Melupakan masa lalu yang menyimpan banyak kenangan tak semudah membalikkan telapak tangan. Begitulah yang dialami Marno (34) nama samaran. Setelah kehidupan ekonominya meningkat berkat menikahi wanita kaya raya, sebut saja Titi (33) Marno malah selingkuh dengan mantan kekasih. Rumah tangga mereka pun berakhir perceraian.
Parahnya rumah tangga itu terjadi tiga tahun lalu. Marno pun mengaku menyesal karena tak bisa menahan godaan sang mantan pascapernikahannya dengan Titi. Padahal, tak sedikit pengorbanan yang diberikan Titi kepada Marno, seperti memberikan rumah, mobil, bahkan pekerjaan. Astaga. Enggak tahu diri ya. “Kalau saja waktu itu saya bisa nolak ajakan makan malam, mungkin semuanya enggak bakal kayak gini,” sesalnya. Makanya, jangan mata keranjang.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Curug, Kota Serang, Marno siang itu tampak murung duduk di sudut rumah makan masakan Padang. Berawal dari obrolan singkat, kisah pahit rumah tangga Marno terkuak.
Perjumpaannya dengan Titi bermula di suatu perkumpulan organisasi kemasyarakatan. Waktu itu Marno berstatus senior di organisasi, Titi juniornya. Pandangan pertama begitu menggoda, wajah Titi yang cantik dengan lesung pipitnya dari pipi hingga jidat, serta bermata sayu, bukan sayang uang ya! cukup menarik perhatian Marno.
“Kalau lihat dia senyum itu, lesung pipitnya bikin saya deg-degan,” akunya. Buaya sih begitu udah biasa.
Sejak itu, diam-diam Marno yang bertampang pas-pasan dengan modal percaya diri mencari tahu banyak hal tentang Titi melalui temannya. Mengetahui Titi anak orang berada di kampungnya, Marno semakin bersemangat mengejar cinta sang dara. Dasar cowok matre. Bermodalkan nomor ponsel, Marno pun mengeluarkan jurus playboynya berpura-pura menelepon dengan modus menanyakan kegiatan organisasi. Marno disukai banyak perempuan di organisasi karena wibawa dan sikap dewasanya sebagai senior. Apalagi, saat itu Marno juga bekerja sebagai salah satu pengurus partai politik (parpol). Jadi wajar kalau di organisasi ia dihormati dan disegani. “Saya mah penampilan doang keren. Padahal di rumah kekurangan. Bapak sama ibu cuma petani,” akunya. Ngaku juga.
Sebulan lebih mendekati Titi dan memberi perhatian lebih seperti rela pulang malam mengantar Titi setiap hari pulang ke rumah, Marno nekat menyatakan cinta. Pucuk dicinta ulam tiba, pernyataan cinta Marno disambut Titi yang juga menaruh simpatik. Akhirnya, mereka resmi berpacaran. Sejak menjalin hubungan, Titi mulai menunujukkan sikap cemburu setiap Marno didekati wanita lain meski urusan organisasi dan mulai overprotektif. “Karena dilarang dan saya juga sibuk kerja, jadinya jarang ngumpul,” keluhnya. Bagus dong ngambek, tandanya cinta.
Namun, saat itu Marno menerima sikap Titi. Sejak itu hubungan mereka semakin harmonis hingga melangkah ke arah lebih serius. Tak mau membuang kesempatan, Marno melamar Titi dan mereka pun menikah dengan pesta cukup meriah. Mengawali rumah tangga, Marno sementara tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Marno kaya mendadak, menjalani hidup bak raja. Beruntungnya Marno, istrinya juga melayani dengan penuh cinta di rumah. Tak heran semakin hari bobot tubuhnya kian bertambah. “Makan tinggal makan, pengen apa-apa tinggal minta,” katanya. Dasar pemalas.
Melihat Titi, Marno mengaku selalu tak bisa menahan hasrat berahinya. Apalagi istrinya kerap mengenakan baju tidur transparan. Seolah mengerti kemauan suami, Titi selalu bereaksi mematikan lampu dan menutup rapat pintu dan jendela kamar. “Itu yang selalu sayang ingat dari Titi, bisa mancing libido suami,” akunya. Dasar omes.
Setahun berumah tangga, mereka dikaruniai anak pertama. Dari situ pula, kerjaan Marno menuai konflik. Ia ribut dengan rekan kerjanya masalah keuangan kantor. Marno dituduh korupsi hingga dipecat dari pekerjaan dan menjadi pengangguran. Beruntung Marno mempunyai Titi. Keluarga istri langsung menawarkan pekerjaan kepada Marno mengurus gudang sembako milik keluarga istri di Pandeglang. Sejak itu, ekonomi Marno meningkat dan bisa membeli rumah sederhana di lingkungan baru.
Tiga tahun berumah tangga, lahirlah anak kedua. Suatu hari, Marno sedang menjalankan tugasnya memantau karyawan mendistribusikan sembako ke pasar. Tak sengaja ia bertemu dengan mantan kekasih sewaktu di pesantren dulu, sebut saja Esih. Saat itulah, kenangan indah keduanya bangkit kembali. Marno tergoda dan mulai coba-coba main api. “Saya ingat dulu waktu masih ama Esih itu suka berkirim surat, ketemuan diam-diam di permakaman belakang gedung pesantren, sampai ketahuan berduaan dan dihukum di lapangan. Jadi pengen ngulang masa lalu,” kenangnya. Ngomong aja pengen selingkuh.
Dari pertemuan itu, keduanya saling menyapa dan bertukar nomor telepon. Marno tergoda karena sosok Esih yang berubah menjadi lebih cantik, ditambah penampilannya yang seksi. Awalnya Esih yang menggoda dengan menelepon Marno mengajak keluar dan makan berdua. Tentu saja Marno menerima ajakan itu dan berbohong kepada Titi dengan alasan ingin menemui teman. Padahal, ketemuan dengan mantan di Alun-alun Pandeglang. Dari pertemuan pertama itu dan meninggalkan banyak cerita, Marno ketagihan. Sejak itu, Marno banyak menghabiskan waktu dengan mantan. Mulai dari jalan-jalan ke tempat wisata hingga berbelanja sampai nekat meninggalkan kerjaan. Kondisi itu pun mendapat respons negatif dari karyawannya yang langsung melaporkan kondisi itu kepada Titi. Tentu saja kondisi itu membuat Titi curiga. Keeseokan harinya, Titi diam-diam membuntuti Marno dan memergoki suaminya itu sedang ketemuan dengan Esih di dalam mobil. “Waktu itu sampai ramai ribut di pinggir jalan,” kesalnya. Yaiyalah, sudah seharusnya, tahu diri dong.
Hari itu juga Titi langsung meminta cerai. Marno pun pulang ke kampung halaman dengan tangan hampa. Semua harta diambil alih istrinya. Saat ini Marno bekerja sebagai penjual buah keliling. “Gara-gara mantan saya jadi lupa daratan,” sesalnya. Ambil hikmahnya aja bang. Semoga segera dapat istri baru dan enggak tergoda mantan. (mg06/zai/ags)










