Keputusan Popi (36) nama samaran menikah muda dengan kekasihnya, sebut saja Juned (37), ternyata menciptakan masalah baru dalam hidup. Tidak kuat menanggung beban ekonomi, mereka berpisah. Popi pun jadi TKI ke Timur Tengah, tujuh tahun bekerja, pulang jadi orang kaya. Eh Juned kembali mengajak rujuk memulai semuanya dari awal. Apakah Popi akan menerimanya? Penasaran kan, yuk simak ceritanya.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Lebakwangi, siang itu Popi sedang menyapu halaman rumah. Ketika diajak mengobrol, Popi malah curhat soal masa lalunya bersama Juned.
Popi mengaku, sering teringat perjuangannya dulu bekerja di Timur Tengah penuh tantangan. Mulai dari mendapat perlakukan kasar majikan sampai disukai anak majikan dan diajak menikah. Tapi Popi fokus menabung untuk masa depan di kampung halaman. “Wah, kalau mau mah, mungkin saya udah jadi istri orang sana,” katanya.
Diceritakan Popi, Juned ialah kakak kelasnya waktu masih duduk di bangku SMA. Sejak pertama kali bertemu, ia langsung jatuh cinta. Maklumlah, Juned termasuk tampan dan jagoan kelas waktu itu. Wibawanya di mata teman-teman dihormati.
Apalagi Juned juga berprestasi di bidang olahraga. Dia sering menjadi perwakilan sekolah dalam ajang perlombaan tingkat kabupaten. Baik olahraga sepak bola, tenis, atau voli. Tidak heran Juned punya badan atletis, membuat cewek-cewek satu sekolah pada klepek-klepek.
Termasuk Popi, dulu juga sangat mengidolakan Juned. Padahal, Popi juga tidak kalah populer dari Juned. Meski tidak dianugerahi wajah cantik dan kulitnya tidak putih, tetapi Popi juga siswi berprestasi di bidang akademik. Karena waktu itu mereka sering diundang kepala sekolah makan di rumah, keduanya pun dekat dan akhirnya pacaran.
Setelah lulus, mereka sepakat langsung menikah. Meski awalnya para guru meminta Juned dan Popi melanjutkan kuliah, tetapi keputusan sudah bulat, pernikahan pun berlangsung meriah. “Habis kelamaan pacaran, terus orangtua juga setuju, ya udah nikah,” ungkapnya.
Mengawali rumah tangga, mereka tinggal di rumah mempelai wanita. Awalnya tidak ada masalah dalam mahligai rumah tangga mereka, semua berjalan lancar. Apalagi dulu Juned jadi karyawan pabrik, ekonomi mencukupi. Setahun kemudian mereka dikaruniai anak pertama.
Di tahun kedua, Juned dan Popi nekat membangun rumah padahal modalnya belum cukup. Soalnya, tanah pemberian orangtua terancam dijual jika tidak segera digunakan. Biasalah, katanya sih, ada perebutan harta warisan di keluarga Popi. “Supaya aman, jadi minimal bikin fondasi dulu,” katanya.
Tapi lama-kelamaan, uangnya habis untuk pembangunanan rumah yang tak beres-beres. Keadaan semakin parah saat Juned sudah tidak bekerja karena habis kontrak. Sejak itu keributan mulai muncul di antara mereka. Karena masih terlalu muda dan sama-sama belum bisa mengontrol emosi, kata perceraian pun keluar dari mulut Juned. “Pusing, Kang. Memang sudah ngerasa capek banget ngejalaninnya,” keluh Popi.
Sejak itu, Popi pun mulai mengurus persyaratan jadi TKI. Sebulan setelah cerai, Popi terbang ke Timur Tengah. Selama di luar negeri, Popi jarang berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Waktu itu kondisinya memang sedang panas karena perebutan harta warisan. “Paling nelepon ke ibu, itu juga dua bulan sekali,” akunya.
Katanya, selama tujuh tahun itu, Popi hanya pulang dua kali. Ia benar-benar fokus menabung untuk masa depan. Sampai akhirnya ia pulang dengan segudang impian, mulai dari membeli sawah, membangun rumah, membeli mobil, sampai membangun warung untuk usaha. Popi jadi orang kaya.
Tidak lama kemudian ia bertemu lagi dengan Juned. Karena waktu itu Popi masih sendiri, akhirnya ia pun menerima ajakan Juned menikah lagi dan memulai rumah tangga yang baru. “Alhamdulillah sekarang harmonis dan sudah punya anak tiga,” ungkapnya.
Semoga langgeng selamanya ya, Amin. (mg06/zee/ags)










