Hari Rabu lalu, pukul 14.39, pesan masuk ke WhatsApp. Kalimat pembukanya langsung membuat hati seperti berhenti sejenak.
Innalillahi wainnailaihi rojiun.
Kabar duka datang.
Setelah dibaca, saya cukup terkejut. Yang meninggal ternyata putri dari Ail Muldi. Kawan, dosen, yang juga Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Untirta. Usianya baru tujuh tahun.
Namanya: Kinara Shabira Ulya.
Yang langsung muncul di benak saya justru pertanyaan sederhana: sakit apa? Peristiwa apa? Karena usianya masih sangat belia. Anak-anak.
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, telepon berdering. Panggilan masuk dari sahabat saya, Agung. Saat diangkat, ternyata sama. Menyampaikan kabar duka tentang kepergian ananda Kinara. Putri ketiga pasangan Ail Muldi dan Radita Phitaloka.
Saya baru bisa datang esok harinya. Tidak sempat mengantar Kinara ke peristirahatan terakhir. Kinara telah dimakamkan sekitar pukul empat sore sehari sebelumnya.
Di sela suasana takziah, saya mencoba mencari tahu tentang sakit yang dialami Kinara. “Anak saya kena penyakit langka. Namanya neuroblastoma,” kata Ail.
Mendengar kata neuroblastoma, tentu sangat asing bagi saya. Saya bahkan meminta Ail mengulang penyebutannya untuk memastikan saya tidak salah dengar.
Ail lalu menjelaskan sedikit tentang penyakit itu. “Ini jenis kanker. Anak saya kenanya di belakang dekat ginjal. Kalau rontgen biasa sering tidak kelihatan karena posisinya dekat tulang belakang,” lanjutnya.
Karena disebut penyakit langka, rasa penasaran saya makin besar. Saya mulai mencari berbagai referensi. Neuroblastoma ternyata merupakan jenis kanker yang banyak menyerang anak-anak usia dini. Terutama balita.
Dalam situs alodokter.com, neuroblastoma adalah jenis kanker yang berkembang dari neuroblast atau sel-sel saraf yang belum matang. Kanker ini umumnya terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun.
Untuk memastikan informasi yang saya dapat tidak keliru, saya meminta Pemred Disway, Tri Broto, membantu mengkonfirmasi kepada dokter spesialis kanker anak.
Saya menitipkan beberapa pertanyaan pokok. Konfirmasi kemudian diperoleh dari dr. Ronald Alexander Hukom, Sp.PD-KHOM, MHSc, FINASIM. Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Jakarta.
Dr Ronald bertugas di beberapa rumah sakit di Jakarta, di antaranya RS St. Carolus, RS Kanker Dharmais, dan RS Pondok Indah. Ia merupakan dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik, yang menangani kanker dan kelainan darah.
Menurut dr Ronald, neuroblastoma memang termasuk kanker yang tidak banyak ditemukan. Kasus pada anak, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus kanker terbanyak adalah leukemia atau kanker darah, sekitar 34,8 persen dari total sekitar 11 ribu kasus kanker anak setiap tahun. Setelah itu limfoma atau kanker kelenjar getah bening sekitar 5,7 persen, dan tumor otak sekitar 5,7 persen.
Sementara neuroblastoma jumlahnya jauh lebih sedikit.
Gejala umum neuroblastoma, kata dr Ronald, antara lain nyeri perut, muntah, hilang nafsu makan, berat badan turun, nyeri tulang, demam, sesak napas, hingga kelumpuhan.Karena itu, jika anak mengalami gejala-gejala seperti itu secara berulang dan tidak biasa, orang tua disarankan segera berkonsultasi ke dokter.
Saya juga bertanya: apakah neuroblastoma bisa disembuhkan?
Menurut dr Ronald, harapan sembuh sebenarnya cukup besar, terutama jika terdeteksi pada stadium dini. Penanganannya bisa melalui operasi, kemoterapi kombinasi, radioterapi, maupun imunoterapi. “Kalau stadium dini dan belum ada penyebaran jauh, peluang sembuhnya masih besar,” katanya.
Di dunia, tiap tahun diperkirakan ada sekitar 10 ribu sampai 11 ribu kasus neuroblastoma. Sedangkan di Indonesia, jumlahnya hanya beberapa ratus kasus.
Penjelasan dr Ronald membuat saya ingin mengetahui lebih jauh apa yang sebenarnya dialami Kinara selama ini.
Kemarin saya kembali menemui Ail.
Kenapa saya datang lagi? Karena penyakit ini bisa menyerang anak siapa saja. Dan saya merasa banyak orang tua perlu tahu. Agar tidak terlambat mengenali gejalanya. Agar segera mendapat penanganan.Ail lalu menceritakan perjalanan panjang sakit yang dialami Kinara.
Sejak usia sekitar tiga tahun, Kinara mulai sering sakit. Tapi saat itu belum ada dugaan mengarah ke neuroblastoma.
Gejalanya memang sangat mirip lupus.
Suhu tubuh Kinara sering sangat tinggi. Bisa mencapai 40 sampai 41 derajat. Tidak turun dengan paracetamol biasa. Kalaupun turun, hanya bertahan sekitar dua jam, lalu panas tinggi lagi.
Saat usia sekitar 4,5 tahun, Kinara mulai lebih sering sakit dan rutin dibawa berobat. Berbagai pemeriksaan dilakukan. Bahkan sampai dibawa ke RS Harapan Kita. Dugaan awal masih lupus. Baru setelah pemeriksaan lebih mendalam, saat usia sekitar empat tahun sepuluh bulan, Kinara diketahui menderita neuroblastoma.
Ail lalu menjelaskan lebih lengkap gejala-gejala yang dialami putrinya.
Mulai dari pusing, panas tinggi, lemas, ngilu di kaki dan tangan, susah makan, hingga tubuh yang sangat lemah. Bahkan untuk ke kamar mandi pun kadang harus digendong. “Kalau jalan, ngilunya makin terasa,” kata Ail.
Kinara juga sulit tidur pulas. Sering terbangun tiba-tiba seperti kaget. Dalam semalam bisa berkali-kali terbangun.
Selain itu, Kinara menjadi lebih mudah emosi. “Mungkin karena menahan sakit dan pusing,” ujar Ail pelan.
Gejala lain yang juga dialami adalah sulit buang air besar dan buang air kecil.
Saya sengaja menulis ini karena saya merasa banyak orang tua perlu tahu.
Penyakit langka sering justru terlambat dikenali karena dianggap sakit biasa.
Padahal waktu menjadi sangat penting.
Ajal memang tidak mengenal usia. Tetapi Tuhan juga mengajarkan umatnya untuk terus berikhtiar.
Terus berusaha. Terus mencari jalan kesembuhan. Dan mungkin, lewat kisah kecil Kinara ini, ada orang tua yang menjadi lebih peka. Lebih cepat menyadari. Lebih cepat memeriksakan anaknya.
Selamat jalan, Kinara Shabira Ulya.
Anak kecil yang mungkin belum banyak mengenal dunia, tetapi sudah meninggalkan begitu banyak cinta dan pelajaran bagi orang-orang di sekitarnya.
Dalam keyakinan kita, anak-anak yang wafat akan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan kelak, dengan tangan kecilnya, mereka akan menuntun orangtuanya menuju surga.
Semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu, Nak. Dan menguatkan hati Ayah dan Ibumu yang kini harus belajar merelakan dengan cara paling berat. (*)








