Mungkin lantaran habis kesabaran, Nunung (38), nama samaran, tak lagi peduli pada apa yang dilakukan sang suami, sebut saja Jono (39). Rumah tangga bak kapal yang terombang-ambing di tengah lautan, mereka mengalami keributan hebat. Warga dan tetangga yang melihat hanya bisa menonton sambil menyebar kejelekan ke orang banyak. Aih-aih, kok begitu, Teh?
“Waktu itu saya usia 29 tahun dan Kang Jono 30 tahun. Saya sih sudah enggak peduli orang mau ngomong apa tentang saya. Toh, mereka juga tahu, siapa yang salah,” curhat Nunung kepada Radar Banten.
Nunung bercerita, sewaktu muda Jono memiliki paras tampan dengan kulit sawo matang. Kalau dibayangkan, katanya, Jono Syahruk Khan-nya Indonesia. Ah, masa sih Teh? Lebay amat.
“Ya dulu mah memang benar begitu, Kang. Dia ceweknya banyak,” ungkapnya.
Nunung mengaku, awalnya ia juga tertarik dengan penampilan Jono yang nyentrik. Lelaki yang dulu sering berganti kekasih di sekolah itu mampu menarik perhatian kaum hawa dengan mudah. Dengan rambut lurus belah tengahnya, Jono menjadi magnet bagi cewek-cewek remaja di kampungnya.
Meski begitu, di kehidupan yang serba kekurangan, Jono lupa kalau masa depan tidak selamanya dihadapi dengan berleha-leha. Hingga suatu hari, selepas menamatkan pendidikan SMA, seolah tak punya arah dan tujuan, jangankan kuliah, kerja pun tidak.
Keseharian Jono dijalani seperti laytaknya ia punya harta melimpah. Bangun siang, makan, main, tidur, begitu terus setiap hari. Akhirnya, lantaran geram melihat kelakuan Jono yang semakin hari semakin tak karuan, ia didesak ayahnya untuk segera menikah.
Menurut pendapat Nunung, apa yang ada dalam pikiran ayah Jono, hanya dengan jalan itulah harapan akan membaiknya perilaku sang anak bisa terwujud. Tidak ada hujan tidak ada badai, mungkin karena tak siap menuju pernikahan, kekasih Jono saat itu memilih mundur. Jono kecewa, kata mesra dan rayuan manis selama pacaran tak bisa dibuktikan.
“Ya waktu itu sih saya dan teman-teman yang lain enggak tahu karena masalah apa putusnya. Setelah dia dekati saya dan curhat, baru deh saya mengerti,” aku Nunung.
Karena sudah cinta sejak lama, ketika Jono mengungkapkan rasa, Nunung mengiyakan dan siap menjadi pasangan hidupnya. Entah mengapa, Nunung pun tak bisa menjelaskan alasan Jono memilih dirinya, padahal banyak perempuan lain yang lebih menarik dan cantik. Aih, langsung diterima dan menikah? Memang waktu itu enggak takut kecewa, Teh?
“Ya, saat itu mana saya kepikiran hal itu. Dulu mikirnya sih ya mungkin sudah jodoh, terus sayanya juga memang suka, jadi ya beginilah!” akunya.
“Ditambah lagi waktu itu dia janji, setelah menikah bakal mengubah sikap lebih dewasa,” terang Nunung.
Beruntung, di awal masa pernikahan, Jono termasuk suami yang bertanggung jawab. Meski masih tinggal satu atap bersama orangtua, ia selalu bisa mengambil hati ayah dan ibunya dengan sikap dewasa yang ia tunjukkan. Bersama Nunung, ia membangun bahtera rumah tangga keluarga kecilnya.
Mengetahui perubahan sikap Jono yang perlahan mulai menemukan jati diri, tentu sang ayah turut berbahagia. Meski demikian, Nunung mengaku, saat itu Jono masih belum bisa hidup mandiri. Ketika sang ayah menyuruhnya tinggal di rumah kontrakan, sang suami menggeleng tak bersuara.
Hingga akhirnya, kabar bahagia itu pun datang. Nunung mengandung anak pertama. Jono dan keluarga menyambut gembira. Sembilan bulan kemudian, sang anak pun lahir. Dengan rasa bersyukur yang teramat besar, Jono dan keluarga memperlakukan Nunung dan sang anak penuh kasih sayang.
Seiring berjalannya hari, mungkin malu selalu menumpang di rumah orangtua, Jono pun bersedia mengajak istri dan anaknya tinggal di rumah kontrakan. Hari-hari baru dilalui bersama, keduanya menikmati rumah tangga sederhana dengan segala kekurangannya.
“Kerasa banget pas tinggal di kontrakan tuh apa-apa harus beli sendiri. Bahkan sering mengalami kehabisan beras dan makan mi instan,” curhat Nunung.
Dengan status suami sebagai pekerja di salah satu pabrik di Kabupaten Serang, biaya hidup sebenarnya tercukupi. Uang kontrakan dan makan sehari-hari masih bisa dinikmati. Namun hingga sang anak beranjak balita, Nunung mengaku, mulai merasa ada yang aneh dengan suami. Aih, kenapa Teh?
“Saat itu suami mulai jarang kasih uang. Sekalinya minta suka marah-marah, kadang ngasih juga jumlahnya sedikit, enggak kayak biasanya,” kata Nunung.
Hingga suatu malam selepas isya, sang anak menangis tak henti-henti. Tak lama, seorang warga yang tak lain teman semasa sekolah bertamu. Tak disangka, kedatangannya saat itu membawa kabar menyakitkan. Sang tamu bercerita, ia melihat Jono tengah membonceng wanita lain.
“Saat itu saya enggak langsung percaya. Tapi, setelah diceritakan, Jono sedang pamer dan membuktikan kalau ia punya banyak pacar kepada mantan saat SMA, yang ternyata tinggal tak jauh dari jalan utama, barulah saya mulai khawatir,” ungkap Nunung.
Keesokan harinya, Nunung mendatangi rumah sang mantan Jono sesuai alamat yang diberikan temannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, meski niat awal ingin silaturahmi, nyatanya, melalui mulut sang mantan Jono tersebut, pengakuan pun terjadi. Aih, ada apa Teh?
“Katanya, beberapa minggu lalu, Kang Jono sempat datangi dia buat minta balikan. Tapi karena dia tahu Jono sudah punya anak istri, dia menolak. Sejak saat itu Kang Jono sering pamer lewat depan rumah jalan sama cewek lain,” kata Nunung seperti diceritakan sang mantan Jono.
Tak sanggup menahan emosi, Nunung pulang dengan amarah di hati. Melihat suami baru pulang bekerja, ia tak peduli, dimarahinya Jono dengan emosi tingkat tinggi. Jono tak terima, keributan pun tak dapat dihindari. Beberapa warga yang terganggu akan keributan mereka, ramai-ramai menonton di depan rumah. Seminggu kemudian, Jono dan Nunung pun sepakat menuju jalan perceraian.
Ya ampun, sabar ya Teh Nunung. Semoga lekas mendapat suami yang jauh lebih baik lagi. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)








