SERANG – Kesadaran para petani di Provinsi Banten untuk mengikuti asuransi masih minim. Padahal, apabila sawah puso, para petani bisa mendapatkan klaim mulai dari Rp4 juta sampai Rp10 juta.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Banten Agus M Tauchid mengaku, baru 73 petani padi sawah yang berasuransi usaha tanaman padi. “Realisasinya baru 774,97 hektare dari target 12 ribu hektare,” ujar Agus, Minggu (7/7).
Agus merinci realisasi asuransi usaha tanaman padi itu, yakni di Kabupaten Pandeglang 562,32 hektare dan Kabupaten Serang 212,65 hektare. Sedangkan kabupaten kota lain belum.
Menurutnya, selain penyuluhan terkait upaya peningkatan produksi dan pencegahan hama, pihaknya sedang gencar menyosialisasikan asuransi usaha tanaman padi tersebut. “Hal ini penting sebagai jaring pengaman ketika tanaman padi petani mengalami gagal panen,” ujar Agus.
Premi untuk asuransi usaha tanaman padi itu, yakni Rp36 ribu per hektare per musim. Apabila terjadi kegagalan, kekeringan, kebanjiran, hama, dan puso, para petani dapat klaim asuransi yang jumlahnya bisa mencapai Rp4 juta.
Kata Agus, keberadaan asuransi usaha tanam padi itu semakin tampak diperlukan karena berdasarkan data per 2 Juli, terdapat 9.843 hektare lahan tanaman padi mengalami kekeringan.
Secara umum, sawah yang mengalami kekeringan terjadi di empat wilayah di Banten. Yakni, Pandeglang seluas 9.019 hektare dengan rinciannya 5.403 hektare kategori ringan, 3.321 hektare sedang dan 295 berat. Kabupaten Lebak seluas 455 hektare yang seluruhnya kategori ringan.
Kemudian, Kabupaten Tangerang seluas 97 hektare dan seluruhnya masuk kategori ringan. Lalu, Kabupaten Serang seluas 272 hektare dengan rincian 256 hektare kategori kekeringan ringan dan 16 hektare kategori sedang.
Agus mengatakan, pihaknya terus mendata dan mengecek ke lapangan petani yang belum mengikuti asuransi. “Kami arahkan untuk ikut asuransi,” tuturnya.
Namun, apabila gagal panen, bantuan cadangan benih daerah juga bisa diberikan kepada petani yang gagal panen dan tanam. “Berapa pun yang diminta kami berikan,” tutur Agus.
Tak hanya asuransi usaha tanaman padi, Distan dan Jasindo juga bekerja sama untuk asuransi usaha ternak sapi kerbau. Agus mengatakan, dari target 1.050 ekor, realisasinya 100 ekor. Jumlah itu terdiri dari Kabupaten Pandeglang tujuh ekor, Kabupaten Lebak 30 ekor, Kota Serang 20 ekor, Kota Cilegon enam ekor, dan Kabupaten Tangerang 37 ekor. “Jumahnya hanya sembilan peternak,” ujarnya.
Kata dia, premi untuk asuransi usaha ternak sapi kerbau, yakni Rp40 ribu per ekor. Sedangkan klaimnya bisa mencapai Rp10 juta. Agus berharap, apabila para petani mengikuti asuransi, kegagalan panen tidak terlalu membuat petani merugi. Namun, saat ini jumlah petani yang sadar asuransi masih kurang. “Padahal preminya lebih murah ketimbang membeli rokok,” tandas Agus.
Terkait asuransi usaha ternak sapi kerbau, ia mengatakan, apabila melihat tragedi tsunami akhir tahun 2018 lalu, banyak sapi dan kerbau mati. “Akhirnya merugi. Kalau diasuransikan kan bisa mendapat klaim,” tutur Agus. (Rostinah-Supriyono/RBG)








