• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Berita Utama Sosial Budaya

Rela Didua Asal Gaya

Aas Arbi by Aas Arbi
Kamis, 3 Januari 2019 20:41
in Sosial Budaya
0
Rela Didua Asal Gaya
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Ada peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Tampaknya tak berlaku bagi Emah (31), nama samaran, yang ditemui wartawan di sebuah warung miliknya di Pontang. Emah saat itu hanya memakai pakaian daster bergemericik gelang di tangan, kalung di leher, dan anting di telinga berlapiskan emas layaknya Bu Bariah yang ada di kisah dongeng anak-anak zaman dulu berjudul ‘si Unyil’.

Emah termasuk ciri-ciri wanita matrealistis. Buktinya, Emah lebih memilih menjadi istri kedua ketimbang mempertahankan rumah tangga yang sudah lama dibinanya bersama sang suami, sebut saja Ubed (35), nama samaran. Persoalannya sepele, hanya karena Emah enggak mau diajak hidup senang. Bingung kan? Maksudnya, enggak dikasih nafkah sama suami ‘senang’, setiap hari makan nasi campur garam doang juga ‘senang’. Hehehe.

Intinya faktor ekonomilah, Emah ogah merasakan penderitaan dalam berumah tangga.
Awalnya kehidupan rumah tangga Emah dan Ubed yang berprofesi sebagai petani baik-baik saja. Pasangan yang sudah dikaruniai satu anak yang masih balita ini, masih menerima keadaan. Apalagi, ekonomi Emah sedikit terbantu setelah ditopang dengan usaha membuka warung. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit hati Emah terusik dengan sikap tetangga yang suka pamer mulai dari pamer perhiasan sampai mobil baru, belanja, hingga seringnya jalan-jalan setiap akhir pekan. Merasa dilecehkan, Emah akhirnya banyak menuntut terhadap suami yang pendapatannya hanya cukup buat makan.

Sikap Emah mulai berubah 180 derajat ingin mengejar hasrat layaknya kehidupan tetangga. Minta uang buat beli make-up buat bersoleklah, minta uang belanja, sampai minta jatah uang buat jalan-jalan. Tak digubris sama sang suami, Emah pun geram dan mencari pelarian dengan mendekati lelaki lain yang lebih mengerti kebutuhannya. Namun, lelaki yang didekati Emah sudah beristri. “Saya realistis saja Kang (menyebut wartawan-red). Zaman sekarang kalau suami jarang kasih duit, mending cari lagi,” cetus Emah.

Emah pun mulai bermain api dengan suami orang, istilah zaman now itu Emah termasuk perempuan pelakor alias pencuri laki orang, dan mulai mengesampingkan kehadiran suami dalam kehidupannya. Namun, sikap Emah yang semakin hari semakin menunjukkan sikap janggal membuat sang suami semakin curiga dan mulai menyelidiki apa yang terjadi.

Setelah mengetahui Emah main hati dengan lelaki lain, Ubed bukannya menegur, malah membalas kelakuan buruk Emah dengan mencari pelarian sama halnya dengan Emah, yakni kencan dengan wanita lain. Oalah, ini ibarat kata air susu dibalas air galon tiga rebu.

Sejak itu semakin hari kehidupan rumah tangga mereka sudah tidak harmonis lagi. Sampai akhirnya setahun kemudian mereka mereka tak bisa mempertahankan rumah tangganya karena keduanya saling memilih selingkuhannya masing-masing. Yaelah. Terang saja, lelaki yang dijumpai Emah selalu memenuhi kebutuhan Emah meski berstatus sudah beristri. Emah bahkan sampai rela jadi yang kedua asal bisa bergaya. Ya salam… “Sudah enggak ada chemistry sama Kang Ubed,” akunya. Bilang saja sama-sama buaya. Wkwkwk.

Singkat cerita, Emah pun jadi istri kedua selingkuhannya, sebut saja Boni. Bukannya menikmati hari-harinya sebagai istri kedua yang bisa membuatnya bahagia, Emah malah jatuh ke jurang yang lebih dalam. Jeng jeng jeng. Setelah resmi dimadu, Emah baru mengetahui jika sifat suami barunya pelit alias cap jahe. Tidak sampai di situ, Emah juga selalu mendapat cacian dan makian setiap bertemu dengan istri tua sang suami. Ya nasib.

“Malah makin pusing jadi istri kedua. Setiap hari di rumah terus. Suami selalu bilang enggak ada kalau saya minta uang. Padahal, saya tahu duitnya banyak,” keluhnya.

Emah bahkan harus menerima kenyataan pahit setelah ditalak suami keduanya atas permintaan istri pertama. Beruntung, Emah bertemu jodohnya kembali berprofesi sebagai karyawan pabrik yang tak lain tetangganya sendiri. Emah akhirnya menjalani profesinya semula membantu suami membuka usaha warung warisan ibu tercinta. Mudah-mudahan langgeng ya, Mbak dengan suami barunya, amin. (Haidaroh/zai/dwi)

Tags: Love Story
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Mengakui Dinodai, Gadis 18 Tahun Jalani Visum di RSUD Adjidarmo

Next Post

Manchester City vs Liverpool: Duel ‘Final’ Guardiola-Klopp

Next Post
Manchester City vs Liverpool: Duel ‘Final’ Guardiola-Klopp

Manchester City vs Liverpool: Duel 'Final' Guardiola-Klopp

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Golkar Banten Bagikan Masker kepada Warga Terdekat Gunung Anak Krakatau

Golkar Banten Bagikan Masker kepada Warga Terdekat Gunung Anak Krakatau

by Abdul Rozak
Senin, 7 September 2026 22:20
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID - Partai Golkar Provinsi Banten turun tangan membantu masyarakat mengantisipasi dampak negatif abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak...

Ribuan Pelayat Padati Rumah Duka KH Ahmad Fudholi di Sindang Sono

Ribuan Pelayat Padati Rumah Duka KH Ahmad Fudholi di Sindang Sono

by Mulyadi
Senin, 7 September 2026 18:36
0

Pelayat KH Ahmad Fudholi.

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.