TANGERANG – Pemerintah Desa Kosambi Timur fokus membangun drainase atau saluran pembuangan air limbah (SPAL). Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir banjir saat musim penghujan datang.
Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades) Kosmabi Timur Sunartim mengatakan, kebersihan lingkungan dan drainase menjadi sasaran utama. Pasalnya masih ada drainase yang belum terakomodir. Apalagi saluran air dengan satu kampung dengan kampung yang lain juga belum terhubung secara baik.
“Ini terus menjadi konsen Pemdes ke depan sebagai upaya membangun desa dan mencegah dampaknya seperti banjir maupun lainnya. Hambatan saat ini adalah rumah warga sudah padat, jadi kesulitan membuat drainase ataupun SPAL,” katanya, Kamis (3/10).
Sunartim menambahkan, minimnya lahan juga menambah kendala dalam pembangunan drainase desa. Meksipun ada, warga masih tidak mau untuk dibangun SPAL. “Kendalanya warga nggak mau lahan dibangun menjadi SPAL. Tapi kami akan terus melakukan sosialisasi dan pendekatan agar warga setuju,” tambahnya.
Meski begitu, dirinya mengaku saat ini ada beberapa titik SPAL yang terbangun, dan saluran air di lingkungan berjalan. Salah satunya yakni pembangunan U-ditch atau saluran beton bertulang dengan bentuk penampung huruf U yang diberi tutup di RT 18 dengan panjang sekira 166 meter. Untuk itu secara keseluruhan, lanjut Sunartim, dirinya mengklaim pembangunan infrastruktur fisik sudah mencapai 80 persen.
“Tidak hanya U-ditch, tapi juga meliputi betonisasi dan paving block jalan lingkungan. Jadi sekarang hampir semua jalan sudah bagus, rapi dan tidak becek,” ungkapnya.
Selain membangun drainase, untuk menangani persoalan sampah, Pemdes berencana akan membuat tempat pembuangan sampah sementara (TPSS). Hal itu agar masing-masing wilayah memiliki gerobak motor (germo) untuk mengangkut sampah-sampah warga, dikumpulkan dan dibuang ke TPSS. Selain itu, nantinya masyarakat bisa mengepul sisa-sisa bahan yang bisa didaur ulang sehingga membantu meningkatkan ekonomi.
Tetapi meski begitu, rencana tersebut belum bisa terealisasi dalam waktu dekat lantaran tidak adanya lahan. Mengingat, lokasi wilayah Desa Kosambi Timur saat ini sudah didominasi pergudangan dan industri. “Memang kendalanya saat ini masih terkendala lahan. Ada lahan yang kosong, tapi berhimpitan dengan penduduk, tentu dikhawatirkan akan mengganggu warga nanti. Sementara itu, juga terkendala penganggaran pembelian lahan, karena belum disetujui,” akunya.
Pria berkacmata itu berharap, rencana program tersebut bisa diteruskan dan direalisasikan pada pimpinan kepala desa definitif nanti. Terutama soal meminimalisir banjir di lingkungan desa. “Lewat pembangunan U-ditch, SPAL, dan penanganan sampah, bisa meminimalisir banjir yang jadi rutinitas saat musim hujan. Dengan begitu warga tetap beraktivitas seperti biasa meski musim penghujan datang karena tidak lagi banjir,” tutupnya. (pem/rb/adm)









