SERANG – Sampah masih menjadi masalah krusial di kabupaten kota di Banten. Sudah bertahun-bertahun penumpukan sampah menjadi pemandangan tidak sedap di wajah kabupaten kota. Tumpukan sampah itu biasanya menggunung di area kawasan dekat pasar, area perumahan, di lahan-lahan kosong, dan sebagainya.
Pantauan Radar Banten di Kota Serang, tumpukan sampah juga terlihat di kawasan yang tidak jauh dari kantor pemerintahan. Misalnya, di dekat terowongan Kaligandu yang dekat dengan kantor Kecamatan Serang, ruas jalan Pakupatan-Penancangan yang dekat dengan kantor Kelurahan Penancangan. Kemudian, kawasan di belakang Terminal Pakupatan, ruas Jalan Banten Lama, Unyur, pertigaan Kebaharan, hingga kawasan-kawasan yang tidak jauh dari kompleks perumahan.
Data penyuluh sampah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang mencatat, volume sampah dalam sehari di Kota Serang mencapai 360 ton. Jumlah tersebut dihasilkan dari jumlah penduduk Kota Serang 645 ribu jiwa.
Kepala DLH Kota Serang Ipyanto tidak mengelak sampah menjadi masalah besar di ibukota provinsi ini. “Untuk satu hari itu ada 360 ton, yang mampu ditangani DLH hanya sebagian berkisar 70 sampai 80 ton saja,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (23/8).
Besarnya volume sampah tidak sebanding dengan jumlah armada yang hanya 29 armada. Satu armada dump truck hanya dapat melakukan dua angkut. Sementara, armada berjenis amrol hanya melakukan enam sampai tujuh angkut.
Selain keterbatasan armada, kata Ipyanto, jumlah personel teknis di lapangan juga menjadi kendala pengangkutan. “Ini tantangan dan tanggung jawab yang cukup berat yang harus saya lakukan,” katanya.
Belum lagi, jika ada event besar seperti Lebaran yang peningkatan sampah bisa 100 kubik per hari. Selain dari sampah rumah tangga, ucap Ipyanto, dari event seperti pameran, bazar, dan industri juga berdampak pada lonjakan volume sampah.
Sementara di Kabupaten Serang, volume sampah per hari berdasarkan data DLH Kabupaten Serang mencapai 762 ton. Namun, baru 276 ton yang terangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPSA). Dengan demikian, ada 486 ton sampah setiap hari yang belum tertangani.
Kepala Bidang Pertamanan dan Persampahan DLH Kabupaten Serang Toto Mujiarto mengatakan, masih terkendala jumlah armada pengangkut sampah. DLH saat ini baru mempunyai 46 armada pengangkut sampah untuk melayani 29 kecamatan di Kabupaten Serang. “Kalau idealnya 150 unit armada,” katanya.
Keterbatasan armada itu, kata Toto, menjadi salah satu faktor terbatasnya penanganan sampah di Kabupaten Serang. Namun, kata dia, penanganan sampah juga ada yang langsung dilakukan oleh masyarakat. “Memang belum semua terangkut, tapi ada sampah yang juga ditangani oleh masyarakat,” ujarnya.
Dikatakan Toto, kendala lainnya, yakni Kabupaten Serang belum memiliki TPSA sendiri. Namun, masih menumpang TPSA Cilowong di Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Pembuangan sampah ke Cilowong dibatasi hingga pukul 16.00 WIB. “Jadi kalau kita kesorean, kadang sampahnya dibawa ke kantor dulu, paginya baru dibuang ke Cilowong,” terangnya.
Begitupun di Kota Cilegon. Penanganan sampah juga belum maksimal karena ketiadaan fasilitas pengolahan sampah di TPSA di Kelurahan Bagendung. Saat ini TPSA Bagendung baru bisa menimbun sampah belum pada tahapan mendaur ulang sampah. “Harusnya sudah ada seperti di Kota Malang, di mana sampah-sampah diolah menjadi pupuk organik,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLH Kota Cilegon Teddy Soeganda, Jumat (23/8).
Sebelumnya, ada beberapa pihak swasta yang datang ke Pemkot Cilegon untuk mengajukan kerja sama pengelolaan sampah di TPSA Bagendung, tetapi kandas karena pihak swasta itu tak kembali lagi.
“Enggak tahu alasannya apa, setelah datang menyampaikan minat, kita sambut baik, tapi tidak kembali lagi,” ujar Teddy.
Produksi sampah di Kota Cilegon setiap hari mencapai 600 meter kubik. Sampah itu diangkut dari seluruh daerah di Kota Cilegon menggunakan 37 dump truck yang dimiliki DLH.
Sedangkan di Kabupaten Pandeglang, volume sampah per hari mencapai 8,4 ton. Kepala DLH Kabupaten Pandeglang Asep Rahmat mengatakan, untuk menangani sampah itu Pemkab Pandeglang hanya punya dua TPSA di Bojongcanar dan Bangkonol.
“Cuma yang di Bojongcanar sudah melebihi kapasitas sehingga perlu revitalisasi. Sementara yang di Bangkonol perlu penataan,” katanya.
Asep mengaku, instansinya hanya memiliki delapan unit truk pengangkut sampah dan 12 unit pikap. “Kendala kita ada ketidakseimbangan antara luas wilayah dengan sarana prasarana,” katanya.
Penanganan sampah di Kabupaten Tangerang juga masih menjadi masalah. Selain jumlahnya yang besar, armada pengangkut sampah belum mencukupi. “Saat ini kami memiliki 90 unit truk pengangkut sampah dan 46 unit di kecamatan. Tetapi, masih belum ideal, banyak sampah yang belum tertangani,” kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Asep Jatnika S.
Volume sampah di Kabupaten Tangerang setiap hari mencapai 2.500 ton. Angka tersebut dihitung sesuai dengan kebijakan strategi daerah (Jakstrada), yakni 0,7 kilogram sampah perorangan setiap hari dikalikan dengan jumlah penduduk 3.500 juta lebih.
“Kami akui memang belum maksimal dalam penanganan sampah, tetapi kami tetap berusaha maksimal untuk menangani sampah setiap harinya dan membuangnya ke TPA Jatiwaringin,” terangnya.
Dari informasi yang dihimpun, TPA Jatiwaringin memiliki luas wilayah 30 hektare, kini 16 hektare dari luas lahan tersebut sudah penuh sampah dengan tinggi 10-12 meter.
Di Kota Tangerang, volume sampah mencapai 1.400-1.600 ton per hari. Kepala DLH Dedi Suhada mengungkapkan, jumlah tersebut merupakan jumlah sampah yang diangkut ke TPA Rawa Kucing oleh petugas. “Itu merupakan sampah gabungan di 13 kecamatan se-Kota Tangerang,” katanya.
Untuk penanganan sampah, DLH menyiapkan, dua unit mobil penyapu otomatis, 104 gerobak sampah, 127 unit bentor, 22 unit bison, 34 unit amrol, dan 164 unit truk sampah. “Kendala saat ini membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya,” ungkap pria yang sempat menjabat kepala Dispora Kota Tangerang itu. (ken-jek-dib-bam-you-one-mg04/alt/ira)










