Mereka sempat pacaran selama setahun, saat itu Usep sebenarnya sadar dengan sikap cerewer istrinya. Tapi karena sudah merasa nyaman, Usep pun tak mau ambil pusing, apalagi orangtua juga sudah memintanya untuk menikah.
Mereka menikah dengan pesta meriah. Banyak tamu undangan datang, acara pun ramai dari pagi hingga malam. Usep dan Inem terlihat bahagia duduk di pelaminan.
Malam pertama mereka penuh dengan nuansa cinta, dinding-dinding kamar dirias denga bunga, kasurnya pun empuk, membuat Usep lebih leluasa melakukan serangan. “Manteplah pokoknya mah, jadi pengen ngerasain malam pertama lagi saya,” ungkapnya.
Awal rumah tangga mereka tak ada masalah, semua tampak bahagia. Mereka juga mulai membeli rumah pribadi, meski masih mencicil, tapi bisa terpenuhi. Tiga tahun kemudian mereka sudah punya tiga anak. “Alhamdulillah lancar sih awal-awal mah,” katanya.
Sampai akhirnya, setelah sekian tahun bersama, sifat cerewet Inem mulai terasa. Semakin lama semakin menjadi-jadi, apalagi saat Usep memaksa membeli mobil, setiap bulan harus setoran. Akibatnya, jatah keuangan Inem untuk belanja dan beli mekup harus berkurang. “Ya udah dia setiap hari ngomel mulu, apa aja diomongin,” katanya.
Belum lagi, kalau sudah tanggal tua, setiap ada di rumah, pasti ada keributan. Kalau sudah begitu, Usep memilih pergi membawa mobilnya. “Yaudah deh saya daftar gocar aja, sambil cari angin, lumayan dapat uang buat setor ke istri biar enggak ngomel mulu,” ungkapnya.
Semangat ya, Kang. (drp/alt)










