Uwi (39) nama samaran mengaku, bukan hal mudah menjalani rumah tangga di usia muda. Terlebih sang suami, sebut saja Mudi (41), juga masih berjuang menempuh kesejahteraan dengan segala keterbatasan pendidikan. Apa mau dikata, tak mau menahan tekanan rumah tangga, Uwi yang saat itu berusia 24 tahun dan Mudi 26 tahun, terkadang tak bisa mengontrol emosi.
“Saya dan Kang Mudi awalnya mengira, ya meski kesulitan, kita bisa terus berjuang bersama dan bahagia. Tapi, kenyataannya beda sama apa yang kita bayangkan,” curhat Uwi kepada Radar Banten.
Katanya, dahulu Uwi termasuk siswi berprestasi. Terlahir dari keluarga sederhana, ia tumbuh menjadi wanita mandiri yang berjuang guna memiliki kehidupan yang lebih baik. Bahkan, ia sempat berjualan produk kecantikan secara online untuk menambah uang jajan.
Dianugerahi paras nan cantik, tak membuat Uwi lupa diri. Sikapnya yang baik dan suka menolong orang lain, membuatnya memiliki banyak teman. Tak heran ketika berlangsung pernikahan, banyak tamu undangan yang datang. Anak kedua dari lima bersaudara itu sosok wanita sempurna.
Tak jauh berbeda dengan Uwi, Mudi pun sebenarnya lelaki baik. Banyak teman Uwi mengatakan bahwa hubungan mereka sangat cocok, dan inilah yang membuktikan kalau Tuhan itu maha adil, wanita baik pasangannya dengan lelaki baik juga.
Berparas tampan dan berpenampilan menawan, Mudi banyak digilai kaum hawa. Apalagi kalau sudah aktif berkegiatan di organisasi sekolah, uh, pesonanya luar biasa. Sampai-sampai membuat Uwi jatuh cinta. Berkenalan di sekolah tercinta, keduanya saling memiliki rasa satu sama lain. Cie… masa sih, Teh?
“Ya begitulah, Kang. Makanya, kami percaya diri menuju jenjang pernikahan juga ya karena banyak yang bilang kami serasi,” curhatnya.
Tapi, seperti diceritakan Uwi, mungkin lantaran Mudi anak lelaki satu-satunya, ia sempat mendapat penolakan keras dari keluarga ketika memutuskan menikah di usia muda. Parahnya, sang ibu pun sebenarnya sudah menasihati Uwi ketika main ke rumah sang kekasih. Aih-aih.
“Ya, kita sih dinasihatin gitu, Kang. Sekolah dulu beresin, kalau sudah selesai, cari kerja, baru deh nikah. Ya, itu mah biasalah, namanya juga orangtua,” kata Uwi.
Hingga akhirnya lulus sekolah, mereka pun memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Mudi dan Uwi resmi menjadi sepasang suami istri. Lantaran masih ingin hidup mandiri, keduanya tinggal di kontrakan sederhana.
Di awal pernikahan, Mudi menjadi sosok suami yang penuh perhatian. Ya, meski terkadang masih suka kekanak-kanakan, ia mencoba mengubah sikap saat bersama teman-teman. Ini sih katanya komitmen bersama, maklumlah, di luar rumah kan banyak wanita yang jauh lebih menggoda.
Hal serupa dialami Uwi, ia yang sebelumnya sering kelayapan berama teman-teman, semenjak menikah menjadi lebih banyak diam. Menjaga perasaan sang suami, Uwi tak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman. Seiring berjalannya waktu, kabar membahagiakan itu datang, Uwi mengandung anak pertama.
Namun siapa sangka, di tengah kebahagiaan itu ternyata tantangan semakin besar. Kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik, membuat Mudi dan Uwi kewalahan. Meski begitu, mereka masih bisa mengontrol diri. Hingga lahirnya sang buah hati, Mudi dan Uwi bahagia. Hubungan keduanya semakin mesra. Dengan kehadiran anaknya, Uwi semakin sibuk mengurusi si bayi yang perlu sentuhan penuh. Sementara Mudi masih sibuk mencari nafkah.
Suatu hari, seperti kata pepatah lama badai pasti berlalu, kabar gembira pun datang. Mudi mendapat pekerjaan dengan upah lumayan besar. Saat itu tentu Uwi ikut senang. Bulan pertama dan kedua, Mudi mengaku ingin membahagiakan orangtua. Setengah upah kerjanya diserahkan ke keluarga.
Namun apalah daya, apa yang dikatakan ternyata berebeda dengan kenyataan. Berjanji akan membiayai istri dan anaknya, Mudi malah jarang pulang seolah melupakan tanggung jawab. Sejak saat itu, Uwi mulai mencium kecurigaan. Aih, kok gitu sih, Teh?
“Saya juga bingung, Kang. Waktu itu dia kayak hilang gitu saja. Pernah sih pulang, tapi sikapnya berbeda, enggak kayak biasanya,” curhat Uwi.
Yang membuat Uwi geram, bukannya hadir di samping istri yang tengah mengurusi sang buah hati, dengan alasan sibuk bekerja, sang suami malah tinggal di rumah orangtua. Seakan tak ada tanggung jawab terhadap rumah tangga, Mudi mengelak ketika istrinya meminta ditemani. Aih-aih, ini sih namanya suami tak tahu diri.
Mungkin karena tak tega melihat Uwi tak berdaya, naluri sang ibu muncul menjadi pelindung. Diantar keluarga dan saudara, ibunda Uwi datang menemui Mudi. Meski awalnya berlangsung tenang, saat tak kunjung mendapat jawaban atas apa yang seharusnya Uwi dapatkan, pertemuan malam itu berubah penuh ketegangan. Bukannya keluar menemui sang ibu mertua, Mudi malah mengurung diri di kamar.
“Heh, keluar kamu Mudi, enak-enakan tinggal di rumah, enggak tahu apa anak saya capek-capek mengurus anak. Dasar suami enggak tanggung jawab,” begitu omelan sang ibu ketika menerabas masuk ke depan pintu kamar Mudi.
Tak terima atas kelancangan keluarga Uwi, ibunda Mudi menyeret paksa ibu Uwi. Keributan pun tak dapat dihindari. Kedua keluarga itu saling mencaci maki. Seolah tak dapat lagi menemukan solusi, malam itu menjadi penuh dendam. Beruntung masih bisa dipisahkan warga.
Parahnya, sejak kejadian itu, bagai hilang ditelan bumi, Mudi tak pernah datang menemui Uwi. Hingga dua bulan kemudian, terdengarlah kabar kalau Mudi akan dinikahkan dengan wanita lain. Hubungan rumah tangga yang tak jelas arahnya, akhirnya berakhir mengecewakan, Mudi memutuskan perceraian. Astaga.
Sabar ya Teh Uwi. Semoga diberi ketabahan dan ditemukan jodohnya lagi. Nikah muda itu baik, tapi alangkah lebih baik jika menyelesaikan terlebih dahulu apa yang harus diselesaikan. (daru-zetizen/zee/dwi)









