SERANG – Perusahaan Umum (Perum) Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) Cabang Serang pada 2019 berencana akan membuka dua trayek baru untuk menunjang kawasan wisata yaitu Serang-Ciboleger dan Serang-Tanara.
Manajer Operasional Perum DAMRI Cabang Serang Kosasih mengatakan, 2018 pihaknya mengajukan banyak rute. Namun, baru dua rute yang disetujui dari hasil survei Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Wilayah VIII Provinsi Banten. “Rencana Serang-Ciboleger dan Serang-Tanara,” ujarnya kepada Radar Banten di ruang kerjanya, Rabu (17/10).
Kata Kosasih, faktor yang mendorong pembukaan rute ke dua wilayah itu karena banyak dikunjungi wisatawan. Ke Tanara orang banyak berkunjung untuk berziarah atau wisata religi. Ke Ciboleger orang berkunjung ke kawasan Baduy. “Ya memang kedua wilayah tersebut sangat membutuhkan transportasi. Apalagi ini mendorong layanan pariwisata,” terangnya.
Sebelumnya, kata dia, pihaknya berencana membuka beberapa rute lain. Misalnya Serang-Bojongmanik, Serang-Gadog, Serang-Pasirnangka, Serang-Carita-Labuan, Merak-Panimbang, Merak-Cipanas, dan antar-kota. “Awal Oktober kemarin pihak BPTD melakukan survei. Dua rute itu yang mungkin bisa terealisasikan tahun 2019,” katanya.
General Manager Perum DAMRI Cabang Serang Suhendra berharap keberadaan rute-rute yang ada tetap berjalan sesuai dengan rencana DAMRI. Sementara untuk penambahan rute bisa segera direalisasikan. “Kita memang inginnya ada penambahan rute lebih banyak. Tapi memang ada beberapa hal kendala. Semuanya bisa diselesaikan apabila semua pihak bisa bersama-sama berkomunikasi,” katanya.
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Banten Ade Hidayat mengungkapkan, berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Perum DAMRI beberapa waktu lalu, pihaknya mengetahui beberapa kendala yang dihadapi DAMRI, misalnya DAMRI mendapatkan penolakan Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) saat akan membuka trayek baru. “Iya memang kendalanya di Organda. Dalam waktu dekat. Awal bulan depan kami akan bertemu dengan Organda,” pungkasnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Sekretaris Organda Provinsi Banten Ii Sadrai membantah jika pihaknya menjadi salah satu kendala keberadaan operasional DAMRI. Menurutnya, keberadaan DAMRI yang terkadang berubah fungsi. Sebagai angkutan perintis malah membuka trayek yang sudah ada. “Ya memang selama ini sering bentrok antara Organda dan DAMRI,” katanya.
Kendati demikian, pihak Organda tidak menutup komunikasi dengan pihak DAMRI. Keberadaan DAMRI di satu sisi membantu masyarakat dan tidak mengganggu keberadaan pengusaha lokal. “Prinsipnya DAMRI sebagai angkutan perintis. Namanya perintis berarti trayeknya belum dilegalkan oleh Dishub,” katanya.
“Keberadaan DAMRI memang harganya lebih murah karena mendapat subsidi dari pemerintah. Tetapi juga harus ada keseimbangan (tarif) terhadap pengusaha lokal,” pungkasnya. (Fauzan D/RBG)










