TANGERANG – Pohon rumbia atau kirai masih banyak ditemukan di Desa Jengkol, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Daun pohon tersebut yang kini dimanfaatkan banyak warga desa untuk dibuat kerajinan tradisional berupa atap rumah atau gubuk semi permanen.
Hal itu dikatakan, Penjabat Kepala Desa (Pj Kades) Jengkol Muhtar saat ditemui di kantornya, Rabu (20/11). Menurutnya saat in ada sekira 100 kepala keluarga (KK) menjadi pengrajin atap anyaman daun kirai yang tersebar di sejumlah RT, di antaranya di Kampung Panameng RT 03 RW 05.
“Usaha kerajinan tangan atap anyaman daun kirai ini merupakan turun menurun dari nenek moyang (warga-red). Hal itu lantaran dulu sampai sekarang pohon kirai masih banyak tumbuh. diperkirakan ada dua hektare luas lahan yang ditumbuhi pohon kirai,” tuturnya.
Muhtar menambahkan, atap anyaman daun kirai hasil warganya juga banyak diminati dan dipasarkan ke pengusaha kandang ayam di berbagai kecamatan di Kabupaten Tangerang. Namun sayang masih ada kendala pengrajin, yakni pemasarannya yang masih kurang, dan belum ke kota-kota lainnya.
Sementara itu, salah seorang pengrajin atap anyaman kirai di Kampung Panameng RT 03 RW 05 Janah mengaku, setiap hari selalu mendapat pesanan atap semi permanen. “Alhamdulillah walau enggak banyak, tapi setiap harinya ada saja yang pesen,” akunya saat ditemui di rumahnya.
Janah menjelaskan, proses pembuatannya dimulai dari pemotongan daun kirai yang diambil dari kebun. Ketika akan dianyam, daun kirai diikat ke potongan bambu berukuran 1,5 meter. Kemudian mulai dianyam. Dalam sehari, Janah bisa membuat 15 sampai 20 lembar atap kirai.
Atap anyaman kirai dijual dengan harga Rp2.500 per lembar. Soal kualitasnya, lanjut Janah, atap kirai semakin kering akan semakin kuat dan anti bocor. Maka itu, sebagian besar pembeli memilih atap yang sudah kering. (pem/rb/adm)








