Rasa haru dan kebanggaan atas raihan prestasi menyelimuti hari ke-21 gelaran road show Bintang Sains 2019 di Kecamatan Cinangka di gedung PGRI, Kamis (7/2). Dua peserta dari sekolah terdampak tsunami, yakni Nakila Aulia Putri dari SDN Pasauran 1 dan Ikbal dari SDN Pasauran 2 menjadi bagian dari sepuluh finalis dan mempersembahkan medali mereka untuk korban tsunami di kawasan Anyar-Cinangka.
Di Kecamatan Cinangka, Bintang Sains 2019 diikuti 199 peserta dari 35 sekolah. Setelah melewati penyisihan, tersisa 66 peserta yang masuk babak penentuan hingga mengerucut menjadi sepuluh finalis. Seluruh peserta yang mengikuti lomba terlihat tegang. Seperti biasa, peserta berguguran pada pertanyaan esai. Seperti Novia Indah Sari, siswi kelas V SDN Bulakan yang keluar dari arena karena salah menjawab soal. Ia mengaku senang meski gagal melaju ke final. “Tadi lupa jawabannya, padahal semalam sudah belajar,” ujarnya.

Sepuluh finalis Kecamatan Cinangka didominasi peserta dari SDIT An-Nadzir empat peserta. Lainnya dari SDN Ciparay dua peserta, satu peserta dari SDN Pasauran 1, satu peserta dari SDN Pasauran 2, satu peserta dari SDN Kamasan 1, dan satu peserta dari SDN Kosambi. Kesepuluh finalis diberikan medali dan piagam yang diserahkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Kesiswaan Bidang Sekolah Dasar (SD) pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang Aat Supriyadi, Pengawas Cinangka Wasita dan Hamzah, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Cinangka M Yani, dan Wakil Ketua PGRI Cinangka Dedi.
Salah satu finalis yang sekolahnya terdampak tsunami, yakni Nakila Aulia Putri dari SDN Pasauran 1 mengaku bangga menjadi bagian dari sepuluh finalis mewakili Kecamatan Cinangka. Nakila mengaku sempat ikut mengungsi bersama teman-teman satu sekolah dan para guru setelah sekolahnya terdampak tsunami. “Semua peralatan sekolah sempat hilang. Tapi, alhamdulillah, saya bangkit dan bisa kasih prestasi untuk orangtua. Medali dari Bintang Sains ini saya persembahkan untuk korban tsunami,” ucapnya.

Guru pendamping siswa SDN Pasauran 1 Yuliah mengaku terharu dan bangga salah satu siswanya menjadi bagian dari sepuluh finalis. Menurutnya, kesuksesan Nakila merupakan bukti bahwa ia bisa bangkit pascatsunami. “Pas tsunami sekolah kami terendam air laut. Alhamdulillah, hari ini (kemarin-red) kami bisa bangkit,” tegasnya.
Terkait itu, Kasi Kesiswaan Bidang SD Dindikbud Kabupaten Serang Aat Supriyadi mengapresiasi dua siswa yang sekolahnya terdampak tsunami mampu lolos sebagai finalis Bintang Sains. “Siswa tangguh dan luar biasa. Mereka mampu menguasai mental dan kondisi psikologis pascatsunami hingga menjadi pemenang,” ucapnya. (Haidaroh/RBG)










