Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Yatim Mandiri selama dua hari (19-20/10) menggelar Olimpiade Matematika dan Alquran (Omatiq) 2018 tingkat sekolah dasar, di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta. Olimpiade itu pesertanya khusus anak yatim dan duafa dari semua provinsi di Indonesia, termasuk dari Provinsi Banten.
Deni Saprowi – SERANG
Di saat ratusan siswa SD, SMP, dan SMA perwakilan kabupaten kota mengikuti peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 tingkat Provinsi Banten, di Plaza Aspirasi samping Gedung DPRD Banten, Kamis (18/10) pagi, enam siswa SD justru mendatangi gedung DPRD Banten, tepatnya ruang Komisi V yang berada di lantai dua.
Keenam siswa itu terdiri dari empat anak perempuan dan dua anak laki-laki. Mereka tiba di ruang Komisi V sekira pukul 10.00 WIB didampingi dua pembimbing dan dua pengurus Yayasan Yatim Mandiri Provinsi Banten. Kedatangan mereka diterima langsung Ketua Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan di ruang rapat Komisi V.
Wajah polos keenam siswa itu nampak lucu saat Fitron mempersilakan mereka untuk duduk di kursi yang biasa digunakan anggota Komisi V melakukan rapat internal. Diketahui, keenam siswa SD itu merupakan anak yatim, yang selama ini dibina oleh Yayasan Yatim Mandiri Provinsi Banten. Hebatnya lagi, mereka adalah enam siswa terbaik hasil seleksi ketat pengurus yayasan untuk mewakili anak yatim dari Banten dalam Olimpiade Matematika dan Alquran (Omatiq) tingkat nasional 2018.
Satu per satu, mereka kemudian memperkenalkan diri. Meskipun tampak malu-malu, tetapi mereka tampak antusias karena mendapat sambutan hangat dari anggota DPRD Banten. “Nama saya Zhafir, kelas empat SD Cinanggung. Saya akan ikut olimpiade matematika,” kata Zhafir saat memperkenalkan diri.
Dalam kesempatan itu, Zhafir memohon doa agar dirinya diberikan kemudahaan dan kelancaran saat mengikuti olimpiade. “Mohon doanya agar berhasil menjadi juara saat lomba,” tuturnya.
Sementara Nindia, usai memperkenalkan diri sempat melantunkan ayat suci Alquran di hadapan Ketua Komisi V DPRD Banten karena dirinya akan mengikuti olimpiade Alquran.
Zhafir bersama Salman dan Chelsea, ketiganya akan mengikuti olimpiade matematika. Sementara Nindia, Salmi, dan Siti Fauziah akan mengikuti olimpiade Alquran.
Ketua Cabang Yayasan Yatim Mandiri, Andi Setiadi mengatakan, kedatangan rombongan Yayasan Yatim Mandiri Banten ke DPRD untuk meminta dukungan dan doa karena enam anak yatim binaannya akan berangkat ke Jakarta mengikuti Olimpiade Matematika dan Alquran. “Kita kirim enam orang, masing-masing tiga siswa untuk cabang matematika dan tiga siswa untuk cabang Alquran. Kami berharap dengan dilepas oleh Ketua Komisi V DPRD Banten, anak yatim binaannya semakin semangat mengikuti olimpiade demi meraih prestasi,” kata Andi.
Ia melanjutkan, sebelum menentukan enam siswa tersebut, pihaknya melakukan seleksi dari 40 lebih anak yatim binaannya. “Mereka ini yang terbaik, yang akan mewakili Banten untuk olimpiade besok (hari ini),” tutur Andi.
Terkait Yayasan Yatim Mandiri Cabang Banten, Andi mengaku, baru mendapat SK pada awal 2018. Namun, pengurus yayasan komitmen melakukan pembinaan dan pemberdayaan anak yatim melalui program pendidikan, pengembangan minat dan bakat, serta kesehatan.
“Ada sekitar 50 anak yatim yang kami bina saat ini. Khusus untuk program pendidikan, kami membuka Sanggar Genius Yatim Mandiri Banten, yang tersebar di sejumlah tempat, di antaranya Sanggar di Kecamatan Baros, Cikepuh dan Kepandean, Kabupaten dan Kota Serang,” ungkapnya.
Dalam olimpiade yang babak penyisihan dilakukan Jumat (19/10) dan babak final Sabtu (20/10) itu, diikuti 210 peserta perwakilan semua provinsi di Indonesia. “Omatiq tahun ini merupakan yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh Yatim Mandiri. Perbedaan dengan tahun sebelumnya, pertama dari sisi jumlah pesertanya. Tahun pertama, kurang dari 100, tahun kedua kurang dari 200, tahun ini 210 anak yang menjadi pesertanya,” ungkapnya.
“Secara nasional, Yatim Mandiri memiliki 4.000 sanggar, hanya 210 peserta yang lolos seleksi ketat di setiap kantor cabang,” tambah Andi.
Sebelum mengikuti olimpiade itu, para siswa yang terdiri atas anak yatim dan duafa itu telah diajari pelajaran matematika dan Alquran di Sanggar Genius. Menurut Andi, kedua pelajaran itu merupakan ilmu dasar yang kelak dapat menjadi bekal pendidikan pada jenjang selanjutnya. “Matematika dan Alquran dipilih karena kami ingin membekali kebutuhan dasar bagi kehidupan mereka kelak,” ungkapnya.
Sementara pendamping anak yatim dalam olimpiade, Nurdin menambahkan, olimpiade terbesar untuk anak yatim dan duafa digelar selama tiga hari (19-21/10). Total hadiah untuk para pemenang Omatiq kali ini juga cukup besar, yaitu senilai Rp135 juta. “Selain mendapat hadiah, para peserta juga nantinya akan diajak wisata edukasi di Jakarta,” ujar Nurdin.
Sementara Ketua Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan mengaku, bangga kepada anak yatim yang akan mewakili Banten dalam olimpiade tingkat nasional. “Harus semangat dan percaya diri, semoga Banten meraih juara umum. Artinya, juara satu, dua, dan tiga semuanya diraih oleh peserta dari Banten. Ini sangat inspiratif,” kata Fitron memotivasi.
Ia menambahkan, para anak yatim di Yayasan Yatim Mandiri harus terus belajar, bukan hanya saat mau mengikuti olimpiade, tapi setiap hari.
“Ini harus jadi catatan bagi Dinas Pendidikan di Banten bahwa ada kemampuan secara mandiri dari masyarakat. Pemerintah ke depan harus mengorganisir stakeholder-stakeholder yang memang peduli terhadap pendidikan,” katanya
Menurut Fitron, urusan pendidikan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Dalam hal ini diperlukan juga peran serta masyarakat. “Dengan adanya Yayasan Yatim Mandiri bisa menjadi inspirasi untuk kemudian pemerintah dapat mengorganisir para stakeholder. Kita juga jadi tahu mana yang sudah dikerjakan oleh pemerintah, mana yang belum, dan mana yang dikerjakan oleh stakeholder,” ungkapnya.
Fitron memberikan apresiasi kepada Yayasan Yatim Mandiri Banten yang akan mengirimkan anak yatim Banten ke pentas nasional, yakni Olimpiade Matematika dan Alquran di Jakarta. “Komisi V memberikan apresiasi kepada stakeholder yang membantu meningkatkan pendidikan di Banten. Terutama pengurus dan pengajar di Yayasan Yatim Mandiri,” tuturnya. (*)








