Bangunan rumah bernuansa Betawi Udik mulai bermunculan. Salah satunya berada di Jalan Raden Saleh, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang. Rumah Budaya Betawi yang diresmikan 7 Agustus 2019 itu akan menjadi destinasi wisata baru.
Untuk memasuki Rumah Budaya Betawi tersebut, pengunjung harus melewati gang sempit dengan luas hanya 1,5 meter. Gang sempit itu hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Jaraknya kira-kira sepuluh meter dari jalan utama, Jalan Raden Saleh, yang sangat padat dengan kendaraan.
Meski demikian, pengunjung yang datang tak surut lantaran merasa kangen dan ingin kembali ke masa lalu. Mereka ingin melihat dan merasakan kembali kediaman ala Betawi tempo dulu.
Luas Rumah Budaya Betawi itu memang tidak terlalu luas. Hanya berukuran 5×10 meter. Bangunan di bagian depan dibuat dengan bahan dasar kayu bercorak kecokelatan yang merupakan ciri khas rumah orang Betawi masa lalu. Sepasang ondel-ondel berpakaian berwarna dasar merah dengan kain sarung abu-abu yang diselendangkan semakin memperkuat nuansa Betawi.
Pada bagian dalam rumah, tembok-temboknya dibuat dari anyaman bambu. Pintu dan jendela dengan bahan dasar kayu itu juga semakin menggambarkan rumah Betawi yang kini jarang ditemui. Ornamen seperti lampu damar totok dan hiasan kaligrafi dan foto pelopor rumah Betawi, Hartoto, yang mengenakan pakaian silat beksi juga semakin memperkuat karakter permukiman Betawi.
Budaya Betawi memang sangat lekat dengan warga Kota Tangerang. Namun, seiring waktu berjalan, budaya Betawi terkesan terpinggirkan. Orang tidak lagi mengenal berbagai budaya dan ornamen Betawi lantaran gempuran budaya asing yang sangat masif lewat berbagai media di jagat teknologi.
Selain bangunan ala rumah kuno Betawi, di Rumah Budaya Betawi juga ditampilkan berbagi kebudayaan Betawi seperti tari-tarian, silat beksi, dan penampilan palang pintu. “Di sini akan dijadikan pusat pembelajaran budaya Betawi, mulai dari budaya hingga makanan juga. Nanti kami akan minta warga sekitar untuk menjual makanan khas Betawi untuk dijual ke pengunjung,” ungkap Hartoto, Pembina Komunitas Seni Budaya Betawi (KSBB).
Dengan diresmikannya Rumah Budaya Betawi, harapannya, menjaga kelestarian budaya Betawi di tengah gempuran budaya luar. “Bicara budaya berarti bicara tentang agama, tata krama, jadi jangan hanya mengingat gadget saja,” ungkap anggota DPRD Kota Tangerang itu.
Di samping rumah budaya, lanjut Hartoto, ia juga bekerja sama dengan pemuda Karang Tengah yang memproduksi Kopi Harum Manis. “Biji kopinya kami beli dari luar, tapi yang membuat asli orang Karang Tangah. Kami juga menjual bir pletok, minuman dan makanan betawinya,” urainya.
Ke depan, Rumah Budaya Betawi Udik itu akan diisi berbagai pertunjukan seperti tari, silat, dan pengajian. “Rencananya kami juga akan membuat taman bacaan,” pungkasnya.
Sementara Camat Karang Tengah Matrobin berencana menjadikan Rumah Budaya Betawi sebagai destinasi wisata baru. Oleh karena itu, pihaknya berencana memasang papan nama dan papan petunjuk arah, mengingat lokasinya yang sulit untuk diakses.
“Kami upayakan semaksimal mungkin agar lokasi ini dapat menjadi destinasi wisata, tiap event kami akan tampilkan produk kopi andalan kami agar cepat dikenal,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang Rina Hernaningsih mengatakan, Pemkot Tangerang menyambut baik kehadiran kampung budaya Betawi. “Pembinaan nanti ada dari kami. Bahkan kalau ada kegiatan festival budaya, nanti akan kami ajak,” ujarnya.
Rina mengapresiasi masyarakat yang peduli dengan kelestarian budaya di Kota Tangerang. Ke depannya, Rina berharap, setiap kecamatan memiliki rumah budaya yang dapat menampung berbagai kearifan lokal kota multietnis ini.
“Di sini saya melihat ada ketertarikan masyarakat dalam melestarikan budaya. Ini sangat positif dan dapat menjadi destinasti wisata di Kota Tangerang,” imbuhnya. (HAIRUL ALWAN)










