SERANG – Tarif mudik bus antar-kota antar-provinsi (AKAP) di wilayah Banten naik 30 persen. Kenaikan tersebut diklaim berdasarkan hasil penetapan tarif atas dan tarif bawah (Tuslah) antara pemerintah dan organisasi angkutan darat (organda) jelang arus mudik. Tarif penyesuaian tersebut mulai berlaku 23 Mei hingga 16 Juni 2019.
Berdasarkan informasi di Terminal Pakupatan Kota Serang, sejumlah perusahaan otobus (PO) AKAP serentak mengeluarkan kenaikan tarif 30 persen. Kenaikan tarif dipajang tiap bagian dalam ruangan transit tiap PO. Kenaikan tarif menjadi langganan tiap tahun jelang Lebaran.
Pengurus PO Budiman Perwakilan Serang, Usep, mengaku kenaikan tarif Lebaran berdasarkan hasil dari tuslah yang ditetapkan pemerintah dan Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda). “Kenaikan 30 persen. Itu hasil tuslah,” katanya kepada Radar Banten, Selasa (28/5).
PO Budiman melayani tiga trayek. Semua trayek ke wilayah Jawa Barat dengan Bus AC. Trayek Serang-Tasik sebelumnya berkisar Rp130 menjadi sekira Rp160.000. Trayek Serang-Banjar sebelumnya berkisar Rp150.000 menjadi Rp190.000 dan Serang-Pangandaran sebelumnya berkisar Rp160.000 menjadi Rp200.000. “Kami tak selundup-selundup, yang jelas kan transparan. Penumpang pun, tak banyak mengeluh,” terangnya.
Kendati demikian, kata Usep, sampai saat ini belum ada lonjakan penumpang. Namun, untuk mengantisipasi lonjakan pihaknya telah menyiapkan armada cadangan. Biasanya, tiap bus mampu mengangkut 36 sampai 39 penumpang. “Kalau normal kita hanya empat bus. Jelang Lebaran begini ada tambahan, tergantung permintaan,” imbuhnya.
Salah satu calon penumpang asal Tasikmalaya, Sumardi, mengaku tak aneh menjelang Lebaran terjadi kenakan tarif. “Biasanya juga naik, 20 sampai 30 persen. Wajar saja. Harapannya sih enggak naik. Tapi kalau lihat harga BBM naik, jadi wajar,” ungkapnya.
Menurutnya, kenaikan tarif Lebaran harus diimbangi dengan pelayanan. Ia berharap, kenyamanan selama perjalanan mudik sebanding kenaikan tarif. Misalnya, fasilitas di dalam bus maupun keamanan barang bawaan. “Kan itu ditempel harganya. Sudah jadi keputusan. Ya kita mah ngikut. Asalkan sebanding antara ongkos dan pelayanan,” tandasnya.
Kondisi serupa terjadi pada trayek Serang-Malingping bagian Banten Selatan. Warga biasa membayar sekira Rp50.000. Kini dikenakan tarif sekira Rp75.000. “Naik PS (sebutan mobil elf) ongkos Rp75.000. Katanya mau Lebaran. Tapi, tadi temen naik Damri Rp50.000,” kata salah satu penumpang asal Malingping, Usy Tria Agustina.
BELUM ADA LONJAKAN
Sementara Danru Terminal Merak PO Primajasa, Iwan Hermawan, menjelaskan, sampai kemarin jumlah pengguna jasa bus masih seperti biasanya, belum terjadi lonjakan signifikan. Iwan memperkirakan lonjakan penumpang berpotensi meningkat hingga 10 persen dari jumlah pemudik tahun lalu.
Lonjakan penumpang diperkirakan akan mulai terjadi sejak 29 Mei. “Harga tiket juga baru akan naik di tuslah tanggal 29, itu khusus Primajasa, kenaikannya bisa mencapai 25 persen,” ujar Iwan.
Hal senada diungkapkan Danru Terminal Merak PO Arimbi Budihartono. Menurutnya, dengan adanya kenaikan harga tiket pesawat pasti akan berpengaruh terhadap pengguna jasa bus.
Namun jumlahnya tidak akan signifikan karena saat ini banyak pemudik yang telah memiliki kendaraan pribadi. “Kalau tiketnya mahal, pasti banyak beralih, cuma kan yang punya mobil dan motor banyak jadi enggak semua,” tuturnya.
Sejauh ini peningkatan penumpang belum terasa dampaknya, kemungkinan hal itu baru akan terasa pada puncak arus mudik. “Banyaknya sekarang mah yang dari Jakarta mau ke Sumatera sana pak,” tuturnya.
Soal potensi kenaikan harga, menurut Budi, Arimbi telah menyiapkan jumlah kenaikan harga tiket. Namun, ia belum bisa memberitahukan besarannya karena dikhawatirkan ada pihak yang menyalahgunakan informasi tersebut. (fdr-bam/air/del/ags)









