SERANG – Keberadaan terminal di kabupaten kota punya nilai strategis. Selain sebagai tempat berlabuhnya kendaraan, terminal juga menyumbang pendapatan bagi daerah. Namun, fasilitas yang minim membuat terminal kurang berfungsi yang menyebabkan sumber pendapatan asli daerah (PAD) pun melayang.
Di Kota Serang, berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Serang, ada tiga terminal tipe C yang menjadi kewenangan Pemkot Serang. Yaitu Terminal Kepandean, Terminal Cipocokjaya, dan Terminal Rau.
Sekretaris Dishub Kota Serang Herunajaya mengaku meskipun belum optimal tapi ketiga terminal itu sudah beroperasional. “Seharusnya untuk AKDP (angkutan kota dalam provinsi-red) terminal tipe B, tapi karena belum ada, jadi kami fungsikan yang ada saja,” terangnya kepada Radar Banten, Minggu (23/2).
Lantaran belum optimal, Heru mengungkapkan, PAD dari retribusi terminal belum banyak. Dari target yang puluhan juta rupiah, pihaknya belum mampu mencapainya. Untuk mengoptimalkan terminal terlebih dulu melakukan penertiban trayek dan peningkatan fasilitas di dalam terminal.
Seperti diketahui, Terminal Cipocokjaya seharusnya menjadi tempat pemberhentian angkutan kota ke arah Kabupaten Serang untuk daerah Petir, Kabupaten Serang. Namun, berdasarkan pantauan Radar Banten, terminal di Jalan Ki Ajurum itu lebih sering menjadi tempat parkir saja. Sedangkan, angkutan dari Kabupaten Serang lebih sering menaikturunkan penumpang di Warung Pojok dan tidak masuk terminal. Hal serupa juga terjadi di Terminal Kepandean. Sempat gencar diaktifkan kembali, tetapi terminal itu kurang optimal. Angkutan kota ke arah dan dari Kota Cilegon lebih sering menaikturunkan penumpang di luar terminal.
Sementara Kabupaten Serang memiliki tiga sub terminal yakni Terminal Cikande, Terminal Tanara, dan Terminal Anyar. Sedangkan satu lagi yakni Terminal Tunjungteja belum diresmikan.
Pantauan Radar Banten di Terminal Tanara, Minggu (23/2) siang, tidak ada angkutan umum yang masuk. Suasana terminal tampak sepi. Fasilitas terminal pun masih sangat minim.
Kepala Dishub Kabupaten Serang Hedi Tahap mengakui, terminal belum maksimal karena beberapa faktor seperti lokasi yang kurang strategis dan belum ada trayek angkutan. “Memang terminal belum berfungsi dengan maksimal,” kata Hedi di ruang kerjanya, Jumat (20/2).
Dijelaskan Hedi, penyebab kurang maksimalnya fungsi di Terminal Cikande lantaran lokasi berada di dekat perumahan sehingga aksesnya jauh dari pusat keramaian. Hal serupa juga terjadi pada Terminal Tanara yang lokasinya di areal persawahan. “Para pengusaha angkot belum tertarik untuk membuat trayek ke Terminal Tanara,” ujarnya.
Angkutan di wilayah Tanara yang juga berbatasan dengan Kabupaten Tangerang, kata Hedi, lebih memilih menjalankan trayeknya hingga ke Desa Sujung, Kecamatan Tirtayasa, ketimbang ke Terminal Tanara. Namun, Pemkab Serang sudah melakukan upaya memberikan fasilitas transportasi untuk warga terutama pelajar. “Kami sediakan enam unit mobil untuk pelajar yang rumahnya jauh dari sekolah,” kata Hedi. Sedangkan Terminal Kecamatan Anyar, kata Hedi, lokasinya sudah strategis di dekat areal Pasar Anyar, namun sampai saat ini tidak ada angkutan umum yang masuk. Terminal malah dipenuhi pedagang kaki lima (PKL). “Banyak PKL-nya, tapi kita sudah sering berkoordinasi dengan pedagang di sana,” ujarnya.
Belum maksimalnya fungsi terminal, diakui Hedi, membuat target PAD dari terminal tidak terpenuhi. Pada 2019 dari target PAD Rp30 juta hanya mampu Rp10 juta. “Pencapaiannya hanya 30 persen,” ungkapnya.
Solusinya, kata Hedi, akan terus mengerahkan petugas mengatur lalu lintas angkut umum agar membuat trayek melewati terminal. Ia optimistis tahun ini bisa memaksimalkan potensi empat terminal di Kabupaten Serang.
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) pada Dishub Kota Cilegon Hendra Pradipta menjelaskan, di Kota Cilegon terdapat satu terminal dan tiga sub terminal yang dikelola Pemkot Cilegon. Keempatnya yaitu Terminal Seruni, Sub Terminal Pasar Kranggot, Sub Terminal Pasar Merak, dan Sub Terminal Pasar Blok F.
Menurut Hendra, sumbangsih PAD empat terminal dan sub terminal itu belum optimal. “Baru Rp60 juta per tahun, itu juga dari Terminal Seruni dan Sub Terminal Pasar Kranggot,” katanya. Kata Hendra, jika optimal seharusnya menyumbang PAD hingga Rp1 miliar per tahun.
Ada beberapa yang membuat terminal dan sub terminal belum memberikan sumbangsih PAD salah satunya bus AKAP yang belum masuk ke Terminal Seruni. “Tahun ini ada rencana untuk penataan jaringan trayek angkutan kota, dengan rencana itu semoga bisa mendongkrak PAD,” ujarnya. (nna-bam-mg06/alt/ags)








