CILEGON – Isu maraknya lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT) di Kota Cilegon ternyata terdeteksi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilegon. Hal itu dilihat dari adanya peningkatan kasus HIV AIDS di kalangan LGBT, khususnya yang menimpa kaum ‘laki suka laki’ (LSL).
Berdasarkan data dari Dinkes Cilegon, jumlah kasus HIV AIDS yang menimpa kaum LSL pada 2015 sebanyak sembilan orang. Pada 2016, kasus tersebut naik hingga 17 orang. Bahkan di tahun 2017, pengidap HIV AIDS dari kaum LSL semakin bertambah menjadi 33 orang. Sementara di 2018 hingga bulan September, Dinkes Cilegon mendeteksi 30 orang kaum LSL di Cilegon mengidap HIV AIDS.
“Jadi, jika dirata-ratakan kenaikan kasus HIV AIDS dari kaum LSL kurang lebih 100 persen. Ini sangat mengkhawatirkan mengingat perkembangan jumlah kasus dari kaum heteroseksual dan transgender cenderung menurun,” kata Kepala Dinkes Kota Cilegon dr Arriadna, usai memimpin acara Sosialisasi Pemetaan Populasi Kunci (LSL, Waria, WPSTL dan WPS) Program HIV AIDS dan IMS di Kota Cilegon 2018, Selasa (16/10) siang.
Arriadna menambahkan, pihaknya kesulitan untuk melakuan pembinaan terhadap kaum LSL. Mengingat kaum tersebut bersifat eksklusif dan tertutup dari para petugas Dinkes Cilegon. “LGBT itu lebih kepada lifestyle masyarakat menengah ke atas. Mereka cenderung eksklusif dan tertutup dari kami. LSL sulit kami jangkau, padahal mereka terbukti memiliki kans tinggi terhadap penyebaran HIV AIDS,” imbuhnya.
Perkembangan LGBT pun, lanjutnya, membuat para ibu rumah tangga semakin rawan terhadap HIV AIDS. Mengingat, walau pun LSL menyukai sesama jenis, tetapi rata-rata dari mereka menjalin rumah tangga normal. “Dari data yang kami miliki, secara global kaum ibu masih berada di peringkat tertinggi jumlah kasus HIV AIDS di Cilegon. Ada sejumlah faktor, mulai dari si ibu adalah mantan WPS (wanita penjaja seks) atau si ibu memiliki suami yang senang belanja WPS. Nah, faktor ini bertambah ketika si ibu memiliki suami kaum LSL. Sehingga, ibu menjadi pihak yang paling rentan mendapatkan HIV AIDS,” tuturnya.
Untuk itu, pihaknya berharap kaum LSL terbuka dalam program pencegahan penyebaran HIV AIDS. “Seperti halnya kaum transgender, kami berhasil mengontrol dan mencegah penyebaran HIV AIDS setelah mereka terbuka. Kami pun berharap LSL seperti itu. Sebab, saat ini kaum LSL cukup rentan tertular HIV AIDS,” tandas Arriadna.
Sementara itu, Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi di sela pembukaan TMMD ke-103 Kodim 0623/Cilegon menyatakan, tidak akan memberi ruang LGBT berkembang di Cilegon. “Kalau terdeteksi ada, akan kita basmi. Itu penyakit yang juga bisa menyebabkan alam murka,” tegasnya. (Andre AP/RBG)









