TANGERANG – Kemandirian warga tercermin di Desa Jatimulya, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang. Di desa ini, ada dua perajin. Tempe dan keset dari kain perca. Mereka menjalankan usaha mendiri di rumah masing-masing.
Kepala Desa Jatimulya Rawit Bin Perang mengatakan, usaha kecil mandiri ini dilakoni sebagian warganya untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Hanya saja, diakuinya, Pemerintah Desa Jatimulya belum menginventarisasi para perajin. Terutama perajin keset, belum terdata dengan baik oleh pemerintah desa.
”Yah, kemungkinan ada belasan orang lah (perajin keset-red). Kebanyakan, mereka ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari melakukan aktivitas kerajinan tangan keset di rumahnya masing-masing,” ujar Rawit kepada Radar Banten.
Tentang perajin tempe di Desa Jatimulya masih dilakukan secara tradisional. Hasilnya pun, menurut Rawit, berbeda dengan tempe-tempe dari daerah lain. Salah satu pembeda, karena tempe dari Desa Jatimulya dibungkus menggunakan daun waru. Tidak menggunakan plastik seperti kebanyakan tempe di pasaran.
”Tempe kita ini cita rasanya, pokoknya masih tradisional lah. Namanya tempe rawa gempol. Ya beda aja sama tempe yang dibuat pakai plastik,” jelas Rawit di sela-sela kunjungan ke pembuatan tempe di Desa Jatimulya.
Sementara itu, perajin tempe rawa gempol, Hamdani (45), mengatakan bahwa ia mengolah 25-30 kilogram kedelai setiap hari. Dari jumlah kedelai ini, Hamdani menghasilkan 500 potong tempe. ”Ukuran panjang satu jengkal tangan orang dewasa. Ya biasa, ukuran tempe kampung,” ucapnya.
Hamdani menjual satu potong tempe seharga Rp1.000. ”Tempe kita dikirim ke pasar-pasar dan warung di Kecamatan Sepatan dan Sepatan Timur,” jelas Hamdani. Ia dibantu oleh dua tetangganya.
Sementara, Fitri (36), perajin keset kain perca, mengaku sudah menekuni kerajinan ini selama enam tahun. Merajut kain perca menjadi keset menjadi aktivitas sampingan. Fitri mendapatkan uang tambahan di sela pekerjaan utamanya sebagai ibu rumah tangga. Fitri menjual kesetnya Rp5.000 per buah secara eceran.
”Sehari bisa hasilkan sepuluh buah keset. Kalau dulu, bisa satu kodi (20 lembar-red) keset setiap sehari. Sekarang, kepala saya sudah agak capek kalau merajut keset. Jadi cuma sepuluh keset saja,” ungkapnya.
Desa Jatimulya memiliki luas 144,668 hektare. Jumlah jumlah penduduknya 7.663 jiwa, dengan penduduk laki-laki 4.225 orang dan penduduk perempuan 3.438 orang.
Desa ini berbatasan dengan Desa Gempolsari di sebelah Utara. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lebakwangi, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kedaung Barat, serta sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tanahmerah dan Desa Sangiang. Semua desa yang berbatasan dengan Desa Jatimulya masih masuk wilayah Kecamatan Sepatan Timur. (pem/rb/sub)









