyarakat melalui mitigasi, baik mitigasi secara mandiri maupun yang dilakukan oleh instansi pemerintah seperti BMKG dan BPBD.
“Hal inilah yang perlu ditekankan kepada masyarakat agar dapat memitigasi diri dan keluarga terdekat. Sejauh ini ilmu pengetahuan baru dapat memperkirakan potensi tsunami. Namun, hal ini tentu saja setelah didahului terjadinya gempa bumi sebelumnya,” urai Rahayu.
Kepala BMKG yang akrab disapa Ayu itu melanjutkan, gempa pembangkit tsunami biasanya memiliki empat ciri khusus. Pertama, lokasi episenter terletak di laut. Kedua, kedalaman pusat gempa relatif dangkal, kurang dari 70 kilometer. Ketiga, memiliki magnitudo besar lebih dari 7,0 skala Richter. Keempat, mekanisme sesarannya adalah sesar naik (thrusting fault) dan sesar turun (normal fault).
“Gempa di Sulteng memenuhi ciri-ciri itu sehingga terjadi tsunami,” tegasnya.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten M Juhriyadi mengatakan, BPBD dan BNPB terus melakukan berbagai upaya antisipasi dan mitigasi bencana. “Di Banten juga sering terjadi kabar hoax soal gempa dan tsunami, itu membuat masyarakat semakin panik,” katanya.
Juhriyadi menambahkan, gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah harus semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih waspada dan tetap siaga. “Gempa dan tsunami adalah tetangga kita. Kita bisa hidup harmonis bersama potensi bencana tersebut dengan melakukan langkah mitigasi pengurangan risiko. Seperti di negara lain yang memiliki ancaman bencana gempa tsunami yang lebih besar dari Indonesia, tetapi negara tersebut dapat menjadi sejahtera dan maju dengan langkah mitigasi,” ungkapnya. (Deni S/RBG)










