TANGERANG- Asri dan sejuk. Kondisi udara di Desa Mekarwangi itu mendukung pertanian sayur di salah satu desa di Kecamatan Cisauk tersebut. Hal ini membuat Pemerintah Desa Mekarwangi mencoba mengembangan pertanian kangkung, bayam, dan sayur jenis lain tahun ini.
”Di desa kami, tanahnya masih subur-subur. Di sini (Desa Mekarwangi-red) ada 1.120 rumah tangga petani (dari 2.009 tenaga kerja produktif di Mekarwangi-red). Desa kami memiliki potensi untuk pengembangan pertanian tanaman pangan. Tidak cuma padi atau sawah, di sini juga banyak pertanian sayur seperti kangkung dan bayam, ubi-ubian, dan lainnya. Kangkung di desa kami sudah dikirim ke Parung Panjang, Kabupaten Bogor,” jelas Kepala Desa Mekarwangi Asep kepada Tim Saba Desa Radar Banten di Kantor Desa Mekarwangi, di Kampung Cilegong, Selasa (16/4).
Desa Mekarwangi memang cukup asri. Tim Saba Desa Radar Banten merasakannya. Bagian Selatan desa ini, berbatasan langsung dengan Desa Mekarsari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Sementara, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Jatake, Kecamatan Pagedangan. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Dangdang, Kecamatan Cisauk.
Di desa ini, ada 135 hektare lahan pertanian. Kendati sebagian lahannya digunakan untuk menanam sayur, mayoritas petani di Mekarwangi masih memanfaatkan lahannya untuk menanam padi. Sawahnya tadah hujan.
”Yang dominan memang padi, dengan luas lahan kurang lebih 130 hektare. Satu hektarenya mampu menghasilkan minimal 3,7 ton padi. Tetapi sayur-mayur juga cukup produktif,” jelas Asep.
Untuk meningkatkan produksi pertanian, tahun 2018, Pemerintah Desa Mekarwangi memberikan pelatihan peningkatan mutu dan kesejahteraan penyuluhan pertanian. Kegiatan ini, Asep menyebutkan, menggunakan anggaran desa senilai Rp52 juta.
”Dari anggaran itu, kami juga memberikan tambahan pupuk dan bibit untuk membantu meringankan beban pengeluaran para petani. Itu anggarannya dari Dana Desa,” terang Kepala Desa Mekarwangi sejak 2013 itu.
Untuk memajukan desanya, menurut Asep, pemerintahannya juga telah menganggarkan pembangunan fisik senilai Rp1,377 miliar pada 2018. Anggaran itu telah digunakan untuk membangun tujuh unit sarana mandi, cuci, kakus (MCK) dan saluran air bersih (SAB).
”Untuk MCK dan SAB, kita anggarkan Rp273 juta. Kita juga bangun jalan lingkungan dengan panjang 1.839 meter. Total anggarannya Rp741 juta. Lalu, kita lakukan pembangunan saluran pembuangan air limbah (SPAL) senilai Rp186 juta. Dan yang terakhir, pembangunan pemeliharaan kantor desa sebesar Rp155 juta,” ungkap Asep.
Asep mengakui bahwa perkembangan sebuah desa bisa dilihat dari hasil pembangunan. Karenanya, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat Mekarwangi yang telah membantu menyukseskan pembangunan di desanya.
”Semoga, pembangunan di Desa Mekarwangi dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, di Desa Mekarwangi khususnya dan umumnya untuk masyarakat di luar Desa Mekarwangi,” pungkas Asep. (pem/rb/sub)










