TANGERANG – Keripik pisang menjadi salah satu potensi andalan di Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan. Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) inilah yang tengah dikembangkan oleh pemerintah desa yang terbentuk pada 26 Februari 2000, hasil pemekaran Desa Malang Nengah tersebut.
Kepala Desa Karang Tengah Koswara (49) menyatakan, kesiapannya membantu pengembangan UMKM ini agar bisa diterima masyarakat lebih luas. ”Kita akan bantu untuk dapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan mendapatkan label halal dari MUI, agar pemasarannya bisa lebih meluas,” ujar pria penghobi motocross itu kepada Radar Banten.
Pemerintah Desa Karang Tengah, lanjut Koswara, juga akan membantu permodalan UMKM keripik pisang di desanya. Sehingga diharapkan, produksi yang dihasilkan lebih banyak. ”Sejauh ini memang dana desa kami lebih sering disalurkan untuk pembangunan infrastruktur, khususnya jalan. Tetapi, tahun ini, saya akan arahkan dana desa untuk pemberdayaan UMKM,” katanya.

Pelaku UMKM keripik pisang Mustopa (46) sedikit menceritakan usaha yang mulai digelutinya empat tahun lalu. Ia mengakui mengalami masa sulit ketika merintis usaha keripik pisang. Namun kini, dalam sehari, Mustopa mampu memproduksi 45 sampai 50 tandan pisang kepok dan pisang nangka menjadi keripik. Per bulan, omzetnya antara Rp30 juta sampai Rp35 juta. Kenaikan omzet ini membuatnya harus merekrut sembilan karyawan.
”Mayoritas karyawan kami adalah para ibu-ibu tetangga kampung. Alhamdulillah, saya dapat memberdayakan beberapa warga sekitar. Bisa untuk sedikit membantu menambah ekonomi mereka,” ujar Mustopa kepada Radar Banten di rumahnya.
Mustopa menjual keripik pisang nangka untuk 2,5 kilogram seharga Rp70.000, sedangkan 3 kilogram seharga Rp100.000. Sementara, keripik pisang kepok untuk 3 kilogram dijual Rp100.000, sedangkan per kilo dijual Rp40.000. Produksi rumahan ini mayoritas masih dipasarkan di sekitar Kecamatan Pagedangan. Yakni, Kecamatan Legok, Curug, dan Tenjo. ”Sama di Parungpanjang, Bogor, karena kebetulan dekat dengan Kecamatan Pagedangan,” paparnya.
Mustopa ingin memiliki tempat usaha sendiri di luar rumahnya. Namun, terkendala modal. Ia pun berharap agar pemerintah bisa membantunya untuk kelanjutan dan kelancaran usaha kecilnya. ”Ya, pengennya lebih banyak nambah karyawan. Cuma lahannya kan sempit karena pengolahan produksi masih di rumah,” pungkas Mustopa. (pem/rb/sub)










